Godaan Limpa

26 September 2026

Kemarin hujan gerimis akhirnya turun. Alhamdulillah. Status WA langsung heboh membahas ini. Fenomena ini memang sangat dinanti-nanti.

Pagi ini saya mulai menyicil laporan akreditasi. Laporan ini adalah hasil visitasi di Muara Kaman dan Tenggarong kemarin. Saya harus menyicil karena pekerjaannya pasti belum selesai hari ini.

Saya mengerjakan laporan tersebut di warkop Hayyu. Awalnya saya ingin memesan seduhan V60. Namun, biji kopinya ternyata sedang kosong. Akhirnya, saya memesan es Americano saja. Saya sudah terbiasa dengan warkop ini. Oleh karena itu, saya lebih sering datang ke sini. Sekitar jam 12 siang, saya beranjak pulang ke rumah. Saya berhasil menyelesaikan penilaian individu untuk dua sekolah. Walaupun begitu, masih ada tahapan laporan lanjutan setelah ini.

Siangnya, saya menyantap masakan istri di rumah. Lauk utamanya adalah ikan asin masak coan-coan. Rasanya sungguh enak sekali. Dahulu, almarhum nenek beberapa kali pernah memasak hidangan ini. Waktu di Solo, nenek biasanya memakai ikan gereh besek. Selain itu, ada juga tambahan limpa goreng. Menurut saya, jeroan sapi yang paling enak adalah limpa. Rasanya bahkan lebih nikmat daripada daging sapi. Dicampur coto enak, lalu digoreng juga luar biasa lezat. Semuanya semakin pas dengan tambahan lalapan timun dan sambal terasi.

Sore harinya, saya dan istri pergi ke Tepian. Kami berdua membeli dimsum merek Sumbuddy. Ini adalah dimsum favorit keluarga kami. Dahulu, gerainya ada di Big Mall. Sekarang, mereka berjualan jika ada acara di Tepian. Sayangnya, ukuran dimsum ini agak mengecil. Bentuknya tidak lagi segendut dahulu. Karena sedang lapar-laparnya, enam biji dimsum itu langsung saya habiskan setiba di rumah.

Malam harinya, saya makan nasi dengan coan-coan ikan asin lagi. Saya sama sekali belum bosan karena rasanya memang seenak itu.

Ukuran dimsum Sumbuddy boleh saja menyusut drastis, tetapi porsi makan saya gara-gara coan-coan ikan asin dan limpa goreng justru semakin membesar.

0 comments:

Post a Comment