Rabu Biasa

14 Oktober 2026

Hari Rabu yang biasa. Mirip dengan Rabu lalu.

Pagi ini sebenarnya ada rencana kegiatan bersama pimpinan di BPK Kaltimtara. Namun, ada rapat keuangan yang harus diikuti. Pembahasannya masih seputar realisasi anggaran menjelang akhir tahun.

Sepertinya kami harus mulai bersiap. Efisiensi mungkin akan datang lagi. Seperti tahun-tahun sebelumnya.

Ada beberapa disposisi yang masuk. Semuanya saya teruskan kepada Kepala Bagian Umum untuk ditindaklanjuti.

Siang hari, saya makan pentol. Saya juga membeli dua potong ayam goreng tepung. Namun, pentolnya sudah membuat kenyang. Ayamnya pun tidak jadi saya makan.

Saya juga memesan peyek melalui salah seorang staf. Peyeknya enak. Renyah. Kriuknya pas.

Siang ini saya menerima tiga mahasiswa untuk bimbingan. Dua mahasiswa sedang mempersiapkan seminar proposal. Satu mahasiswa sudah selesai seminar proposal dan sedang melakukan perbaikan.

Saya memintanya menyelesaikan satu contoh analisis data terlebih dahulu. Jika contoh itu sudah tepat, barulah saya memintanya menganalisis seluruh data. Lebih baik memastikan langkah awalnya benar agar tidak perlu mengulang semuanya.

Hari ini juga ada dosen yang berulang tahun. Saya mendapat es cokelat dan kue. Kuenya enak. Tidak terlalu manis.

Sore hari, saya pulang lebih cepat. Anak kedua mengirim pesan melalui WhatsApp. Ia meminta saya segera pulang karena listrik di rumah padam. Sementara itu, istri harus menjemput anak pertama.

Sesampainya di rumah, listrik masih padam. Saya menunggu istri pulang bersama anak pertama. Kemudian, saya meminta dibuatkan kentang goreng.

Beberapa hari ini saya berhenti menggunakan kaldu jamur. Katanya, kandungan natriumnya cukup tinggi. Jadi, kentang itu hanya saya beri garam.

Ternyata tetap enak.

Malamnya, saya makan masakan istri. Menunya bermacam-macam. Ada oseng mihun dengan buncis, ayam bakar bacem, tempe bacem, paru goreng, dan sambal.

Semuanya enak.

Listrik bisa padam, selera makan menyala terus. 

Takut Influenza

13 Oktober 2026

​Hari ini adalah hari Selasa. Biasanya saya ada jadwal mengajar pada hari ini. Namun, dosen pengajarnya sudah berganti setelah ujian tengah semester. Pagi ini saya mengawalinya dengan meminum kopi dingin. Rasanya sungguh segar.

​Agenda pagi ini adalah menguji mahasiswa yang sedang ujian seminar hasil (semhas). Saya memberikan beberapa masukan untuk perbaikan. Meskipun begitu, sebagai penguji, saya membiarkan dosen pembimbingnya yang memutuskan hasil akhirnya. Setelah itu, saya lanjut melayani mahasiswa bimbingan. Progresnya sudah bagus dan sedikit lagi bisa maju seminar proposal (sempro).

​Hari ini anak pertama saya sedang kurang enak badan. Ia sampai harus izin tidak masuk sekolah. Katanya, badannya terasa pegal dan kepalanya pusing. Saya sangat khawatir karena di media sosial sedang ramai tentang wabah Influenza Tipe A. Saya terus memantau kondisinya melalui pesan WA. Syukurlah, siang harinya ia mulai merasa agak mendingan. Ia menitip pesan untuk dibelikan mi ayam yamin kesukaannya. Sore harinya pesanan itu ia makan, tetapi porsinya tidak habis.

​Saya sendiri tidak ikut membungkus mi ayam yamin tersebut. Sebab, rasa mi ini memang kurang cocok di lidah saya. Siang tadi saya justru memesan Indomie di kampus. Saya memesan satu Indomie rebus dan satu Indomie goreng sekaligus. Perut saya bahkan masih terasa kenyang saat sampai di rumah pada sore hari.

​Anak kedua saya besok akan mengikuti kunjungan wisata dari sekolah. Oleh karena itu, sehabis magrib kami pergi berbelanja ke Era Mart. Kami membeli berbagai macam jajanan seperti sushi, chiki, dan Yakult. Semua itu dipersiapkan untuk bekal sangu besok.

​Malam ini saya kembali makan berlauk limpa goreng. Rasanya benar-benar enak pol. Hidangan ini disajikan bersama oseng-oseng kangkung. Alhamdulillah, rasanya sangat nikmat dan perut pun kenyang.

​Khawatir setengah mati terhadap ancaman virus influenza yang sedang viral, tetapi ancaman kesehatan dari gabungan porsi ganda Indomie dan limpa goreng justru lupa. Lupa akibat limpa. 

Realisasi Limpa

12 Oktober 2026

​Hari ini ternyata masih berasap. Beberapa waktu lalu Samarinda sempat diguyur hujan. Saya kira urusan asap ini langsung beres. Ternyata masalah ini belum sepenuhnya hilang.

​Pagi ini saya sampai di kantor. Saya langsung meminum es kopi Kapal Api. Hari ini ada kunjungan tamu dari RS Gigi dan Mulut Unmul. Mereka mengadakan sosialisasi dan promosi pelayanan medis. Saya memberikan sambutan dan bertanya sedikit. Saya menanyakan urusan tarif dan isu yang beredar. Kabarnya, pasien di RS kampus ditangani oleh mahasiswa semester awal. Tentu saja hal itu tidak mungkin terjadi. Mereka harus lulus dahulu sebelum bisa memegang pasien.

​Selesai acara, saya bergegas menuju kelas. Saya masuk kelas agak terlambat. Hari ini saya mengajar mata kuliah Metopen. Materinya masih tentang latar belakang. Saya mengecek hasil tulisan mahasiswa. Sayangnya, kualitas tulisan mereka masih jauh dari standar minimum proposal skripsi.

​Selesai mengajar, saya menyambung beberapa kali rapat keuangan. Saat ini sudah mendekati akhir tahun. Oleh karena itu, realisasi anggaran perlu menjadi perhatian utama.

​Hari ini kegiatan saya berlangsung padat dan menyambung terus. Akibatnya, saya sampai lupa makan. Sore harinya, saya pulang dan langsung makan. Istri memasak sop daging dan limpa goreng. Limpa ini adalah jeroan sapi yang paling saya suka. Jika membeli coto Makassar, saya biasanya memesan campuran limpa dan daging. Sebetulnya saya hanya ingin memesan limpa saja. Tetapi, kalau pesan limpa saja, porsi yang didapat malah sedikit. Makan sore ini terasa sangat enak dan mengenyangkan.

​Malam ini saya berencana pergi ke Era Mart. Lusa anak saya ada kegiatan piknik ke Anggana. Jadi, dia perlu bekal camilan selama kegiatan tersebut.

​Realisasi anggaran kampus selalu dituntut maksimal, seperti limpa di coto. 

Indomie Rebus

11 Oktober 2026

​Hari ini adalah hari Minggu. Seharusnya ini adalah hari libur. Pagi ini saya menikmati kopi V60. Namun, saya lupa apa nama biji kopinya. Saya sibuk mengerjakan revisi dari hasil seminar hari Jumat kemarin. Selain itu, saya juga menyambi mengoreksi skripsi mahasiswa.

​Siang harinya, saya bergegas pulang. Istri menitipkan pesan untuk dibelikan lumpia panas di Jalan Juanda. Sayangnya, saya benar-benar kelupaan. Sebagai gantinya, saya membeli milk tea di Momoyo. Sebenarnya, saya jarang menyetujui pembelian minuman ini. Sebab, saya memang membatasi konsumsi gula untuk anak-anak. Sekalian membeli Momoyo, saya juga membungkus nasi padang. Saya membelinya di warung Jalan Antasari seharga 25 ribu rupiah. Lauk pilihan saya adalah ayam gulai dan perkedel kentang.

​Sesampainya di rumah, anggota keluarga yang lain asyik meminum milk tea. Sedangkan saya langsung menyantap nasi padang tadi. Selesai makan, saya berencana membaca buku Translation and Philosophy. Sepertinya isi buku ini sangat berat.

​Setelah membaca, saya menyempatkan diri untuk merapikan lemari. Berkas-berkas yang berantakan akhirnya kembali rapi. Kemudian, saya pergi ke Indomaret untuk membeli air galon. Biasanya saya selalu menggunakan layanan pesan antar. Tetapi, stok galon di pusatnya ternyata sedang kosong.

​Malam ini, saya tiba-tiba sangat kepingin makan Indomie rebus.

​Gula anak-anak ketat dibatasi, tetapi bapaknya tidak. 

Setop Kaldu Jamur

10 Oktober 2026

​Hari ini adalah hari Sabtu. Seharusnya ini menjadi hari libur. 

Awalnya, saya berencana untuk mengopi di kafe. Namun, rencana tersebut akhirnya batal. Pagi ini saya justru harus mengerjakan validasi akreditasi. Ada data yang telat muncul di sistem. Oleh karena itu, berkasnya baru bisa dicek dan divalidasi hari ini.

​Sekitar jam sepuluh, saya sarapan. Saya meminta istri untuk membuatkan pecel. Kebetulan, saya sedang sangat ingin makan rebusan pare. Kemudian, istri menambahkan kembang turi dan bayam. Selain itu, istri juga menggorengkan ayam. Selesai makan, saya langsung tidur siang. Saat saya terbangun, istri ternyata sudah membelikan gorengan tahu isi sayur.

​Sementara itu, anak pertama saya ada kegiatan di sekolah. Ia harus praktik menyembelih ayam sekaligus memasaknya. Ia baru tiba di rumah pada jam enam sore.

​Sehabis magrib, saya menggoreng telur dadar. Telur ini dimasak untuk lauk tambahan pecel. Mulai minggu ini, saya berencana menyetop penggunaan kaldu jamur. Sebab, informasi di media sosial menyebutkan kandungan natriumnya sangat tinggi. Jadi, bumbu telur kali ini diganti dengan garam, micin, dan kecap asin. Ternyata, rasanya tetap enak.

​Malam harinya, anak-anak minta dibelikan kebab. Istri juga menitip pesan untuk dibelikan sarabba. Sedangkan saya sendiri memilih untuk membeli martabak telur. Alhamdulillah, semua makanannya enak dan perut pun kenyang.

​Kaldu jamur boleh disetop demi kesehatan, tetapi martabak telur tetap jalan terus.

Lapar Seminar

9 Oktober 2026

​Hari ini adalah hari Jumat. Suasana pagi ini terasa agak ribet. Saya harus mengantar anak sekolah sambil membawa jas. Sesampainya di kantor, saya langsung menyiapkan laptop. Perangkat ini digunakan untuk presentasi. Namun, saya menyempatkan diri untuk minum es kopi Kapal Api terlebih dahulu.

​Agenda pagi ini adalah seminar kemajuan ketiga. Saya mempresentasikan kemajuan tulisan disertasi saya. Saya menerima banyak masukan. Catatan tersebut diberikan oleh promotor dan kopromotor. Semuanya akan menjadi bahan revisi selanjutnya.

​Sebelum waktu Jumatan tiba, saya memutuskan untuk pulang. Saya merasa sangat capek karena seminar ini. Di perjalanan, saya mampir membungkus gorengan di dekat flyover. Sesampainya di rumah, saya langsung memakannya. Momennya pas bertepatan dengan azan salat Jumat. Selesai Jumatan, saya lanjut makan siang. Istri sudah menyiapkan ayam goreng dan pecel. Alhamdulillah, perut saya sangat kenyang.

​Sehabis makan, saya pun tertidur pulas. Saya baru terbangun pada sore hari. Setelah bangun, saya langsung makan lagi. Kali ini, istri memasak ikan asin coan-coan. Menu pecel dan ayam goreng siang tadi juga masih tersedia.

​Malam harinya, saya keluar untuk mencari makan. Saya membeli capcay kuah, mi goreng, dan nasi goreng. Rasa capcay kuahnya enak. Namun, rasa mi dan nasi gorengnya sungguh biasa saja.

​Otak lelah menampung revisi disertasi, tetapi perut tak lelah menampung makanan.

Mitos Koki

8 Oktober 2026

​Hari ini terasa sangat kepagian. Pagi ini ada acara uji publik Magister Linguistik fakultas. Jadwal acaranya pukul setengah sembilan. Selesai mengantar anak, rasanya nanggung jika harus pulang dulu. Oleh karena itu, saya mampir mengopi di Alfamart sambil menunggu jam delapan lewat.

​Setibanya di lokasi, acara molor seperti biasa. Kegiatan baru dimulai pada jam sembilan. Acara ini merupakan diskusi dengan pihak eksternal. Kami sangat mengharapkan masukan dari pihak luar terhadap prodi baru FIB Unmul ini. Rencananya, program magister ini akan mulai menerima mahasiswa baru pada tahun depan.

​Menu makanan hotel selalu saja kurang cocok di lidah saya. Saya kadang bingung melihat iklan makanan yang membanggakan koki mantan chef hotel. Padahal, masakan hotel sering kali kalah telak dari warteg pinggir jalan. Masakan yang jarang cocok ini justru dijadikan nilai jual. Saya sering heran saat menyantap makanan hotel. Apakah mereka tidak memakai bawang putih, atau hanya mengandalkan saus botolan saja? Namun, mungkin ini murni masalah selera lidah saya.

​Acara ini sebenarnya direncanakan selesai agak sore. Tetapi, karena intensitas masukan yang padat, acara bisa selesai lebih siang. Masukan-masukan ini langsung kami tampung. Setelah ini, kami akan merapatkannya kembali. Tahap selanjutnya tentu saja adalah promosi tentang keberadaan Magister Linguistik ini.

​Selesai acara, saya bergegas pulang. Istri saya rupanya sudah menyiapkan masakan permintaan saya. Beberapa waktu lalu, saya menonton video TikTok orang makan kepala ayam. Akibatnya, saya jadi sangat menginginkannya hari ini. Lauk ini disajikan bersama sayur bening bayam manis khas Solo dan sambal bawang.

​Reputasi koki hotel ternyata tetap takluk oleh pesona kepala ayam.

Mangut Kemarin

7 Oktober 2026

​Hari ini adalah hari Rabu. Pagi ini saya sudah tiba di kantor. Saya mengawalinya dengan meminum es kopi Kapal Api. 

Setelah itu, saya mengikuti rapat terjadwal bersama staf keuangan. Rapat ini berlangsung hingga siang hari. Kami fokus mengecek realisasi anggaran. Saat ini sudah masuk bulan kesepuluh. Oleh karena itu, kami harus memastikan realisasi terserap maksimal hingga akhir tahun.

​Siang harinya, saya menghadap Dekan. Saya melaporkan hasil rapat keuangan tadi. 

Kemudian, saya menyantap makan siang. Menunya adalah mangut lele masakan istri dari kemarin. Rasanya masih sangat enak. Bahkan, bumbunya terasa semakin meresap dan nikmat.
​Selanjutnya, saya mengerjakan disposisi surat masuk dari Dekan. Saya juga memberikan paraf pada beberapa dokumen. Setelah itu, saya kembali menyicil koreksian ujian mid. Saya sebenarnya ingin lanjut mengerjakan validasi hasil akreditasi tahap tiga. Sayangnya, file tersebut ada di laptop rumah. Kemarin saya lupa memindahkannya ke OneDrive.

​Akhirnya, saya pulang ke rumah. Sore harinya, saya makan ikan patin bakar dari Warung H. Ijay. Warung ini sangat saya rekomendasikan di Samarinda. Harganya tergolong standar dan cenderung murah dibandingkan tempat lain. Anak saya sangat menyukai sup patinnya. Sedangkan saya sangat menikmati sambal ikan bakarnya. Rasanya pedas manis dan sungguh enak.

​File akreditasi boleh saja tertinggal di memori laptop rumah, asal tidak tertinggal di memori masa lalu. 

Lele AI

6 Oktober 2026

​Hari ini adalah hari Selasa. Sayangnya, saya masih mendengar berita kebakaran di sekitar Samarinda.

​Pagi ini, ada lanjutan acara reviu internal dari kemarin. Agendanya adalah persiapan pembukaan prodi baru Magister Linguistik. Oleh karena itu, kami mengundang pihak LPMPP Unmul. Berkas sudah selesai direviu. Selanjutnya, draf tersebut harus segera direvisi lagi.

​Siang harinya, kegiatan pun selesai. Setibanya di meja kantor, saya langsung menyantap bekal dari istri. Menunya adalah hidangan favorit saya, yakni mangut lele. Sebetulnya, saya mendapat makan siang kotakan. Lauknya cukup mewah berisi daging dan udang. Namun, saya tetap teguh memilih mangut lele. Selesai makan, saya langsung mengikuti rapat terbatas bersama Dekan. Rapat ini membahas serapan keuangan menjelang akhir tahun. Artinya, realisasi anggaran harus segera dieksekusi.

​Setelah rapat, saya menyicil koreksian ujian mid ITS. Totalnya ada empat kelas. Tetapi, saya baru sanggup menyelesaikan sampai kelas ketiga. Hari ini juga ada lembar disposisi dari Dekan. Selain itu, saya menyempatkan diri mengoreksi skripsi mahasiswa bimbingan. Di zaman kecerdasan buatan ini, tugas mengoreksi skripsi terasa makin berat. Beberapa tahun lalu, dosen dipusingkan oleh masalah plagiarisme. Sekarang, tantangan barunya adalah AI writing. Ide skripsi mahasiswa malah menjadi aneh-aneh. Sebab, saran dari mesin sering kali berbelit dan terlalu rumit.

​Menjelang sore, saya terpaksa pulang agak cepat. Hal ini terjadi karena kampus tiba-tiba mati lampu. Bahkan, baterai HP saya sampai mati total. Sesampainya di rumah, saya memakan mangut lele lagi. Rasanya sungguh tidak bosan-bosan. Sementara itu, nasi kotak dari kantor saya berikan kepada anak kedua. 

Malam harinya, saya makan camilan roti canai. Istri membeli yang sudah jadi, sehingga tinggal dipanaskan saja. Istri juga mengukus tahu bakso stok kulkas untuk teman bersantai. Sedangkan anak-anak makan malam dengan menu nasi goreng.

Karena bukan ori, apakah kecerdasan buatan itu barang KW? 

Review Mie

5 Oktober 2026

Hari ini adalah hari Senin. Pagi ini saya ada jadwal kelas Metodologi Penelitian. Saya sudah bersiap untuk mengajar. Materi juga sudah siap. Tetapi, tiba-tiba ada pesan WhatsApp yang masuk. Pesan itu mengingatkan tentang agenda review internal kurikulum prodi Magister Linguistik. Sehingga, rencana saya pagi ini langsung berubah.

Saya harus menghadiri review kurikulum terlebih dahulu. Akibatnya, saya terlambat masuk kelas. Saat review kurikulum, saya mengusulkan dua hal. Pertama, perlu ada kelas matrikulasi. Tujuannya agar alumni prodi non-bahasa bisa ikut mendaftar. Misalnya, dengan menyediakan mata kuliah dasar dari fonologi sampai semantik. Kedua, saya mengkritik penamaan mata kuliah "Bahasa dan Budaya". Sebab, secara hierarki makna, status keduanya tidak setara. Bahasa itu adalah bagian dari budaya. Penggunaan konjungsi "dan" di sana membuat maknanya terdengar aneh. Kasusnya sama anehnya seperti mahasiswa yang menulis frasa "sastra dan novel" di skripsi. Padahal, novel jelas-jelas adalah bagian dari sastra. Tetapi, ini sekadar usulan. Sehingga, tidak masalah jika akhirnya tidak disetujui.

Selesai memberi usulan, saya segera bergegas menuju fakultas. Saya masuk ke kelas Metopen dengan keterlambatan 50 menit. Namun, mahasiswa rupanya terlihat gembira jika waktu belajar di kelas sedikit berkurang. Hari ini saya membahas penulisan bab satu untuk proposal skripsi. Mahasiswa ternyata sudah menyiapkan ide dan tulisan. Kemudian, saya menguji ide mereka menggunakan tiga syarat. Pertama, objek penelitiannya wajib berupa karya sastra. Kedua, analisisnya harus memakai teori sastra. Dan ketiga, harus ada hal yang unik di dalam karya tersebut. Tiga syarat ini sudah cukup untuk langkah awal.

Selesai mengajar, saya kembali menyicil koreksi ujian tengah semester. Akhirnya, hari ini saya menemukan lembar jawaban mahasiswa yang bernilai 91. Alhamdulillah. Sebab sejak kemarin, saya hanya menemukan deretan mahasiswa dengan nilai di bawah 50. Untuk makan siang, saya mendapat jatah dari kegiatan review tadi. Menunya adalah ayam bakar dan rasanya lumayan.

Hari ini saya juga mendapat kabar penting. Seminar Kemajuan saya akhirnya dijadwalkan pada hari Jumat ini. Alhamdulillah. Kebetulan, saya juga memiliki jadwal menguji mahasiswa di hari Jumat. Sehingga, jadwal menguji tersebut saya geser pelaksanaannya menjadi face-to-face saja.

Sore harinya, saya beranjak pulang. Saya mampir sebentar ke rumah Bapak. Sebelumnya, saya sempat mengabarkan ingin pergi ke Makassar. Tetapi, rencana tersebut batal. Kami juga mengobrol tentang istri adik saya yang saat ini sedang hamil. Insyaallah, kami akan mendapat keponakan baru pada tahun depan.

Sesampainya di rumah, saya langsung makan malam. Menunya adalah lele goreng dan sayur asem. Alhamdulillah rasanya lezat. Malam harinya, saya melanjutkan makan pempek Bontang. Istri saya juga memasak mi instan. Tetapi, saya hanya mencicipinya sedikit karena rasanya keasinan.

Mi instannya ketumpahan garam. 

Satire Kop Surat

4 Oktober 2026

Hari ini adalah hari Minggu. Waktunya untuk libur. Pagi-pagi sekali, tiang listrik di depan rumah dipukul bertubi-tubi. Bunyi itu adalah panggilan berkumpul untuk warga. Ternyata hari ini ada jadwal kerja bakti. Alhamdulillah, rumput liar di depan rumah akhirnya dibabat habis.

Biasanya, saya rutin meminta tolong OB kantor. Saya membayarnya untuk membersihkan rumput di sekitar rumah. Tetapi, ada mobil tetangga yang selalu parkir 24 jam tepat di depan rumah. Sehingga, niat untuk membersihkan rumput itu selalu menjadi sangat sulit.

Pagi ini saya kembali meminum kopi dingin. Rasanya sangat enak.

Saya baru sarapan saat hari sudah agak siang. Istri membelikan nasi campur sesuai pesanan saya. Lauknya adalah telur dadar dan tahu. Lalu, istri juga sekalian membeli ayam goreng tepung Mimi Chicken. Ayam ini adalah menu favorit anak-anak. Alhamdulillah rasanya lezat. Perut saya pun menjadi sangat kenyang.

Setelah itu, saya menyempatkan diri mengecek thread media sosial saya. Kolom komentarnya ternyata cukup ramai. Kemarin saya memang membuat unggahan bernada satire. Topiknya adalah cara aman agar tidak diberi tugas tambahan. Kuncinya adalah kerjakan tugas itu dengan lambat dan ngawur. Lalu, saya memakai satu perumpamaan. Jika disuruh membuat surat, kerjakan saja bagian kop suratnya terlebih dahulu lalu tinggalkan. Lucunya, ada orang yang menanggapi dengan sangat serius. Dia malah protes karena kop surat itu kan sudah ada dan tinggal pakai. Padahal itu hanyalah sebuah contoh perumpamaan. Ya sudahlah.

Siang harinya, saya tertidur. Kali ini durasinya ternyata lumayan panjang. Saya baru terbangun pada pukul setengah lima sore.

Untuk menu makan malam hari ini, saya akan menyantap pepes ikan mas. Ikan mas adalah jenis ikan yang paling saya suka. Meskipun, duri halus di dalam dagingnya sangat banyak dan menyebalkan.

Di media sosial, saya berlagak pintar mengajari orang cara jitu menghindari pekerjaan yang rumit. Tetapi giliran urusan perut, saya malah dengan sukarela memilih ikan yang penuh dengan jebakan duri halus paling merepotkan sedunia.

Mi Ayam Sachet

3 Oktober 2026

Hari ini adalah hari Sabtu. Ini adalah waktunya hari libur. Saya pun menghabiskan waktu dengan bersantai di rumah.

Pagi ini saya menikmati kopi. Sebelumnya, saya sangat rajin membuat racikan V60 sendiri. Saya bahkan sudah membeli bahan dan peralatannya secara khusus. Tetapi akhir-akhir ini, saya merasa lebih enak menyeduh kopi saset Kapal Api. Kopi ini bisa langsung diseduh memakai air dingin. Prosesnya jelas jauh lebih praktis.

Sekitar pukul sebelas siang, saya baru sarapan. Saya makan sayur santan daun singkong. Sayur ini adalah sisa masakan kemarin. Masakan bersantan itu memang semakin dipanasi akan menjadi semakin enak. Untuk lauknya, saya menyantap empal sapi goreng.

Siang harinya, istri pergi keluar untuk membeli makan siang. Kami memesan mi ayam. Saya hanya menyukai Mi Ayam Jakarta di kawasan Siradj Salman. Saya sudah memakan mi ayam ini sejak masih kecil. Warungnya pun sukses bertahan selama berpuluh-puluh tahun. Sehingga, standar rasa mi ayam yang enak bagi saya ya harus seperti ini. Anak kedua saya rupanya memiliki selera yang sama. Sementara itu, istri dan anak pertama saya memang suka, tetapi mi ini bukan favorit mereka. Bagi saya pribadi, ini tetaplah mi ayam favorit nomor satu.

Selain mi ayam, istri juga membeli gorengan tahu jontor. Dia juga membeli air kelapa murni. Air kelapa ini langsung saya masukkan ke dalam kulkas. Jika air kelapa ditambah es batu, rasanya akan menjadi kurang enak. Sehingga, airnya harus didinginkan secara murni di dalam kulkas.

Sore harinya, kami menunggu pengumuman anak kedua. Dia baru saja mengikuti lomba bahasa Inggris. Kami memantau hasil pengumumannya secara daring.

Seharian ini fisik saya sukses beristirahat dan sama sekali tidak keluar dari pintu rumah. Sayangnya, pikiran saya tetap saja harus berangkat bekerja ke kampus. Sebab, di sela-sela waktu santai itu saya rupanya harus tetap mengoreksi skripsi mahasiswa.

Batik Pernikahan

2 Oktober 2026

​Hari ini adalah tanggal 2 Oktober. Hari ini bertepatan dengan peringatan Hari Batik Nasional. Lebih spesial lagi, hari ini juga merupakan hari ulang tahun pernikahan saya dan istri. Tahun ini adalah perayaan kami yang ke-15. 

Walaupun ada momen spesial, suasana Jumat ini terasa sangat sepi karena aturan WFA masih berlaku di kampus.

​Meskipun saya tetap ngantor, tidak banyak pekerjaan hari ini. Saya hanya menyicil koreksian ujian tengah semester mata kuliah ITS. Sayangnya, banyak nilai mahasiswa yang memprihatinkan. Sementara itu, FIB hari ini membuat karangan bunga. Karangan bunga ini ditujukan untuk rektor terpilih periode selanjutnya.

​Sebelum waktu salat Jumat tiba, saya memutuskan untuk pulang. Saya menunaikan salat di masjid dekat rumah. Di perjalanan pulang, saya mampir membeli tahu jontor. Saya memilih tahu pedas isi sayur dan tahu bakso. Harganya tiga ribu rupiah per biji. Jajanan ini termasuk gorengan favorit saya.

​Sesampainya di rumah, istri sedang sibuk memasak. Menunya adalah sayur santan daun singkong, empal daging, dan tahu goreng. Namun, daging empal harus direbus lama supaya benar-benar empuk. Karena sudah terlanjur lapar, saya akhirnya meminta dibuatkan telur ceplok. Hari ini saya makan cukup banyak. Selesai makan dan salat Jumat, saya menyempatkan diri untuk tidur sebentar.

​Sehabis magrib, saya berkunjung ke rumah ibu. Saya ingin mengabarkan rencana keberangkatan ke Makassar dalam waktu dekat. Saya pergi ke sana bersama anak kedua. Setelah dari rumah ibu, kami lanjut berbelanja camilan di Era Mart.

​Ternyata, belanja camilan saja menghabiskan uang hingga 150 ribu rupiah. Nominal ini lumayan mahal, sehingga kebiasaan ini tidak bisa sering-sering dilakukan. Kemudian, istri juga berpesan untuk dibelikan minuman sarabba hangat di Jalan Siradj Salman. Setibanya kembali di rumah, saya kembali duduk bekerja untuk mengoreksi skripsi mahasiswa.

​Ternyata, merayakan ulang tahun pernikahan ke-15 dengan tagihan camilan mahal di Era Mart masih jauh lebih melegakan daripada harus melihat deretan nilai ujian mahasiswa yang memprihatinkan hari ini.

Soto Tanpa Nasi

1 Oktober 2026

Pagi ini adalah hari Kamis. Cuacanya terasa sangat panas. Sepanas suhu politik pemilihan rektor.

Kemarin, hasil pemilihan rektor Unmul sudah beredar dan diumumkan. Hari ini sempat ada demonstrasi terkait hasil tersebut. Kabarnya, massa sampai menutup pintu masuk kampus. Namun, saya berangkat ke kantor sangat pagi setelah mengantar anak sekolah. Sehingga, saya masih keburu masuk melalui gerbang depan. Saat itu, para pendemo belum datang dan belum menutup pintu.

Kegiatan hari ini berjalan seperti biasa. Ada beberapa surat disposisi dari Dekan. Surat tersebut langsung saya teruskan kepada Kabag Umum. 

Selanjutnya, saya menyicil koreksi ujian tengah semester mata kuliah ITS. Sayangnya, banyak mahasiswa yang mendapat nilai kurang.

Di sela-sela mengoreksi, saya menyempatkan diri mengobrol dengan para wakil dekan FIB.

Setelah itu, saya masuk menghadap Dekan. Ada beberapa hal yang perlu saya laporkan. Laporan ini secara khusus terkait urusan keuangan dan kepegawaian.

Menjelang sore, saya bersiap untuk pulang. Ternyata hujan turun membasahi kampus. Alhamdulillah. Sesuai janji, saya tidak akan mengeluhkan datangnya hujan lagi.

Setelah hujan reda, barulah saya pulang. Di jalan, saya mampir membeli gorengan tahu isi sayur. Sesampainya di rumah, istri rupanya baru selesai menggoreng tempe. Rasanya sangat enak karena langsung dimakan saat masih panas. Sore harinya, istri pergi menjemput anak sekolah. Saat pulang, dia mampir membeli soto Lamongan di dekat Rumah Sakit AWS. Warung ini memang langganan kami. Saya memakan soto tersebut tanpa nasi. Saya hanya memakai bihun dan kuahnya saja. Rasanya sungguh enak dan segar. Istri juga khusus menggoreng perkedel kentang untuk tambahan lauknya. Perpaduan perkedel dan soto ini sangat cocok. Rasanya benar-benar menyatu dan kawin di lidah.

Saya sengaja makan soto tanpa nasi putih dengan niat mengurangi karbohidrat. Tetapi sebagai gantinya, perut saya justru dijejali bihun, perkedel kentang, tahu isi, dan tempe goreng secara bersamaan.

Potong Tali Jam

30 September 2026

Hari ini adalah hari Rabu. Dan, ini adalah hari yang biasa.

Hari ini ada jadwal ujian tengah semester ITS untuk kelas C dan D. Saya meminta tolong kepada dua orang staf. Mereka bertugas untuk mengawasi ujian di masing-masing kelas.

Saat ujian berlangsung, saya pergi ke bank. Saya ingin mengurus kartu ATM yang sudah kedaluwarsa. Tetapi, kartu tersebut tidak bisa langsung dicetak ulang. Sebab, rekening saya sudah berstatus pasif selama enam bulan. Rekening memang otomatis tidak aktif jika sudah lewat enam bulan. Setelah antre dan mengisi formulir, saya akhirnya bertemu bagian Customer Service. Proses pengaktifannya ternyata cukup ribet. Karena, saya diwajibkan untuk setor atau tarik tunai terlebih dahulu. Akhirnya, saya memilih setor tunai sebesar 50 ribu rupiah. Setelah itu, saya harus memindai sidik jari beberapa kali. Barulah rekening tersebut kembali aktif. Dulu ini adalah rekening gaji saya. Tetapi, kampus sudah berpindah bank. Sehingga, rekening ini hanya menjadi simpanan pasif saja. Saya juga tidak pernah membuka aplikasinya di ponsel. Setelah rekening aktif, barulah kartu ATM baru bisa dicetak. Sekalian saja saya meminta cetak buku tabungan. Saya meminta rekapitulasi transaksi untuk tiga bulan terakhir. Mudah-mudahan selanjutnya saya tidak lupa untuk bertransaksi minimal enam bulan sekali.

Dari bank, saya meluncur ke Pasar Pagi. Jam tangan saya terasa kebesaran sebagai efek turunnya berat badan. Sehingga, saya ingin memotong satu ruas talinya. Sekalian saja saya meminta jam ini dibersihkan. Sebab, ini adalah jam mekanik yang tidak memakai baterai. Selain itu, ada sedikit kendala saat pergantian hari. Tulisan nama hari di jam agak terpotong,bsaat oeroindahan hari. Jadi, saya sekalian memperbaiki ini. Biayanya adalah 100 ribu rupiah. Tukang jam ini bisa dibilang sudah langganan. Tidak semua tukang jam bisa atau berani membongkar jam saya ini. Lokasinya ada di Pasar Pagi, tepat di seberang Masjid Raya. Sambil menunggu jam ini selesai, saya menyempatkan diri membeli pentol isi telur puyuh di dekat situ.

Dari Pasar Pagi, saya kembali ke kantor. Saya kembali mengerjakan laporan visitasi. Alhamdulillah, tugas itu akhirnya sudah benar-benar selesai.

Hari ini juga bertepatan dengan hari pemilihan Rektor Unmul. Mudah-mudahan seluruh prosesnya berjalan lancar.

Sesampainya di rumah, saya makan bakso buatan istri. Bakso ini disajikan dengan tambahan bihun. Perpaduan ini terasa sangat cocok. Rasanya persis seperti bakso khas Solo. Sebab, bakso khas Solo memang tidak pernah memakai mi kuning.

Malam ini, istri berencana membeli sate Suramadu. Sate ayam Madura ini berjualan di kawasan Siradj Salman. Lokasinya cukup dekat dari rumah. Rasanya enak. Dan, bumbu satenya juga tidak begitu manis.

Tadi siang saya bangga memotong tali jam tangan karena merasa berat badan sudah turun, tetapi sore dan malamnya langsung saya merapel pentol puyuh, bakso, dan sate ayam berturut-turut.

Sate Soloan

29 September 2026

Hari ini cuaca masih sama seperti kemarin. Samarinda sudah diguyur hujan. Udara juga sudah bersih tanpa asap. Kalau sudah begini, kita tidak boleh lupa bersyukur. Kita harus ingat saat berbulan-bulan tidak ada hujan. Kita juga harus ingat saat bernapas penuh asap. Begitu pula dengan nikmat kesehatan. Kita harus ingat saat sedang sakit. Saat sakit, makan apa saja terasa tidak enak di lidah. Kepala juga sering terasa pusing. Jadi, kita tidak usah menuntut macam-macam kalau sudah sehat walafiat.

Pagi ini adalah pertemuan terakhir di kelas ITS. Hari ini mahasiswa menghadapi ujian tengah semester. Kelas ini diajar secara bertim. Dan, tugas saya memang hanya sampai ujian tengah semester. Saya sudah mulai mengoreksi beberapa hasil ujian. Sayangnya, hasilnya cukup mengecewakan. Mudah-mudahan sisa lembar jawaban yang lain hasilnya jauh lebih baik.

Di kantor, ada beberapa surat disposisi. Berkas ini langsung saya teruskan kepada Kabag Umum. Lalu, ada juga beberapa pekerjaan yang perlu dikoordinasikan. Tetapi, urusan ini cukup saya selesaikan melalui WhatsApp.

Siang harinya, saya makan siang di warteg Jalan Perjuangan dekat Unmul. Saya memesan nasi campur dengan lauk ayam kecap, telur kecap, tahu goreng, dan ote-ote. Harganya hanya 21 ribu rupiah. Alhamdulillah, rasanya sangat enak.

Setelah itu, saya kembali menyicil laporan visitasi. Saat ini saya tinggal menunggu laporan individu dari rekan saya. Setelah laporannya dikirim, barulah saya bisa mulai menyusun laporan kelompoknya.

Tadi siang, istri membagikan sebuah video TikTok. Isinya tentang warung sate kambing bernuansa Solo di Samarinda. Solo memang surganya sate kambing. Banyak yang berjualan dan rasanya enak semua. Sate kambing yang paling tidak enak di Solo pun masih bisa saya makan dengan lahap.

Pulang kantor, saya dan istri langsung pergi berdua ke warung tersebut. Lokasinya ada di dekat Rumah Sakit SMC. Kami memesan sate kambing, tengkleng kambing, dan gulai. Tengkleng di sini agak berbeda. Kalau di Solo, tengkleng biasa itu berkuah bening tanpa santan. Tetapi, tengkleng di sini dimasak lagi dengan kecap. Kalau di Solo, hidangan ini sebutannya "tengkleng masak". Rasanya enak-enak saja. Lumayanlah, meski belum seratus persen seperti di Solo. Tetapi, untuk sementara ini rasanya yang paling mirip. Tadi di daftar menu ada sate buntel. Ini adalah sate kesukaan anak saya. Sayangnya, menu ini sedang tidak siap. Sate buntel ternyata hanya ada setiap hari Minggu dan Senin. Kapan-kapan saya akan ke sini lagi untuk mencobanya.

Di awal paragraf, saya menasihati diri sendiri agar selalu bersyukur dan menjaga nikmat sehat, termasuk makan enak.

Sop Patin Istri

28 September 2026

Alhamdulillah, hari ini turun hujan deras. Kita sudah menunggu berbulan-bulan untuk momen ini. Bagi orang lain, hujan mungkin hal yang biasa. Tetapi, bagi warga Samarinda, ini adalah hal yang luar biasa. Sebab, kita sudah lama melihat debit air Sungai Mahakam surut parah.

Pagi ini saya berangkat ke kantor seperti biasa. Lalu, saya mengikuti rapat pagi terbatas. Rapat ini hanya dihadiri oleh para Wakil Dekan.

Selesai rapat, saya kembali menyicil laporan visitasi. Isinya memang masih kurang beberapa hal. Tetapi, laporan keuangan perjalanan sudah beres. Berkasnya sudah saya titipkan. Saya selalu menitipkannya kepada teman dosen. Karena, rumahnya berada di kawasan Samarinda Seberang.

Di usia sekarang, rasa lelah akibat perjalanan jauh memang sangat awet. Capeknya masih terasa selama beberapa hari. Sehingga, saya memutuskan pulang dari kantor agak cepat hari ini.

Sesampainya di rumah, saya langsung makan. Lauknya adalah sop ikan patin buatan istri. Rasanya sungguh segar dan lezat. Ikan patin ini adalah favorit saya dan anak-anak. Tetapi, istri saya justru kurang menyukainya. Beberapa teman dosen perantau dari Jawa juga biasanya kurang suka ikan patin.

Setelah makan, saya sempat tidur sebentar. Lalu, saya bangun pada sore hari. Kemudian, saya langsung mandi.

Malam ini, saya berencana makan sop ikan patin lagi. Istri saya memang luar biasa. Dia rela repot memasak hidangan yang sama sekali tidak dia sukai. Sehingga, sebagai suami yang penuh pengertian, saya merasa wajib menolongnya dengan cara menghabiskan seluruh masakannya.

Nilai Pas

27 September 2026

Hari ini adalah hari Minggu. Hari ini adalah hari libur. Saya masih dalam masa pemulihan badan. Sebab, saya baru saja pulang dari agenda visitasi di Muara Kaman dan Tenggarong.

Pagi ini saya menyeduh kopi dingin buatan sendiri. Kopi ini rasanya semacam *cold brew*. Untuk sarapan, saya makan tempe goreng dan hati goreng. Lauk ini disajikan bersama timun dan sambal. Alhamdulillah, perut saya menjadi sangat kenyang. Siang harinya, saya tidur untuk beristirahat.

Setelah bangun tidur, saya langsung makan siang. Masih ada sisa hati goreng dari sarapan tadi. Tetapi, kali ini ditambah sop bakso ikan dan camilan pempek Bontang. Alhamdulillah, semua makanannya enak.

Hari ini saya juga fokus menemani anak belajar. Besok Senin dia ada jadwal ulangan mata pelajaran PJOK dan Al-Islam. Cara belajarnya adalah membaca materi dan membaca latihan soal. Kalau sudah selesai, istri saya akan memberikan pertanyaan tentang isi materinya. Mudah-mudahan anak saya bisa menjawab semuanya. Dan, semoga dia mendapat nilai yang sesuai, pas, dan cocok.

Di kelas, saya juga sering mengingatkan mahasiswa tentang konsep nilai ini. Kebanyakan mahasiswa selalu mengejar dan meminta nilai A. Padahal, nilai A itu belum tentu baik buat mahasiswa. Mintalah nilai yang sesuai, pas, dan cocok. Yaitu nilai yang bisa memacu kita untuk menjadi lebih baik lagi.

Malam ini, saya berencana makan bakso. Saya ingin meracik kuahnya menjadi pedas, manis, dan asam. 

Mahasiswa saya nasihati supaya mencari nilai yang pas, termasuk meracik kuah bakso. 

Godaan Limpa

26 September 2026

Kemarin hujan gerimis akhirnya turun. Alhamdulillah. Status WA langsung heboh membahas ini. Fenomena ini memang sangat dinanti-nanti.

Pagi ini saya mulai menyicil laporan akreditasi. Laporan ini adalah hasil visitasi di Muara Kaman dan Tenggarong kemarin. Saya harus menyicil karena pekerjaannya pasti belum selesai hari ini.

Saya mengerjakan laporan tersebut di warkop Hayyu. Awalnya saya ingin memesan seduhan V60. Namun, biji kopinya ternyata sedang kosong. Akhirnya, saya memesan es Americano saja. Saya sudah terbiasa dengan warkop ini. Oleh karena itu, saya lebih sering datang ke sini. Sekitar jam 12 siang, saya beranjak pulang ke rumah. Saya berhasil menyelesaikan penilaian individu untuk dua sekolah. Walaupun begitu, masih ada tahapan laporan lanjutan setelah ini.

Siangnya, saya menyantap masakan istri di rumah. Lauk utamanya adalah ikan asin masak coan-coan. Rasanya sungguh enak sekali. Dahulu, almarhum nenek beberapa kali pernah memasak hidangan ini. Waktu di Solo, nenek biasanya memakai ikan gereh besek. Selain itu, ada juga tambahan limpa goreng. Menurut saya, jeroan sapi yang paling enak adalah limpa. Rasanya bahkan lebih nikmat daripada daging sapi. Dicampur coto enak, lalu digoreng juga luar biasa lezat. Semuanya semakin pas dengan tambahan lalapan timun dan sambal terasi.

Sore harinya, saya dan istri pergi ke Tepian. Kami berdua membeli dimsum merek Sumbuddy. Ini adalah dimsum favorit keluarga kami. Dahulu, gerainya ada di Big Mall. Sekarang, mereka berjualan jika ada acara di Tepian. Sayangnya, ukuran dimsum ini agak mengecil. Bentuknya tidak lagi segendut dahulu. Karena sedang lapar-laparnya, enam biji dimsum itu langsung saya habiskan setiba di rumah.

Malam harinya, saya makan nasi dengan coan-coan ikan asin lagi. Saya sama sekali belum bosan karena rasanya memang seenak itu.

Ukuran dimsum Sumbuddy boleh saja menyusut drastis, tetapi porsi makan saya gara-gara coan-coan ikan asin dan limpa goreng justru semakin membesar.

Anggaran, Gas dan Galon

25 September 2026

Pagi yang cerah. Namun, badan belum sepenuhnya pulih. Pagi ini saya kembali ditemani kopi hitam.

Hari ini saya mengajar kelas pengganti. Materinya tentang penilaian kualitas terjemahan. Ini materi terakhir sebelum ujian tengah semester. Insyaallah, ujian dilaksanakan minggu depan.

Setelah mengajar, saya mengikuti rapat terbatas. Agendanya membahas sisa anggaran yang belum terealisasi. Pembahasannya penting, sehingga harus segera ditindaklanjuti.

Selesai rapat, saya memilih pulang lebih cepat. Badan masih kurang enak. Karena itu, istirahat menjadi prioritas.

Siang ini, istri berencana mengikuti lomba tumpeng pada acara Dies Natalis Unmul. Semoga acaranya lancar dan hasilnya membanggakan.

Sesampainya di rumah, ternyata gas habis. Galon juga habis. Saya pun memesan keduanya kepada tetangga. Sekarang tinggal menunggu diantar.

Hari ini mengajarkan satu hal: bukan hanya anggaran yang perlu direalisasikan, gas dan air pun ternyata menuntut hal yang sama.

Nasi Kuning Kaltim

24 September 2026

​Pagi ini, saya menyeduh kopi hitam yang diracik agak manis. Saya juga masih terus berharap turunnya hujan. Untuk sarapan, saya menyantap nasi kuning. Di Bumi Kaltim ini, nasi kuning khas daerah sini hanya punya dua pilihan rasa. Pilihannya adalah antara enak atau enak banget.

​Hari ini adalah kegiatan visitasi hari kedua. Saya masih melanjutkan sesi tanya jawab dengan para guru. Namun, tahapan yang paling lama dan menyita waktu adalah proses telaah dokumen.

​Pada siang harinya, saya makan ikan nila bakar. Rasanya sangat enak. Bumbunya juga terasa cukup manis di lidah.

​Akhirnya, saya tiba kembali di rumah. Istri saya sudah menyiapkan semangkuk bakso. Sepulang dari perjalanan jauh, menyantap makanan berkuah hangat memang menjadi pilihan yang paling nikmat.

​Sementara itu, baju kotor selama perjalanan sudah menumpuk. Tumpukan pakaian tersebut tentu harus segera dicuci. Di sisi lain, besok saya sudah ditunggu oleh jadwal rapat. Selain itu, ada juga jadwal mengajar kelas pengganti besok. Padahal, badan ini sebenarnya masih terasa sangat capek.

​Ternyata di Kaltim ini pilihan rasa nasi kuning memang hanya ada enak dan enak banget, tetapi untuk urusan nasib setelah pulang visitasi, pilihannya hanya ada capek dan capek banget.

Kopi Manis Pagi

23 September 2026

Hari ini adalah hari yang biasa. Tetapi, pagi ini badan saya sudah terasa pegal. Padahal, saya belum melakukan aktivitas apa-apa.

Pagi ini saya menyempatkan diri meminum kopi manis. Padahal, biasanya saya rutin meminum kopi hitam yang pahit. 

Setelah itu, saya lanjut berangkat ke sekolah. Ini adalah agenda visitasi hari pertama. Jadwal hari ini adalah observasi kelas dan wawancara. Lalu, besok rencananya saya akan mengecek dokumen secara penuh. Jumlah siswa di sekolah ini tergolong sedikit jika melihat lokasi geografisnya.

Siang harinya, saya makan nasi Padang. Tekstur nasinya pas, berbulir ngepyar dan tidak lengket. Lauknya adalah daging rendang. Porsi ini sukses membuat saya sangat kenyang. Cuaca hari ini terasa sangat panas. Sehingga, saya banyak meminum air es. 

Rupanya manisnya kopi dan dinginnya es hari ini tetap gagal menipu fisik usia empat puluhan yang sudah telanjur pegal sebelum bekerja.

Geser Sekolah

22 September 2026

Hari ini adalah hari Selasa. Saya kembali menunggu turunnya hujan. Suasana terasa berjalan sangat pelan.

Hari ini, saya telah menyelesaikan tugas di satu sekolah. Kemudian, saya lanjut bergeser ke sekolah selanjutnya. Alhamdulillah, jaraknya hanya sekitar dua jam perjalanan darat dari penginapan. Namun, kami tetap harus menyeberang sungai sebentar.

Sesampainya di penginapan, saya langsung beristirahat. Jadwal visitasi hari pertama baru akan dilaksanakan besok. Kegiatannya pasti berlangsung penuh seharian. Walaupun di jadwal tertulis selesai jam tiga sore, praktiknya tidak pernah seperti itu. Biasanya, kegiatan baru tuntas sekitar pukul lima sore. Tetapi, hal ini juga sangat tergantung pada respons pihak yang diwawancarai.

Saat tiba di penginapan tadi, saya menyantap ikan nila goreng. Sambalnya terasa terlalu manis. Meskipun begitu, rasanya masih lumayan oke juga.

Malam ini, saya berencana melakukan rutinitas seperti biasa. Saya akan mengecek berkas-berkas visitasi lebih awal. Langkah ini merupakan persiapan wajib untuk penilaian besok.

Jadwal visitasi tertulis tuntas jam tiga sore tetapi realitanya selalu molor hingga jam lima, persis seperti rasa sambal ikan nila hari ini yang meleset dari ekspektasi namun tetap habis dinikmati.

Harta Karun Kubangan

21 September 2026

Hari ini udara sangat berasap. Kebakaran hutan itu nyata. Kejadian ini ada tepat di depan mata.

Pagi ini ada agenda visitasi. Kegiatannya sebenarnya hanya tiga macam. Yaitu telaah dokumen, wawancara, dan observasi. Kami mengecek semua dokumen sekolah. Kami juga mewawancarai semua warga sekolah. Mulai dari kepala sekolah, guru, siswa, hingga wali siswa. Lalu, kami mengobservasi pembelajaran di kelas. Kami juga mengecek seluruh sarana dan prasarana sekolah.

Sekolah ini masuk kawasan 3T. Yaitu daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar. Listrik di sini hanya mengandalkan tenaga surya. Tenaga ini hanya kuat menyala beberapa menit saja. Jika cuaca mendung, listrik sudah pasti mati. Sinyal telepon juga sangat sulit dicari. Warung jualan juga tidak punya banyak pilihan. Nama dusun ini sangat mantap. Namanya adalah Dusun Liang Buaya.

Dari dermaga Muara Kaman, kami masih harus naik perahu ces. Punggung saya terasa sangat pegal selama menaiki perahu kecil ini.

Di perjalanan balik ke penginapan, kami melihat kebakaran hutan lagi. Banyak orang menuduh ini ulah pembuka lahan sawit. Tetapi, kali ini alasannya berbeda. Area ini sebelumnya adalah semacam rawa. Saat ini airnya sedang surut parah. Lahan ini sengaja dibakar oknum. Tujuannya untuk mencari sisa-sisa kubangan akibat kekeringan. Di kubangan itulah tersimpan harta karun.

Satu kubangan bisa berisi sampai 200 kilogram ikan. Oknum tidak usah merawatnya. Mereka juga tidak perlu repot memancing. Lahan ini harus dibakar karena tanamannya sangat tinggi. Sehingga, kubangan air tidak terlihat dari luar. Tetapi, setelah dibakar, titik-titik kubangan ini akan langsung terlihat. Di situlah ikan-ikan terjebak dan berkumpul pada sisa air yang ada.

Kabupaten Kaya

20 September 2026

Hari ini adalah hari Minggu. Seharusnya hari ini adalah hari libur. Tetapi, saya tetap berangkat untuk bekerja.

Saya menempuh perjalanan ke Muara Kaman. Saya berangkat dari rumah pada pukul sembilan pagi. Lalu, saya sampai di Muara Kaman sekitar pukul 11.45. Sesampainya di dermaga, ternyata perjalanan menuju sekolah masih harus dilanjutkan. Saya masih perlu naik perahu ces lagi. Dan, perahu jenis ini tidak banyak tersedia. Selain itu, tidak ada penginapan di sekitar kawasan sekolah. Jadi, saya memutuskan lebih baik menginap di Muara Kaman bagian kotanya saja.

Saya juga mendapat beberapa informasi tambahan. Kawasan ini ternyata masuk kategori daerah 3T. 3T itu berarti Tertinggal, Terdepan, dan Terluar. Sinyal telepon di sini tidak lancar. Aliran listriknya juga belum maksimal. Padahal, tempat ini berada di kabupaten terkaya se-Indonesia. Dan, sumbangan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari kabupaten ini sangat besar. Kenyataan ini sungguh terasa ironis.

Ekstra Kerupuk

19 September 2026

Pagi ini, saya dan anak kedua bangun sejak subuh. Kami berdua melaksanakan salat berjamaah. Setelah itu, kami lanjut memasak nasi dan menggoreng telur. Sementara itu, istri dan anak pertama sedang berhalangan. Oleh karena itu, mereka berdua bangun lebih siang.

Menu sarapan pagi ini awalnya adalah nasi dengan telur dadar. Namun, istri ternyata membuat mi ayam. Akhirnya, saya memilih untuk menyantap mi ayam buatan istri. Anak pertama saya hari ini mengikuti ekstrakurikuler Creative English di sekolah. Sedangkan, anak kedua saya hanya belajar melalui Zoom.
Sepulang menjemput anak, istri membawakan gorengan dan sebungkus gado-gado. Saya memang memesan gado-gado yang sangat pedas dengan ekstra kerupuk. Selain itu, istri juga membeli air kelapa murni. Rasanya sungguh segar. Siang harinya, saya pun langsung menyantap gado-gado tersebut.

Setelah makan siang, saya tertidur pulas. Saya baru terbangun saat magrib tiba. Pada sore harinya, istri ternyata membelikan Bakso Bintang Malang. Saat ini, ini adalah bakso urat yang paling enak menurut saya. Saya memakannya menggunakan taburan remukan emping. Rasanya benar-benar segar dan nikmat.

Tadi sore, saya juga sempat pergi ke Era Mart. Saya membeli air mineral Pristine ber-pH tinggi. Air ini dipersiapkan untuk bekal perjalanan besok. Rencananya, saya akan berangkat untuk melakukan tugas visitasi akreditasi.

Untuk makan malam, kami berencana membuat ayam saus. Resep masakan ini didapat dari TikTok. Ayam goreng tepung digeprek terlebih dahulu. Kemudian, dagingnya dimasak menggunakan mayones dan saus tomat. Supaya pedas, bumbunya tinggal ditambahkan cabai rawit dan sedikit kaldu Totole.

Mempersiapkan kesehatan dengan air mineral ber-pH tinggi untuk tugas akreditasi besok sepertinya menjadi sia-sia karena perut ini sudah digempur gado-gado super pedas, bakso urat, dan ayam saus TikTok seharian penuh.

Kado Brimo

18 September 2026

​Anak-anak masih belajar di rumah. Anak kedua belajar menggunakan Google Meet. Anak pertama menerima penugasan di rumah.

​Pagi ini saya berangkat ke kantor. Syukurlah, kabut asap sudah tidak separah kemarin.
​Hari ini ada acara yudisium untuk periode September. Acara ini diselenggarakan di gedung iLab Unmul. Pesertanya mencapai 70 mahasiswa. Jumlah ini lumayan banyak. Menariknya, sepertiga peserta adalah angkatan 2019. Mereka menghabiskan masa studi pas tujuh tahun.

​Selesai yudisium, saya langsung kembali ke kantor. Saya segera menyelesaikan laporan visitasi Kutim kemarin. Laporan tersebut sebenarnya sudah siap. Saya tinggal mengeklik tombol submit saja. Namun, saya memilih untuk mengendapkannya dulu. Rencananya, tombol itu baru akan saya klik besok.

​Sesampainya di rumah, saya makan sedikit nasi goreng ikan asin. Nasi goreng ini adalah sisa masakan sarapan tadi. Setelah itu, saya lanjut menyantap mi ayam. Keduanya adalah buatan istri yang rasanya sangat enak. Alhamdulillah.
​Hari ini saya berulang tahun yang ke-41. Lucunya, ucapan pertama justru datang dari aplikasi Brimo. Setelah itu, baru datang ucapan dari bapak, ibuk, dan kakak-kakak saya.
​Alhamdulillah, hari ini saya mendapat hadiah yang istimewa. Punggung saya diinjak-injak oleh kedua anak saya. Selain pijatan injakan, mereka juga mendoakan saya. Di setiap harinya, doa saya selalu berkisar pada urusan kesehatan dan keimanan.
​Kesehatan sangat penting karena sakit itu merepotkan dan berada di luar kuasa saya. Oleh karena itu, kesehatan benar-benar perlu dimohonkan. Selanjutnya adalah keimanan. Sama seperti kesehatan, keimanan ini juga perlu terus didoakan. Sebab, iman manusia itu selalu naik turun. Suatu kali kita bisa ingin sekali salat, tetapi di waktu lain kita bisa merasa sangat malas. Doakan saya agar selalu sehat dan tetap ber-Islam. Aamiin.

​Ternyata di usia ke-41 ini, sistem aplikasi perbankan bisa jauh lebih sigap mengingat hari lahir daripada manusia, tetapi pijakan kaki anak-anak di punggung tetaplah menjadi kado paling melegakan.

Asap Gerimis

17 September 2026

Pagi ini Samarinda diselimuti asap. Beberapa situs web menyatakan kondisi udara sangat berbahaya bagi pernapasan. Perjalanan ke kantor penuh dengan asap. Untunglah saya memakai masker.

Anak kedua saya sudah mendapat edaran belajar di rumah sejak semalam. Dia tentu saja merasa senang. Sementara itu, anak pertama baru mendapat edaran serupa pada pukul enam pagi. Situasi ini benar-benar darurat. Kita sangat membutuhkan masker. Suasana ini jadi mengingatkan saya pada zaman Covid-19 dahulu.

Saya sendiri berangkat ke kampus agak terlambat. Sebab, di grup WA kantor ada arahan untuk mengalihkan kelas menjadi online. Jadi, tidak ada kelas tatap muka hari ini. Namun, saya tetap ngantor karena ada rapat. Rapat ini mempertemukan para pimpinan FIB. Kami membahas bermacam-macam hal.

Di sela rapat, kami sadar perlunya membeli masker untuk antisipasi. Tetapi ternyata, stok masker di Samarinda sedang kosong. Saya mengecek harga di toko online, dan harganya sudah melonjak berlipat-lipat dari harga biasa.

Selesai rapat, saya langsung mengajar kelas pengganti. Kelas ini dimajukan karena minggu depan saya ada rencana visitasi. Saya akan turun ke sekolah di Muara Kaman. 

Setelah mengajar, saya menyantap makan siang. Bekal ini disiapkan oleh istri. Lauknya adalah ikan layang, sambal terasi, dan kerupuk.

Selesai makan, saya kembali fokus. Saya harus menyelesaikan laporan visitasi di Kutim. Saya bertahan di depan laptop sampai menjelang magrib. Sayangnya, laporan itu tetap belum selesai. Target saya besok harus tuntas. Mudah-mudahan bisa lekas rampung.

Setelah magrib, saya mampir ke rumah ibu. Katanya, HP beliau sedang rusak. Setelah saya cek, ternyata layarnya terus-menerus memunculkan pop-up iklan. Akhirnya, saya menggunakan panduan dari Gemini. Saya ikuti petunjuknya langkah demi langkah. Cara tadi sih berhasil, tetapi saya belum tahu apakah iklannya akan muncul lagi nanti. Saat pulang, ibu membawakan saya sebuah cincin hijau. Cincin itu adalah punya bapak.

Malam harinya, saya menyantap menu spesial. Hidangannya berupa sayur bening bayam dan ikan layang goreng. Sayur bayam ini diracik khas Solo. Bumbunya hanya memakai bawang merah dan kencur tanpa bawang putih. Gulanya ditaruh sebanyak dua sendok makan penuh, lalu diberi sedikit garam. Rasanya sungguh manis dan segar. Ini adalah bayam bening favorit saya.

Malam ini, Samarinda sempat gerimis sedikit sekali. Walaupun begitu, status WA di HP saya langsung heboh seketika. Ke depannya, saya akan melarang keras keluarga saya untuk mengeluh jika hujan turun.

Kira-kira lebih langka mana, stok masker di Samarinda saat darurat asap atau orang yang tidak update status WA saat gerimis pertama turun?

Layang Goreng Asap

16 September 2026

Membuka media sosial hari ini, saya melihat kabar bahwa beberapa wilayah di Samarinda akhirnya mulai diguyur hujan. Alhamdulillah. Kondisi udara di Samarinda belakangan ini memang sudah mulai terasa berasap akibat kemarau dan kebakaran lahan. Sepertinya, kita sudah harus mulai mengenakan masker lagi saat beraktivitas di luar ruangan.

Agenda akademik saya hari ini berfokus pada kelas penerjemahan. Materi yang saya sampaikan kepada mahasiswa masih sama dengan kelas kemarin, yakni membahas rincian teknik penerjemahan berdasarkan teori dari Molina dan Albir. Di luar tugas mengajar, rutinitas administratif fakultas juga tetap berjalan. Hari ini saya memaraf beberapa surat resmi FIB serta mengurus sejumlah dokumen penting yang membutuhkan tanda tangan persetujuan dari Dekan.

Selain itu, hari ini FIB juga menerima kedatangan tamu dari Jakarta. Tim ini datang untuk meninjau langsung kesiapan fasilitas fakultas kita yang akan menjadi lokasi penyelenggaraan kegiatan dari Kementerian Kebudayaan pada bulan Oktober mendatang, khususnya terkait lokakarya promosi budaya.

Sepulang dari kampus, saya menyempatkan diri mampir untuk membeli gorengan di tempat yang baru. Sayangnya, rasanya ternyata biasa saja. Namun, rasa kurang puas itu langsung terobati begitu saya sampai di rumah. Istri saya ternyata sudah membelikan bakso dari warung Bakso Bintang 86 di dekat rumah. Menikmati semangkuk bakso hangat yang diberi tambahan remukan emping benar-benar terasa mantap dan nikmat.

Malam harinya, perut saya kembali dimanjakan. Istri sudah menyiapkan makan malam berupa ikan layang goreng, lengkap dengan lalapan segar dan sambal. Alhamdulillah, saya makan dengan sangat kenyang malam ini.

Mengurus birokrasi dokumen dan memastikan kesiapan fakultas menyambut tamu kementerian memang cukup menyita fokus, tetapi rasa lelah itu selalu menguap begitu saja saat menyantap hidangan nikmat yang disiapkan istri di rumah.

Sambal Tengah Semester

15 September 2026

Pagi ini saya membaca berita yang menyebutkan bahwa intrusi air laut ke Sungai Mahakam sudah kembali pada batas normal. Alhamdulillah, pelayanan distribusi air PDAM pun kini sudah berangsur normal.

Sebenarnya pagi ini ada jadwal rapat, tetapi waktunya bertepatan dengan jam mengajar. Saya pun meminta izin kepada pimpinan untuk tidak mengikuti rapat dan memilih tetap masuk kelas. Saya harus mengambil keputusan ini karena kelas minggu lalu sudah terpaksa kosong, dan minggu depan pun rencananya akan kembali kosong. Terlebih lagi, jadwal ujian tengah semester sudah semakin dekat. Di kelas hari ini, saya menyampaikan materi mengenai teknik penerjemahan, khususnya merujuk pada teori yang dikemukakan oleh Molina dan Albir. Selesai mengajar, saya memeriksa beberapa berkas disposisi dari Dekan dan langsung meneruskannya kepada Kabag Umum untuk ditindaklanjuti.

Siang harinya, saya makan dengan lauk ayam goreng dan sambal buatan istri. Rasanya sungguh enak sekali. Lalu pada sore harinya, saya kembali menyantap sambal yang sama, tetapi kali ini disandingkan dengan lauk bebek goreng. Makan sore tadi terasa sangat nikmat dan mengenyangkan.

Malam ini, saya berencana untuk melanjutkan pekerjaan menyusun laporan akreditasi. Saya sengaja mengerjakannya dengan cara menyicil sedikit demi sedikit, karena saya tahu betul bahwa draf laporan tersebut tidak akan mungkin selesai dalam satu malam.

Mengejar ketertinggalan materi kuliah sebelum UTS rupanya cukup menguras energi, tetapi lelahnya langsung terbayar lunas oleh nikmatnya sambal buatan istri di rumah.

Bakso Keju

14 September 2026

Alhamdulillah. Semalam aliran air PDAM akhirnya kembali menyala. Saya pun sempat memenuhkan tandon air di rumah. Selain itu, kami juga bisa menuntaskan cucian baju.

Pagi ini saya kembali masuk ke kantor. Sebelumnya, saya bertugas PKM di Kutai Timur selama seminggu penuh. Tumpukan berkas disposisi di meja ternyata ada beberapa. Padahal, saya tetap mengerjakan disposisi secara daring saat berada di Kutim. Selanjutnya, pagi ini saya berencana menyelesaikan laporan kegiatan tersebut. Saya mengerjakannya dengan cara menyicil sedikit demi sedikit. Sebab, jumlah dokumen laporannya memang lumayan banyak.

Siang harinya, saya bergegas pergi ke apotek. Saya harus mengambil beberapa macam obat rutin. Salah satunya adalah obat penurun tekanan darah. Selain itu, saya juga membeli beberapa jenis suplemen vitamin. Sebelum sampai di rumah, saya menyempatkan untuk mampir sebentar. Saya membeli camilan di tempat gorengan Om Beg.

Sesampainya di rumah, saya menyantap gorengan tersebut bersama istri. Kemudian, saya langsung merebahkan diri untuk tidur siang. Kondisi badan saya memang belum terasa bugar sepenuhnya. Di usia empat puluhan ini, tubuh saya butuh waktu beberapa hari untuk pemulihan setiap habis dinas luar kota. Bahkan, kondisinya malah sering jatuh seperti orang sakit. Padahal, dulu badan ini selalu segar bugar sehabis menempuh perjalanan jauh. Sayangnya, fisik saya sekarang menjadi jauh lebih gampang lelah.

Sore harinya, saya bangun dan langsung menyantap bakso. Istri saya sengaja menggilingkan daging bakso ini di Pasar Kedondong. Rasanya sungguh sangat enak. Apalagi, bakso buatan sendiri ini diberi tambahan isian keju. Sementara itu, malam ini saya berencana makan menu yang lebih sederhana. Saya hanya ingin menyantap seporsi mi Indomie goreng.

Fisik rentan usia empat puluhan yang gampang rebah ini rupanya bisa seketika pulih hanya dengan melihat tandon air yang penuh dan menyantap semangkuk bakso isi keju buatan istri.

Targedi Keran

13 September 2026

Hari ini air PDAM tidak mengalir. Oleh karena itu, saya hanya bisa berharap pada stok tandon air di rumah. Sayangnya, sempat terjadi insiden kecil. Istri saya menyalakan keran air. Kemudian, ia menyuruh anak kedua saya untuk mematikannya. Karena kelupaan, keran tersebut menyala berjam-jam. Akibatnya, air bersih terbuang sia-sia di tengah kondisi sulit ini.

Pagi ini saya sarapan Indomie rebus. Sebenarnya, saya sudah sangat ingin memakannya sejak berada di Kutim. Namun, saat perjalanan saya harus makan makanan berat agar tubuh tetap fit. Indomie ini dimasak dengan balutan telur dadar yang penuh irisan bawang merah. Menurut Jahidul si pakar makanan sehat, campuran bawang-bawangan bisa mengurangi efek buruk mi instan. Walaupun begitu, saya jadi terheran-heran. Indonesia sudah merdeka sekian lama. Tetapi, mengapa kita belum bisa menciptakan makanan sehat yang rasa dan harganya setara Indomie?

Siang ini saya memilih tidur seharian. Badan saya masih terasa pegal-pegal. Saat bangun, istri sudah memasak ayam goreng. Hidangan ini disajikan bersama sambal terasi dan lalapan timun. Rasa sambal terasinya benar-benar enak luar biasa. Alhasil, saya menyantap nasi dalam porsi yang sangat banyak.

Sore harinya, saya mengajak anak ke Era Mart. Rencana utamanya adalah mencari perangkap tikus untuk dipasang di rumah. Kami juga sekalian membeli beberapa camilan. 

Sesampainya di rumah, saya mulai menyicil laporan visitasi. Saat ini, saya baru berhasil merampungkan beberapa butir. Rencananya, besok saya akan melanjutkannya sedikit demi sedikit di kantor.

Kira-kira lebih banyak mana, takaran air yang terbuang sia-sia dari keran tadi atau porsi nasi yang saya habiskan gara-gara sambal terasi?

Cobaan Samarinda

12 September 2026

Hari ini kita masih terus menunggu turunnya hujan. Kebetulan hari ini adalah hari Sabtu. Jadi, jadwal kerja saya sedang libur. Sebenarnya, ada kegiatan fun walk di kampus. Namun, saya tidak bisa ikut berpartisipasi.

Hari ini saya mencoba mengecek ulang dokumen pekerjaan. Sayangnya, progresnya masih belum terlalu maksimal.

Malam harinya, listrik di rumah tiba-tiba padam. Oleh karena itu, kami memutuskan jalan ke Big Mall. Ternyata, mal tersebut sangat penuh. Bahkan, semua tempat makan memberlakukan waiting list. Pertama, kami mendatangi restoran Lapangan Tembak. Sayangnya, tempat itu sudah penuh. Kemudian, kami pergi ke Hypermart. Niatnya ingin mencari kue kering keju. Ternyata, stoknya sudah habis terjual. Lalu, kami beralih ke toko roti Mako. Saya membeli sepotong kue red velvet. Sementara itu, istri saya membeli milk bun rasa susu.

Selanjutnya, kami mencoba mampir ke restoran Cabe Merah. Namun, tempat itu juga penuh dengan antrean. Kami pun bergeser ke area food court. Sayangnya, tidak ada makanan yang cocok di lidah. Di dekat area tersebut sebenarnya ada sebuah restoran ramen. Kami sempat ingin mencoba makan di sana. Ternyata, restoran itu juga antre. Akhirnya, kami memutuskan untuk pulang. Di tengah jalan, kami mampir makan Nasi Goreng Damar Wulan. Rasanya memang lumayan. Tetapi, rasanya sudah tidak seenak zaman dulu.

Sesampainya di rumah, alhamdulillah lampu sudah kembali menyala. Saat ini kondisi Kota Samarinda memang sedang serba sulit. Sungai Mahakam mulai mengering. Sehingga, aliran air PDAM menjadi sangat susah. Bahkan, kebakaran lahan mulai memicu kabut asap. Selain itu, warga harus antre panjang hanya untuk membeli Pertalite. Penderitaan ini semakin lengkap karena listrik PLN tiba-tiba ikut padam.

Paket cobaan beruntun di Samarinda ini rasanya sudah sangat cukup, jangan sampai candaan lama tentang PLN yang menyebut ini bukan pemadaman bergilir melainkan penyalaan bergilir benar-benar terulang kembali.

Pulang dan Anak

11 September 2026

Hari ini adalah hari kedua saya di Bengalon. Saya di sini masih sama-sama menunggu turunnya hujan. Warga Bengalon bahkan sudah mulai membeli air bersih. Sebab, sumur-sumur mereka kini sudah mengering.

Agenda saya hari ini berfokus pada kegiatan berkeliling sekolah. Saya bertugas mengecek kondisi sarana dan prasarana. Selain itu, saya juga harus memeriksa kembali kelengkapan dokumen.

Pagi ini saya sarapan nasi goreng di penginapan. Saya menyantapnya dengan tambahan sambal terasi. Ternyata, rasanya sungguh sangat enak. Semalam saya juga membeli nasi goreng di warung sebelah penginapan. Namun, rasanya justru terasa biasa saja. Tahu begitu, saya tentu akan memesan nasi goreng di penginapan saja dari awal.

Siang harinya, saya menyempatkan makan nasi Padang sebelum berangkat salat Jumat. Sayangnya, hidangan tersebut kurang cocok di lidah saya. Nasi yang disajikan bertekstur terlalu pulen. Padahal, masakan Padang itu paling cocok menggunakan jenis beras yang *ngepyar*. Selain itu, telur dadarnya juga terasa terlalu banyak campuran tepung.

Sore harinya, saya langsung bertolak kembali ke Samarinda. Rute kepulangan kami melewati Bengalon, Sangatta, Bontang, lalu perlahan masuk ke Samarinda. Perjalanan darat ini terasa lumayan menguras tenaga. Untungnya, kondisi jalanan yang kami lewati sudah relatif bagus. Saya sungguh sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan anak wedhok di rumah.

Sumur kering dan nasi Padang yang kelewat pulen ini memang sedikit mengecewakan, tetapi bayangan bertemu anak sukses menyapu habis semua kelelahan di sepanjang jalan.