Metode Penerjemahan

                Secara harfiah, metode berarti cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan dikehendaki; cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yg ditentukan. Terkait penerjemahan, metode berarti rencana dan cara yang sistematis dalam melakukan penerjemahan. Seorang penerjemah haruslah memiliki metode penerjemahan yang jelas, yaitu melakukan penerjemahan sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Sebagai contoh, ketika akan menerjemahkan sebuah teks untuk anak-anak, penerjemah sudah merencanakan apakah akan menghilangkan istilah-istilah sulit yang mungkin akan menimbulkan kesulitan bagi pembaca sasaran ataupun tidak. Tentunya pemilihan suatu metode disertai dengan pertimbangan-pertimbangan yang matang mengenai pembaca sasaran, jenis teks, keinginan dan maksud pengarang teks, dan tujuan penerjemahan teks tersebut.
"While translation methods relate to whole texts, translation procedures are used for sentences and the smaller units of language. (Newmark, 1988: 81)
                Tidak seperti teknik penerjemahan yang berada pada tataran mikro, metode penerjemahan berada pada tataran makro. Dalam hal penelitian, jika teknik dapat dievaluasi dalam satuan linguistik kata, frasa, klausa dan kalimat; metode diteliti berdasarkan teks utuh secara keseluruhan bukan berdasarkan contoh per contoh kasus. Adapun penentuan metode dapat dilihat dari kecenderungan yang muncul dari teknik-teknik yang digunakan.
                Penelitian tesis ini mengacu pada metode penerjemahan menurut Newmark, sesuai dalam bukunya yang berjudul A Textbook of Translation (1988). Ada delapan metode penerjemahan, yang dikelompokkan menjadi dua bagian, cenderung mengacu pada BSu dan mengacu pada BSa. Berikut metode penerjemahan dalam diagram V,
SL Emphasis                                                                                                                            TL Emphasis
Word-for-word Translation                                                                                 Adaptation
Literal Translation                                                                           Free Translation
Faithful Translation                                                   Idiomatic Translation
Semantic Translation                        Communicative Translation

Gambar 1. Diagram V (Newmark 1988:45)
Metode berikut ini berorientasi pada BSu:
1. Penerjemahan Kata demi kata (Word-for-word Translation);
         Satuan lingual pada penerapan metode ini ialah pada tingkatan kata. Satu demi satu kata diterjemahkan secara urut, tanpa memperhatikan konteks. Istilah-istilah budaya dalam BSu pun diterjemahkan secara harfiah (literal). Metode ini dapat diterapkan dengan baik apabila struktur BSu sama dengan struktur BSa, atau teks BSu yang hanya berisi kata-kata tunggal--tidak dikonstruksi menjadi frasa, klausa maupun kalimat--sehingga tidak saling bertautan makna. Metode ini juga bisa dipakai ketika menghadapi suatu ungkapan yang sulit, yaitu dengan melakukan penerjemahan awal (pre-translation) kata demi kata, kemudian direkonstruksi menjadi sebuah terjemahan ungkapan yang sesuai.
2. Penerjemahan Harfiah (literal Translation);
           Metode ini masih sama seperti metode sebelumnya--kata demi kata, yaitu pemadanan masih lepas dari konteks. Metode ini juga dapat dipakai sebagai langkah awal dalam melakukan suatu penerjemahan. Perbedaannya terletak pada konstruksi gramatika BSu yang berusaha diubah mendekati konstruksi gramatika pada BSa.
3. Penerjemahan Setia (Faithful Translation);
           Penerjemahan dengan metode ini mencoba membentuk makna kontekstual tetapi masih tetap terikat pada struktur gramatika pada BSu. Penerjemahan ini berusaha sesetia mungkin terhadap BSu. Hal ini menimbulkan adanya ketidaksesuaian terhadap kaidah BSa, terutama penerjemahan istilah budaya, sehingga hasil terjemahan seringkali terasa kaku.
4. Penerjemahan Semantik (Semantic Translation);
           Terkait keterikatan dengan BSu, metode ini lebih luwes dibanding  metode penerjemahan setia. Istilah budaya yang diterjemahkan jadi lebih mudah dipahami pembaca. Unsur estetika BSu tetap diutamakan, tetapi disertai kompromi yang masih dalam batas wajar.
Metode berikut ini berorientasi pada BSa:
5. Adaptasi (Adaptation);
            Metode ini ialah metode yang paling bebas dalam penerjemahan. Maksudnya, keterikatan bahasa dan budaya terhadap BSu sangatlah tipis, hampir tidak ada, keterikatan justru lebih dekat pada BSa. Unsur-unsur budaya yang terdapat pada BSu diganti dengan unsur budaya yang lebih dekat dan akrab pada pembaca sasaran. Metode ini sering dipakai pada penerjemahan teks drama atau puisi.
6. Penerjemahan Bebas (Free Translation);
        Metode penerjemahan bebas lebih mengutamakan isi (content) BSu daripada bentuk strukturnya. Kebebasan dalam metode ini masih sebatas bebas mengungkapkan makna pada BSa, sehingga masih dibatasi maksud atau isi BSu walaupun bentuk teks BSu sudah tidak dimunculkan kembali. Lebih lanjut, pencarian padanan pun cenderung berada pada tataran teks, bukan kata, frasa, klausa atau kalimat, sehingga akan tampak seperti memparafrasa Bsu.
7. Penerjemahan Idiomatik (Idiomatic Translation);
           Penerjemahan idiomatik mereproduksi pesan’ dari BSu tetapi cenderung mendistorsi nuansa makna. Ungkapan idiomatik yang ada pada BSu diterjemahkan seperti ungkapan biasa, bukan dengan ungkapan idiomatik pula. Hal ini disebabkan tidak ditemukannya ungkapan idiomatik yang sama pada BSa, sehingga  distorsi nuansa tidak bisa dihindari.
8. Penerjemahan Komunikatif (Communicative Translation).
              Metode penerjemahan ini berupaya sedemikian rupa agar menghasilkan makna kontekstual secara tepat, sehingga aspek bahasa dapat diterima dan isi dapat langsung dipahami oleh pembaca sasaran.

2 comments:

  1. gaada contohnya ya? thanks before

    ReplyDelete
  2. I read a statement in another source that method only focuses on its macro. do those methods is owned by its whole text?

    ReplyDelete