Penerjemahan istilah budaya

Penerjemahan istilah budaya sering menjadi masalah apabila dalam bahasa sasaran (BSa) tidak ditemukan konsep budaya yang sama sehingga tidak ditemukannya padanan yang tepat. Dalam Venuti (2000:427), seandainya tidak ditemukan padanan konsep budaya yang tepat, istilah budaya tersebut tetap ditulis apa adanya. Namun perlu disertai catatan tambahan (footnote) dan daftar kata yang mengacu pada bagian teks yang memiliki konteks budaya tersebut. Hal tersebut dilakukan  untuk menerangkan konsep budaya yang dimaksud sehingga pembaca bisa memahami hasil terjemahannya. Sebaliknya, apabila konsep budaya yang diterjemahkan ditemukan pada BSa, tentunya penerjemahannya akan lebih mudah menemukan padanan dengan tepat tanpa adanya footnote ataupun daftar kata dari istilah budaya tersebut.
Berikut temuan istilah budaya dalam teks.
1. Teknik peminjaman alamiah
No
Istilah Budaya
Teknik Penerjemahan
BSu
BSa
1
culinary
kuliner
Peminjaman alamiah
2
satay
sate
Peminjaman alamiah
Teknik peminjaman alamiah dilakukan dengan mempertahankan BSu dalam teks terjemahan (BSa). Namun, peminjaman disertai penyesuaian lafal pada BSa. Hasil temuan diatas, kedua istilah tersebut dikenal dalam BSa, hanya saja dengan pelafalan yang disesuaiakan dengan BSa.

2. Teknik peminjaman murni
No
Istilah Budaya
Teknik Penerjemahan
Bsu
Bsa
1
batik
batik
Peminjaman murni
2
solo batik carnival
solo batik carnival
Peminjaman murni
3
warung
warung
Peminjaman murni
4
hik
hik
Peminjaman murni
5
jadah
jadah
Peminjaman murni
6
melting pot
melting pot
Peminjaman murni

Teknik peminjaman murni dilakukan dengan mempertahankan BSu sama persis pada teks BSa. Mengingat istilah yang diterjemahkan adalah istilah budaya, ada 2 kemungkinan yaitu (1) konsep budaya dalam BSa telah dikenal dengan baik atau ditemukan dalam teks BSu, (2) konsep budaya pada BSa tidak dikenal dalam BSu, sehingga diperlukan keterangan tambahan.
Untuk kasus no.1 – 5, konsep budaya telah dikenal atau bahkan berasal dari BSu sehingga cukup diterjemahkan tetap atau tidak mengalami perubahan. Sementara, untuk kasus no.6, istilah melting pot tidak dikenal dalam BSa, sehingga diterjemahkan apa adanya, dan di dalam teks telah dijelaskan secara detail pada kalimat selanjutnya ditandai dengan apositif ( -- ).
Warung HIK is something of a melting pot in fact – a place for people to chat, speak without censorship and kill time with help of a glass of hot ginger tea and snack such as fried peanuts, various satay or the grilled sticky rice cakes known as jadah.
Adanya penjelasan tentang melting pot di kalimat selanjutnya dan dirasa dapat dipahami oleh pembaca, maka cukup diterjemahkan dengan apa adanya atau tidak diterjemahkan.
3. Teknik reduksi
No
Istilah Budaya
Teknik Penerjemahan
BSu
BSa
1
the grilled sticky rice cakes known as jadah
jadah bakar
reduksi

Pada the grilled sticky rice cakes known as jadah yang diterjemahkan menjadi jadah bakar menggunakan teknik reduksi.  Teknik tersebut dilakukan dengan penghilangan secara parsial tanpa menimbulkan distorsi makna. Frasa the grilled sticky rice cakes dihilangkan karena maknanya dinilai sudah cukup terwakili dengan jadah bakar.
4. Teknik adaptasi
No
Istilah Budaya
Teknik Penerjemahan
BSu
BSa
1
stalls
warung
adaptasi
2
pushcarts
gerobak dorong
adaptasi
3
snack
camilan
adaptasi

Teknik ini dikenal dengan adaptasi budaya. Hal ini dilakukan menggantikan istilah budaya dalam BSu dengan istilah budaya yang lebih akrad dikenal dalam BSa.
-        Stall secara harfiah berarti table or small open shop from which things are sold in the street’ atau stan, kios, took kecil dipinggir jalan. Akan tetapi dalam BSa ada istilah yang kebih familiar yaitu warung. Hal tersebut dilakukan agar mudah dipahami oleh pembaca sasaran.
-        Pushcarts dalam BSu dikenal dengan kereta dorong. Istilah gerobak dorong lebih familiar bagi pembaca teks sasaran.
-        Snack mengacu pada makanan ringan, sedangkan dalam BSa ada istilah yang lebih dikenal yaitu camilan.
5. Teknik penerjemahan harfiah
No
Istilah Budaya
Teknik Penerjemahan
BSu
BSa
1
hot ginger tea
teh jahe panas
harfiah
Dalam contoh temuan ini, penerjemah melakukan teknik harfiah. Teknik ini dilakukan  dengan penyesuaian kaidah bahasa dalam BSa. Hot à panas, gingeràjahe, teaà teh; Dalam BSu modifier diletakkan terlebih dulu, sedangkan dalam BSa head didepan.
Teknik penerjemahan yang digunakan dalam teks ada lima yaitu: peminjaman murni, alamiah, reduksi, adaptasi dan penerjemahan harfiah. Secara keseluruhan, dalam kasus penerjemahan istilah budaya diatas, konsep budaya ditemukan dalam BSa, bahkan beberapa istilah budaya tersebut justru berasal dari BSa.

No comments:

Post a Comment