Cerpen - Gradasi

Sekitar satu mil dari luar batas kota Council Oklahoma, seorang pria bercelana jins belel dan sweter abu-abu lusuh, berdiri di Interstate 40 di jembatan layang Rute 81. Ketika itu masih pagi hari di awal November, matahari masih berada di ufuk Timur, dan ia menggosok-gosok tangannya dalam upaya untuk mengurangi dingin yang menusuk tulang. Kedelapan belas roda itu mulai bergerak cepat dalam arah yang sama. Truk-truk tersebut menuju ke timur ke kota Oklahoma, setelah itu tak ada yang tahu. Mereka bisa saja bertemu di I-35 kemudian ke selatan sampai Dallas atau Houston. Ke utara sampai kota Kansas, Omaha atau mungkin semua jalan ke Twin Cities. Mungkin juga tetap mengemudi ke timur sampai Memphis atau Nashville. Atau bisa juga memilih rute I-44 dan langsung ke St Louis. Dan sampai disana pada pertengahan sore hari.

Dia memutuskan untuk memilih jalur barat. Tampaknya jalan itu merupakan jalan yang jarang dipilih. Truk menuju ke barat dan harus melewati semua jalan menuju Amarillo agar dapat sampai ke tujuan. Dia bersama keluarganya pernah melintasi jalur barat ini. Perjalanan itu terjadi bertahun-tahun yang lalu, pada saat ia masih berumur 13 tahun ketika salah seorang pamannya menikah di Dumas, Texas. Sungguh menyenangkan. Ia ingat bagaimana dulu mereka menjulur lurus ke utara untuk sampai Amarillo. Meskipun tidak dijumpai gunung, ia bisa merasakan mereka naik ke dataran yang lebih tinggi, tapi ketika mereka sampai di Dumas, jalur hanya sedatar Oklahoma Barat. "Dataran tinggi" kata Ayahnya dari kursi depan. Dia tidak sependapat bahwa jalur itu merupakan dataran yang lebih tinggi.

Ia mengemudi dengan santai sepanjang jalan antarnegara bagian, namun detak jantungnya naik tiap kali melihat botol plastik, hanya untuk kecewa ketika melihat botol-botol plastik tersebut tidak berisi urin. Dia mengetahui bahwa para supir truk menggunakan obat agar tetap terjaga ketika mengemudi lintas negara. Paham pula jika kebanyakan dari mereka memilih buang air di botol dan melemparnya ke luar jendela daripada kehilangan waktu lima belas menit untuk berhenti buang air. Memang obat yang sudah di daur ulang dosisnya tidak semurni aslinya, tapi dalam jumlah tertentu urin masih dapat membuatnya terjaga selama lima jam.

Ia menggaruk koreng di tangan kirinya sambil terus mengemudi. Urat syarafnya mulai terasa sangat kaku. Ia pun memasukkan tangannya ke dalam saku, namun teringat akan lukanya ditangannya, maka ia menaikkannya ke wajah dan diletakkan di dahinya. Hal tersebut dilakukannya sepanjang jalan yang rusak. Ia menduga-duga seperti apa tampangnya sekarang. Mungkin seperti tunawisma, pada saat itu, ia merasa seperti itu. Pacarnya meninggalkannya seminggu sebelumnya, kurang dari sehari setelah aliran listrik dirumahnya dipadamkan. Dan beberapa hari kemudian aliran airnya pun dihentikan.

Kekasihnya pergi untuk tinggal bersama orang tuanya di Hobart. Yang berakibat, pertama, ia tak dapat bertemu dengannya lagi -- orang tua kekasihnya tidak pernah menyetujui dirinya karena gadis tersebut lebih muda delapan tahun darinya. Yang kedua, ayahnya yang seorang polisi bisa melakukan tes narkoba terhadap anaknya setiap dua minggu sekali. Gadis itu bodoh, begitu juga dengan orang tuanya. Dia tahu ini akan berakhir dengan buruk.

Dengan rasa sakit kepala yang terus menyerang, ia terus merenung selama melintasi jalan antarnegara bagian untuk mencari sisi yang lain. Dia berpikir tentang dinamika mengemudi -- bagaimana kemudi supir itu bisa di sebelah kiri. Apakah mereka benar-benar melalui sandaran kursi penumpang ketika melempar botol berisi urin? Hamparan rumput semakin jelas memisahkan sisi timur dan barat.

Dia bertanya-tanya apakah petugas patroli jalan raya akan melarangnya berjalan di median jalan ketika dia mengambil botol plastik yang tergeletak di rerumputan. Bisa dipastikan warna keemasan hampir lenyap tertutup rumput kering disekitarnya. Ia pun meluncur turun berlutut untuk mengambil botol itu. Tidak hangat. Dia bertanya-tanya apakah itu penting. Sambil berpikir tentang perpisahan dan bersatu kembali, ia pun menggoncang botol itu seperti jus. Lalu ia buka botol itu dan membauinya, sambil berharap ada cara untuk mengetahui apakah itu mengandung obat atau tidak. Dan menurutnya tidak ada.

diterjemahkan dari cerpen Gradation karya Geoff Peck

This story was originally published in Foliate Oak.

No comments :

Post a Comment