Libur Makan Limpa

30 Agustus 2026

Hari ini hujan belum juga turun. Suasananya persis seperti kemarin dan hari-hari sebelumnya. 

Karena kebetulan ini adalah hari libur, saya hanya bersantai di rumah sambil bermain ponsel.

Pagi harinya, saya sarapan dengan lauk limpa goreng. Menurut saya, jeroan sapi yang paling enak adalah limpa. Bahkan saat menyantap Coto Makassar, saya pasti hanya memesan isian limpa atau campuran limpa dan daging. Begitu pula saat hari raya kurban, saya selalu berusaha meminta bagian limpa. Hari ini istri sengaja membeli menu spesial tersebut di Pasar Ijabah. Sebab, stok limpa ini tidak selalu ada dan terkadang harus dipesan terlebih dahulu. Menu sarapan ini semakin lengkap dengan tambahan telur dadar dan sambal bawang. Selain itu, ada juga hidangan sayur pepaya muda bumbu santan kuning. Lalu, istri turut membelikan buah jambu air dan jeruk untuk dibuat minuman.

Siang harinya, saya memutuskan untuk tidur seharian. Menjelang sore, saya beranjak jalan-jalan ke tepian di Teras Samarinda. Saya sempat membeli pentol rebus seharga dua puluh ribu rupiah. Sayangnya, rasa pentol tersebut ternyata kurang memuaskan. Oleh karena itu, saya akhirnya kembali membeli Pizza Candu dan dimsum Sumbuddy.

Setelah waktu Magrib tiba, saya langsung bersiap untuk makan malam. Lauk utamanya tentu saja kembali menyantap limpa goreng. Sayurnya juga masih sama persis seperti hidangan sarapan pagi. Namun, malam ini ada tambahan menu berupa empal goreng.

Lebih mengecewakan mana, kemarau panjang tanpa hujan atau menyantap pentol mahal yang kurang enak?

Gemoy Ngantuk

29 Agustus 2026

Hari ini rasanya sungguh sangat mengantuk. Bahkan, rasanya sengantuk saat jarum jam menunjuk pukul sebelas malam. 

Hari ini saya menghabiskan waktu seharian di rumah. Tidak banyak aktivitas yang saya lakukan.

Pagi harinya, saya menyeduh kopi buatan sendiri. Kemudian, sekitar pukul sepuluh pagi saya sarapan. Menunya adalah sayur bening bayam dan ikan layang. Lalu, ada tambahan lauk telur puyuh serta kulit ayam goreng. Rasanya sungguh enak dan kuah beningnya segar. Selain itu, istri juga merebus kacang tanah untuk camilan. Kacang tersebut dipresto sehingga teksturnya menjadi sangat lembut. Setelah kenyang, saya langsung tertidur seharian hingga sore hari.

Sore harinya, saya berkunjung ke rumah eyang. Di sana ada keponakan saya yang berkuliah di ITS Surabaya. Namanya adalah Naufal Tsaqif dan anaknya gemoy. Saat ini dia sedang menjalani kuliah praktik di Balikpapan. Namun, besok dia harus segera kembali ke Surabaya. Sebab, hari Senin besok dia sudah mulai masuk kuliah.

Dari rumah eyang, saya meluncur ke Teras Samarinda. Tujuannya adalah membeli dimsum Sumbuddy. Sayangnya, varian yang tersisa hanya saus mentai. Padahal, saya jauh lebih menyukai varian saus putih atau brulee. Setelah itu, saya melihat ada penjual pizza bernama Candu. Saya pun iseng mencoba membelinya. Ternyata, rasanya juga sangat enak.

Saat Magrib tiba, saya bergegas pulang ke rumah. Sebab, rencananya malam ini saya masih ingin menyantap sisa sayur bening tadi pagi.

Lebih menggemaskan mana, pipi keponakan yang gemoy atau lembutnya kacang rebus presto buatan istri?

Tahu Kangkung

28 Agustus 2026

Hari ini cuaca sungguh sangat kering. Bahkan, rasanya sekering sungai yang mulai kemasukan air laut.

Agenda hari ini adalah mengikuti kegiatan penguatan program studi. Adapun materi utamanya adalah mendudukkan posisi prodi di dalam rumah besar kementerian. Sementara itu, kudapan paginya berupa kue bolu dan keripik pisang. Selain itu, ada juga camilan asin isi sayuran yang saya lupa namanya. Tentu saja sajian kopi dan teh juga turut tersedia.

Lalu, menu makan siang hari ini terasa sangat enak. Panitia menyajikan mi goreng dengan ukuran mi yang besar-besar. Kemudian, ada ikan bakar berkuah dan ayam masak manis. Selain itu, ada sayur oseng labu siam yang sulit dibedakan dengan pepaya muda. Lalu, hidangan tersebut dilengkapi dengan sajian tongseng sapi yang lezat. Sore harinya, panitia menghidangkan tahu isi sayur. Tentu saja ini adalah gorengan favorit saya. Sehingga, saya sanggup menghabiskan hingga empat buah.

Menjelang sore, saya bergegas pulang. Selesai mandi, saya pergi ke rumah eyang untuk mengisikan token listrik. Saat mampir sebentar, saya malah dibawakan cokelat untuk anak-anak. Selain itu ibuk saya juga membawakan keripik singkong.

Menjelang magribnya, saya makan oseng kangkung buatan istri. Lalu, ada tambahan lauk telur puyuh masak cokelat. Bentuk dan rasanya persis seperti sate sundukan di HIK atau angkringan khas Solo. Sungguh rasanya sangat enak. Sebab, sejauh ini belum ada angkringan di Samarinda yang bisa membuat telur puyuh seenak di Solo.

Lebih sulit mana, membedakan oseng labu siam dengan pepaya muda atau mencari sate telur puyuh asli di Samarinda?