Nilai Pas

27 September 2026

Hari ini adalah hari Minggu. Hari ini adalah hari libur. Saya masih dalam masa pemulihan badan. Sebab, saya baru saja pulang dari agenda visitasi di Muara Kaman dan Tenggarong.

Pagi ini saya menyeduh kopi dingin buatan sendiri. Kopi ini rasanya semacam *cold brew*. Untuk sarapan, saya makan tempe goreng dan hati goreng. Lauk ini disajikan bersama timun dan sambal. Alhamdulillah, perut saya menjadi sangat kenyang. Siang harinya, saya tidur untuk beristirahat.

Setelah bangun tidur, saya langsung makan siang. Masih ada sisa hati goreng dari sarapan tadi. Tetapi, kali ini ditambah sop bakso ikan dan camilan pempek Bontang. Alhamdulillah, semua makanannya enak.

Hari ini saya juga fokus menemani anak belajar. Besok Senin dia ada jadwal ulangan mata pelajaran PJOK dan Al-Islam. Cara belajarnya adalah membaca materi dan membaca latihan soal. Kalau sudah selesai, istri saya akan memberikan pertanyaan tentang isi materinya. Mudah-mudahan anak saya bisa menjawab semuanya. Dan, semoga dia mendapat nilai yang sesuai, pas, dan cocok.

Di kelas, saya juga sering mengingatkan mahasiswa tentang konsep nilai ini. Kebanyakan mahasiswa selalu mengejar dan meminta nilai A. Padahal, nilai A itu belum tentu baik buat mahasiswa. Mintalah nilai yang sesuai, pas, dan cocok. Yaitu nilai yang bisa memacu kita untuk menjadi lebih baik lagi.

Malam ini, saya berencana makan bakso. Saya ingin meracik kuahnya menjadi pedas, manis, dan asam. 

Mahasiswa saya nasihati supaya mencari nilai yang pas, termasuk meracik kuah bakso. 

Godaan Limpa

26 September 2026

Kemarin hujan gerimis akhirnya turun. Alhamdulillah. Status WA langsung heboh membahas ini. Fenomena ini memang sangat dinanti-nanti.

Pagi ini saya mulai menyicil laporan akreditasi. Laporan ini adalah hasil visitasi di Muara Kaman dan Tenggarong kemarin. Saya harus menyicil karena pekerjaannya pasti belum selesai hari ini.

Saya mengerjakan laporan tersebut di warkop Hayyu. Awalnya saya ingin memesan seduhan V60. Namun, biji kopinya ternyata sedang kosong. Akhirnya, saya memesan es Americano saja. Saya sudah terbiasa dengan warkop ini. Oleh karena itu, saya lebih sering datang ke sini. Sekitar jam 12 siang, saya beranjak pulang ke rumah. Saya berhasil menyelesaikan penilaian individu untuk dua sekolah. Walaupun begitu, masih ada tahapan laporan lanjutan setelah ini.

Siangnya, saya menyantap masakan istri di rumah. Lauk utamanya adalah ikan asin masak coan-coan. Rasanya sungguh enak sekali. Dahulu, almarhum nenek beberapa kali pernah memasak hidangan ini. Waktu di Solo, nenek biasanya memakai ikan gereh besek. Selain itu, ada juga tambahan limpa goreng. Menurut saya, jeroan sapi yang paling enak adalah limpa. Rasanya bahkan lebih nikmat daripada daging sapi. Dicampur coto enak, lalu digoreng juga luar biasa lezat. Semuanya semakin pas dengan tambahan lalapan timun dan sambal terasi.

Sore harinya, saya dan istri pergi ke Tepian. Kami berdua membeli dimsum merek Sumbuddy. Ini adalah dimsum favorit keluarga kami. Dahulu, gerainya ada di Big Mall. Sekarang, mereka berjualan jika ada acara di Tepian. Sayangnya, ukuran dimsum ini agak mengecil. Bentuknya tidak lagi segendut dahulu. Karena sedang lapar-laparnya, enam biji dimsum itu langsung saya habiskan setiba di rumah.

Malam harinya, saya makan nasi dengan coan-coan ikan asin lagi. Saya sama sekali belum bosan karena rasanya memang seenak itu.

Ukuran dimsum Sumbuddy boleh saja menyusut drastis, tetapi porsi makan saya gara-gara coan-coan ikan asin dan limpa goreng justru semakin membesar.

Anggaran, Gas dan Galon

25 September 2026

Pagi yang cerah. Namun, badan belum sepenuhnya pulih. Pagi ini saya kembali ditemani kopi hitam.

Hari ini saya mengajar kelas pengganti. Materinya tentang penilaian kualitas terjemahan. Ini materi terakhir sebelum ujian tengah semester. Insyaallah, ujian dilaksanakan minggu depan.

Setelah mengajar, saya mengikuti rapat terbatas. Agendanya membahas sisa anggaran yang belum terealisasi. Pembahasannya penting, sehingga harus segera ditindaklanjuti.

Selesai rapat, saya memilih pulang lebih cepat. Badan masih kurang enak. Karena itu, istirahat menjadi prioritas.

Siang ini, istri berencana mengikuti lomba tumpeng pada acara Dies Natalis Unmul. Semoga acaranya lancar dan hasilnya membanggakan.

Sesampainya di rumah, ternyata gas habis. Galon juga habis. Saya pun memesan keduanya kepada tetangga. Sekarang tinggal menunggu diantar.

Hari ini mengajarkan satu hal: bukan hanya anggaran yang perlu direalisasikan, gas dan air pun ternyata menuntut hal yang sama.

Nasi Kuning Kaltim

24 September 2026

​Pagi ini, saya menyeduh kopi hitam yang diracik agak manis. Saya juga masih terus berharap turunnya hujan. Untuk sarapan, saya menyantap nasi kuning. Di Bumi Kaltim ini, nasi kuning khas daerah sini hanya punya dua pilihan rasa. Pilihannya adalah antara enak atau enak banget.

​Hari ini adalah kegiatan visitasi hari kedua. Saya masih melanjutkan sesi tanya jawab dengan para guru. Namun, tahapan yang paling lama dan menyita waktu adalah proses telaah dokumen.

​Pada siang harinya, saya makan ikan nila bakar. Rasanya sangat enak. Bumbunya juga terasa cukup manis di lidah.

​Akhirnya, saya tiba kembali di rumah. Istri saya sudah menyiapkan semangkuk bakso. Sepulang dari perjalanan jauh, menyantap makanan berkuah hangat memang menjadi pilihan yang paling nikmat.

​Sementara itu, baju kotor selama perjalanan sudah menumpuk. Tumpukan pakaian tersebut tentu harus segera dicuci. Di sisi lain, besok saya sudah ditunggu oleh jadwal rapat. Selain itu, ada juga jadwal mengajar kelas pengganti besok. Padahal, badan ini sebenarnya masih terasa sangat capek.

​Ternyata di Kaltim ini pilihan rasa nasi kuning memang hanya ada enak dan enak banget, tetapi untuk urusan nasib setelah pulang visitasi, pilihannya hanya ada capek dan capek banget.

Kopi Manis Pagi

23 September 2026

Hari ini adalah hari yang biasa. Tetapi, pagi ini badan saya sudah terasa pegal. Padahal, saya belum melakukan aktivitas apa-apa.

Pagi ini saya menyempatkan diri meminum kopi manis. Padahal, biasanya saya rutin meminum kopi hitam yang pahit. 

Setelah itu, saya lanjut berangkat ke sekolah. Ini adalah agenda visitasi hari pertama. Jadwal hari ini adalah observasi kelas dan wawancara. Lalu, besok rencananya saya akan mengecek dokumen secara penuh. Jumlah siswa di sekolah ini tergolong sedikit jika melihat lokasi geografisnya.

Siang harinya, saya makan nasi Padang. Tekstur nasinya pas, berbulir ngepyar dan tidak lengket. Lauknya adalah daging rendang. Porsi ini sukses membuat saya sangat kenyang. Cuaca hari ini terasa sangat panas. Sehingga, saya banyak meminum air es. 

Rupanya manisnya kopi dan dinginnya es hari ini tetap gagal menipu fisik usia empat puluhan yang sudah telanjur pegal sebelum bekerja.

Geser Sekolah

22 September 2026

Hari ini adalah hari Selasa. Saya kembali menunggu turunnya hujan. Suasana terasa berjalan sangat pelan.

Hari ini, saya telah menyelesaikan tugas di satu sekolah. Kemudian, saya lanjut bergeser ke sekolah selanjutnya. Alhamdulillah, jaraknya hanya sekitar dua jam perjalanan darat dari penginapan. Namun, kami tetap harus menyeberang sungai sebentar.

Sesampainya di penginapan, saya langsung beristirahat. Jadwal visitasi hari pertama baru akan dilaksanakan besok. Kegiatannya pasti berlangsung penuh seharian. Walaupun di jadwal tertulis selesai jam tiga sore, praktiknya tidak pernah seperti itu. Biasanya, kegiatan baru tuntas sekitar pukul lima sore. Tetapi, hal ini juga sangat tergantung pada respons pihak yang diwawancarai.

Saat tiba di penginapan tadi, saya menyantap ikan nila goreng. Sambalnya terasa terlalu manis. Meskipun begitu, rasanya masih lumayan oke juga.

Malam ini, saya berencana melakukan rutinitas seperti biasa. Saya akan mengecek berkas-berkas visitasi lebih awal. Langkah ini merupakan persiapan wajib untuk penilaian besok.

Jadwal visitasi tertulis tuntas jam tiga sore tetapi realitanya selalu molor hingga jam lima, persis seperti rasa sambal ikan nila hari ini yang meleset dari ekspektasi namun tetap habis dinikmati.

Harta Karun Kubangan

21 September 2026

Hari ini udara sangat berasap. Kebakaran hutan itu nyata. Kejadian ini ada tepat di depan mata.

Pagi ini ada agenda visitasi. Kegiatannya sebenarnya hanya tiga macam. Yaitu telaah dokumen, wawancara, dan observasi. Kami mengecek semua dokumen sekolah. Kami juga mewawancarai semua warga sekolah. Mulai dari kepala sekolah, guru, siswa, hingga wali siswa. Lalu, kami mengobservasi pembelajaran di kelas. Kami juga mengecek seluruh sarana dan prasarana sekolah.

Sekolah ini masuk kawasan 3T. Yaitu daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar. Listrik di sini hanya mengandalkan tenaga surya. Tenaga ini hanya kuat menyala beberapa menit saja. Jika cuaca mendung, listrik sudah pasti mati. Sinyal telepon juga sangat sulit dicari. Warung jualan juga tidak punya banyak pilihan. Nama dusun ini sangat mantap. Namanya adalah Dusun Liang Buaya.

Dari dermaga Muara Kaman, kami masih harus naik perahu ces. Punggung saya terasa sangat pegal selama menaiki perahu kecil ini.

Di perjalanan balik ke penginapan, kami melihat kebakaran hutan lagi. Banyak orang menuduh ini ulah pembuka lahan sawit. Tetapi, kali ini alasannya berbeda. Area ini sebelumnya adalah semacam rawa. Saat ini airnya sedang surut parah. Lahan ini sengaja dibakar oknum. Tujuannya untuk mencari sisa-sisa kubangan akibat kekeringan. Di kubangan itulah tersimpan harta karun.

Satu kubangan bisa berisi sampai 200 kilogram ikan. Oknum tidak usah merawatnya. Mereka juga tidak perlu repot memancing. Lahan ini harus dibakar karena tanamannya sangat tinggi. Sehingga, kubangan air tidak terlihat dari luar. Tetapi, setelah dibakar, titik-titik kubangan ini akan langsung terlihat. Di situlah ikan-ikan terjebak dan berkumpul pada sisa air yang ada.

Kabupaten Kaya

20 September 2026

Hari ini adalah hari Minggu. Seharusnya hari ini adalah hari libur. Tetapi, saya tetap berangkat untuk bekerja.

Saya menempuh perjalanan ke Muara Kaman. Saya berangkat dari rumah pada pukul sembilan pagi. Lalu, saya sampai di Muara Kaman sekitar pukul 11.45. Sesampainya di dermaga, ternyata perjalanan menuju sekolah masih harus dilanjutkan. Saya masih perlu naik perahu ces lagi. Dan, perahu jenis ini tidak banyak tersedia. Selain itu, tidak ada penginapan di sekitar kawasan sekolah. Jadi, saya memutuskan lebih baik menginap di Muara Kaman bagian kotanya saja.

Saya juga mendapat beberapa informasi tambahan. Kawasan ini ternyata masuk kategori daerah 3T. 3T itu berarti Tertinggal, Terdepan, dan Terluar. Sinyal telepon di sini tidak lancar. Aliran listriknya juga belum maksimal. Padahal, tempat ini berada di kabupaten terkaya se-Indonesia. Dan, sumbangan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari kabupaten ini sangat besar. Kenyataan ini sungguh terasa ironis.

Ekstra Kerupuk

19 September 2026

Pagi ini, saya dan anak kedua bangun sejak subuh. Kami berdua melaksanakan salat berjamaah. Setelah itu, kami lanjut memasak nasi dan menggoreng telur. Sementara itu, istri dan anak pertama sedang berhalangan. Oleh karena itu, mereka berdua bangun lebih siang.

Menu sarapan pagi ini awalnya adalah nasi dengan telur dadar. Namun, istri ternyata membuat mi ayam. Akhirnya, saya memilih untuk menyantap mi ayam buatan istri. Anak pertama saya hari ini mengikuti ekstrakurikuler Creative English di sekolah. Sedangkan, anak kedua saya hanya belajar melalui Zoom.
Sepulang menjemput anak, istri membawakan gorengan dan sebungkus gado-gado. Saya memang memesan gado-gado yang sangat pedas dengan ekstra kerupuk. Selain itu, istri juga membeli air kelapa murni. Rasanya sungguh segar. Siang harinya, saya pun langsung menyantap gado-gado tersebut.

Setelah makan siang, saya tertidur pulas. Saya baru terbangun saat magrib tiba. Pada sore harinya, istri ternyata membelikan Bakso Bintang Malang. Saat ini, ini adalah bakso urat yang paling enak menurut saya. Saya memakannya menggunakan taburan remukan emping. Rasanya benar-benar segar dan nikmat.

Tadi sore, saya juga sempat pergi ke Era Mart. Saya membeli air mineral Pristine ber-pH tinggi. Air ini dipersiapkan untuk bekal perjalanan besok. Rencananya, saya akan berangkat untuk melakukan tugas visitasi akreditasi.

Untuk makan malam, kami berencana membuat ayam saus. Resep masakan ini didapat dari TikTok. Ayam goreng tepung digeprek terlebih dahulu. Kemudian, dagingnya dimasak menggunakan mayones dan saus tomat. Supaya pedas, bumbunya tinggal ditambahkan cabai rawit dan sedikit kaldu Totole.

Mempersiapkan kesehatan dengan air mineral ber-pH tinggi untuk tugas akreditasi besok sepertinya menjadi sia-sia karena perut ini sudah digempur gado-gado super pedas, bakso urat, dan ayam saus TikTok seharian penuh.

Kado Brimo

18 September 2026

​Anak-anak masih belajar di rumah. Anak kedua belajar menggunakan Google Meet. Anak pertama menerima penugasan di rumah.

​Pagi ini saya berangkat ke kantor. Syukurlah, kabut asap sudah tidak separah kemarin.
​Hari ini ada acara yudisium untuk periode September. Acara ini diselenggarakan di gedung iLab Unmul. Pesertanya mencapai 70 mahasiswa. Jumlah ini lumayan banyak. Menariknya, sepertiga peserta adalah angkatan 2019. Mereka menghabiskan masa studi pas tujuh tahun.

​Selesai yudisium, saya langsung kembali ke kantor. Saya segera menyelesaikan laporan visitasi Kutim kemarin. Laporan tersebut sebenarnya sudah siap. Saya tinggal mengeklik tombol submit saja. Namun, saya memilih untuk mengendapkannya dulu. Rencananya, tombol itu baru akan saya klik besok.

​Sesampainya di rumah, saya makan sedikit nasi goreng ikan asin. Nasi goreng ini adalah sisa masakan sarapan tadi. Setelah itu, saya lanjut menyantap mi ayam. Keduanya adalah buatan istri yang rasanya sangat enak. Alhamdulillah.
​Hari ini saya berulang tahun yang ke-41. Lucunya, ucapan pertama justru datang dari aplikasi Brimo. Setelah itu, baru datang ucapan dari bapak, ibuk, dan kakak-kakak saya.
​Alhamdulillah, hari ini saya mendapat hadiah yang istimewa. Punggung saya diinjak-injak oleh kedua anak saya. Selain pijatan injakan, mereka juga mendoakan saya. Di setiap harinya, doa saya selalu berkisar pada urusan kesehatan dan keimanan.
​Kesehatan sangat penting karena sakit itu merepotkan dan berada di luar kuasa saya. Oleh karena itu, kesehatan benar-benar perlu dimohonkan. Selanjutnya adalah keimanan. Sama seperti kesehatan, keimanan ini juga perlu terus didoakan. Sebab, iman manusia itu selalu naik turun. Suatu kali kita bisa ingin sekali salat, tetapi di waktu lain kita bisa merasa sangat malas. Doakan saya agar selalu sehat dan tetap ber-Islam. Aamiin.

​Ternyata di usia ke-41 ini, sistem aplikasi perbankan bisa jauh lebih sigap mengingat hari lahir daripada manusia, tetapi pijakan kaki anak-anak di punggung tetaplah menjadi kado paling melegakan.

Asap Gerimis

17 September 2026

Pagi ini Samarinda diselimuti asap. Beberapa situs web menyatakan kondisi udara sangat berbahaya bagi pernapasan. Perjalanan ke kantor penuh dengan asap. Untunglah saya memakai masker.

Anak kedua saya sudah mendapat edaran belajar di rumah sejak semalam. Dia tentu saja merasa senang. Sementara itu, anak pertama baru mendapat edaran serupa pada pukul enam pagi. Situasi ini benar-benar darurat. Kita sangat membutuhkan masker. Suasana ini jadi mengingatkan saya pada zaman Covid-19 dahulu.

Saya sendiri berangkat ke kampus agak terlambat. Sebab, di grup WA kantor ada arahan untuk mengalihkan kelas menjadi online. Jadi, tidak ada kelas tatap muka hari ini. Namun, saya tetap ngantor karena ada rapat. Rapat ini mempertemukan para pimpinan FIB. Kami membahas bermacam-macam hal.

Di sela rapat, kami sadar perlunya membeli masker untuk antisipasi. Tetapi ternyata, stok masker di Samarinda sedang kosong. Saya mengecek harga di toko online, dan harganya sudah melonjak berlipat-lipat dari harga biasa.

Selesai rapat, saya langsung mengajar kelas pengganti. Kelas ini dimajukan karena minggu depan saya ada rencana visitasi. Saya akan turun ke sekolah di Muara Kaman. 

Setelah mengajar, saya menyantap makan siang. Bekal ini disiapkan oleh istri. Lauknya adalah ikan layang, sambal terasi, dan kerupuk.

Selesai makan, saya kembali fokus. Saya harus menyelesaikan laporan visitasi di Kutim. Saya bertahan di depan laptop sampai menjelang magrib. Sayangnya, laporan itu tetap belum selesai. Target saya besok harus tuntas. Mudah-mudahan bisa lekas rampung.

Setelah magrib, saya mampir ke rumah ibu. Katanya, HP beliau sedang rusak. Setelah saya cek, ternyata layarnya terus-menerus memunculkan pop-up iklan. Akhirnya, saya menggunakan panduan dari Gemini. Saya ikuti petunjuknya langkah demi langkah. Cara tadi sih berhasil, tetapi saya belum tahu apakah iklannya akan muncul lagi nanti. Saat pulang, ibu membawakan saya sebuah cincin hijau. Cincin itu adalah punya bapak.

Malam harinya, saya menyantap menu spesial. Hidangannya berupa sayur bening bayam dan ikan layang goreng. Sayur bayam ini diracik khas Solo. Bumbunya hanya memakai bawang merah dan kencur tanpa bawang putih. Gulanya ditaruh sebanyak dua sendok makan penuh, lalu diberi sedikit garam. Rasanya sungguh manis dan segar. Ini adalah bayam bening favorit saya.

Malam ini, Samarinda sempat gerimis sedikit sekali. Walaupun begitu, status WA di HP saya langsung heboh seketika. Ke depannya, saya akan melarang keras keluarga saya untuk mengeluh jika hujan turun.

Kira-kira lebih langka mana, stok masker di Samarinda saat darurat asap atau orang yang tidak update status WA saat gerimis pertama turun?

Layang Goreng Asap

16 September 2026

Membuka media sosial hari ini, saya melihat kabar bahwa beberapa wilayah di Samarinda akhirnya mulai diguyur hujan. Alhamdulillah. Kondisi udara di Samarinda belakangan ini memang sudah mulai terasa berasap akibat kemarau dan kebakaran lahan. Sepertinya, kita sudah harus mulai mengenakan masker lagi saat beraktivitas di luar ruangan.

Agenda akademik saya hari ini berfokus pada kelas penerjemahan. Materi yang saya sampaikan kepada mahasiswa masih sama dengan kelas kemarin, yakni membahas rincian teknik penerjemahan berdasarkan teori dari Molina dan Albir. Di luar tugas mengajar, rutinitas administratif fakultas juga tetap berjalan. Hari ini saya memaraf beberapa surat resmi FIB serta mengurus sejumlah dokumen penting yang membutuhkan tanda tangan persetujuan dari Dekan.

Selain itu, hari ini FIB juga menerima kedatangan tamu dari Jakarta. Tim ini datang untuk meninjau langsung kesiapan fasilitas fakultas kita yang akan menjadi lokasi penyelenggaraan kegiatan dari Kementerian Kebudayaan pada bulan Oktober mendatang, khususnya terkait lokakarya promosi budaya.

Sepulang dari kampus, saya menyempatkan diri mampir untuk membeli gorengan di tempat yang baru. Sayangnya, rasanya ternyata biasa saja. Namun, rasa kurang puas itu langsung terobati begitu saya sampai di rumah. Istri saya ternyata sudah membelikan bakso dari warung Bakso Bintang 86 di dekat rumah. Menikmati semangkuk bakso hangat yang diberi tambahan remukan emping benar-benar terasa mantap dan nikmat.

Malam harinya, perut saya kembali dimanjakan. Istri sudah menyiapkan makan malam berupa ikan layang goreng, lengkap dengan lalapan segar dan sambal. Alhamdulillah, saya makan dengan sangat kenyang malam ini.

Mengurus birokrasi dokumen dan memastikan kesiapan fakultas menyambut tamu kementerian memang cukup menyita fokus, tetapi rasa lelah itu selalu menguap begitu saja saat menyantap hidangan nikmat yang disiapkan istri di rumah.

Sambal Tengah Semester

15 September 2026

Pagi ini saya membaca berita yang menyebutkan bahwa intrusi air laut ke Sungai Mahakam sudah kembali pada batas normal. Alhamdulillah, pelayanan distribusi air PDAM pun kini sudah berangsur normal.

Sebenarnya pagi ini ada jadwal rapat, tetapi waktunya bertepatan dengan jam mengajar. Saya pun meminta izin kepada pimpinan untuk tidak mengikuti rapat dan memilih tetap masuk kelas. Saya harus mengambil keputusan ini karena kelas minggu lalu sudah terpaksa kosong, dan minggu depan pun rencananya akan kembali kosong. Terlebih lagi, jadwal ujian tengah semester sudah semakin dekat. Di kelas hari ini, saya menyampaikan materi mengenai teknik penerjemahan, khususnya merujuk pada teori yang dikemukakan oleh Molina dan Albir. Selesai mengajar, saya memeriksa beberapa berkas disposisi dari Dekan dan langsung meneruskannya kepada Kabag Umum untuk ditindaklanjuti.

Siang harinya, saya makan dengan lauk ayam goreng dan sambal buatan istri. Rasanya sungguh enak sekali. Lalu pada sore harinya, saya kembali menyantap sambal yang sama, tetapi kali ini disandingkan dengan lauk bebek goreng. Makan sore tadi terasa sangat nikmat dan mengenyangkan.

Malam ini, saya berencana untuk melanjutkan pekerjaan menyusun laporan akreditasi. Saya sengaja mengerjakannya dengan cara menyicil sedikit demi sedikit, karena saya tahu betul bahwa draf laporan tersebut tidak akan mungkin selesai dalam satu malam.

Mengejar ketertinggalan materi kuliah sebelum UTS rupanya cukup menguras energi, tetapi lelahnya langsung terbayar lunas oleh nikmatnya sambal buatan istri di rumah.

Bakso Keju

14 September 2026

Alhamdulillah. Semalam aliran air PDAM akhirnya kembali menyala. Saya pun sempat memenuhkan tandon air di rumah. Selain itu, kami juga bisa menuntaskan cucian baju.

Pagi ini saya kembali masuk ke kantor. Sebelumnya, saya bertugas PKM di Kutai Timur selama seminggu penuh. Tumpukan berkas disposisi di meja ternyata ada beberapa. Padahal, saya tetap mengerjakan disposisi secara daring saat berada di Kutim. Selanjutnya, pagi ini saya berencana menyelesaikan laporan kegiatan tersebut. Saya mengerjakannya dengan cara menyicil sedikit demi sedikit. Sebab, jumlah dokumen laporannya memang lumayan banyak.

Siang harinya, saya bergegas pergi ke apotek. Saya harus mengambil beberapa macam obat rutin. Salah satunya adalah obat penurun tekanan darah. Selain itu, saya juga membeli beberapa jenis suplemen vitamin. Sebelum sampai di rumah, saya menyempatkan untuk mampir sebentar. Saya membeli camilan di tempat gorengan Om Beg.

Sesampainya di rumah, saya menyantap gorengan tersebut bersama istri. Kemudian, saya langsung merebahkan diri untuk tidur siang. Kondisi badan saya memang belum terasa bugar sepenuhnya. Di usia empat puluhan ini, tubuh saya butuh waktu beberapa hari untuk pemulihan setiap habis dinas luar kota. Bahkan, kondisinya malah sering jatuh seperti orang sakit. Padahal, dulu badan ini selalu segar bugar sehabis menempuh perjalanan jauh. Sayangnya, fisik saya sekarang menjadi jauh lebih gampang lelah.

Sore harinya, saya bangun dan langsung menyantap bakso. Istri saya sengaja menggilingkan daging bakso ini di Pasar Kedondong. Rasanya sungguh sangat enak. Apalagi, bakso buatan sendiri ini diberi tambahan isian keju. Sementara itu, malam ini saya berencana makan menu yang lebih sederhana. Saya hanya ingin menyantap seporsi mi Indomie goreng.

Fisik rentan usia empat puluhan yang gampang rebah ini rupanya bisa seketika pulih hanya dengan melihat tandon air yang penuh dan menyantap semangkuk bakso isi keju buatan istri.

Targedi Keran

13 September 2026

Hari ini air PDAM tidak mengalir. Oleh karena itu, saya hanya bisa berharap pada stok tandon air di rumah. Sayangnya, sempat terjadi insiden kecil. Istri saya menyalakan keran air. Kemudian, ia menyuruh anak kedua saya untuk mematikannya. Karena kelupaan, keran tersebut menyala berjam-jam. Akibatnya, air bersih terbuang sia-sia di tengah kondisi sulit ini.

Pagi ini saya sarapan Indomie rebus. Sebenarnya, saya sudah sangat ingin memakannya sejak berada di Kutim. Namun, saat perjalanan saya harus makan makanan berat agar tubuh tetap fit. Indomie ini dimasak dengan balutan telur dadar yang penuh irisan bawang merah. Menurut Jahidul si pakar makanan sehat, campuran bawang-bawangan bisa mengurangi efek buruk mi instan. Walaupun begitu, saya jadi terheran-heran. Indonesia sudah merdeka sekian lama. Tetapi, mengapa kita belum bisa menciptakan makanan sehat yang rasa dan harganya setara Indomie?

Siang ini saya memilih tidur seharian. Badan saya masih terasa pegal-pegal. Saat bangun, istri sudah memasak ayam goreng. Hidangan ini disajikan bersama sambal terasi dan lalapan timun. Rasa sambal terasinya benar-benar enak luar biasa. Alhasil, saya menyantap nasi dalam porsi yang sangat banyak.

Sore harinya, saya mengajak anak ke Era Mart. Rencana utamanya adalah mencari perangkap tikus untuk dipasang di rumah. Kami juga sekalian membeli beberapa camilan. 

Sesampainya di rumah, saya mulai menyicil laporan visitasi. Saat ini, saya baru berhasil merampungkan beberapa butir. Rencananya, besok saya akan melanjutkannya sedikit demi sedikit di kantor.

Kira-kira lebih banyak mana, takaran air yang terbuang sia-sia dari keran tadi atau porsi nasi yang saya habiskan gara-gara sambal terasi?

Cobaan Samarinda

12 September 2026

Hari ini kita masih terus menunggu turunnya hujan. Kebetulan hari ini adalah hari Sabtu. Jadi, jadwal kerja saya sedang libur. Sebenarnya, ada kegiatan fun walk di kampus. Namun, saya tidak bisa ikut berpartisipasi.

Hari ini saya mencoba mengecek ulang dokumen pekerjaan. Sayangnya, progresnya masih belum terlalu maksimal.

Malam harinya, listrik di rumah tiba-tiba padam. Oleh karena itu, kami memutuskan jalan ke Big Mall. Ternyata, mal tersebut sangat penuh. Bahkan, semua tempat makan memberlakukan waiting list. Pertama, kami mendatangi restoran Lapangan Tembak. Sayangnya, tempat itu sudah penuh. Kemudian, kami pergi ke Hypermart. Niatnya ingin mencari kue kering keju. Ternyata, stoknya sudah habis terjual. Lalu, kami beralih ke toko roti Mako. Saya membeli sepotong kue red velvet. Sementara itu, istri saya membeli milk bun rasa susu.

Selanjutnya, kami mencoba mampir ke restoran Cabe Merah. Namun, tempat itu juga penuh dengan antrean. Kami pun bergeser ke area food court. Sayangnya, tidak ada makanan yang cocok di lidah. Di dekat area tersebut sebenarnya ada sebuah restoran ramen. Kami sempat ingin mencoba makan di sana. Ternyata, restoran itu juga antre. Akhirnya, kami memutuskan untuk pulang. Di tengah jalan, kami mampir makan Nasi Goreng Damar Wulan. Rasanya memang lumayan. Tetapi, rasanya sudah tidak seenak zaman dulu.

Sesampainya di rumah, alhamdulillah lampu sudah kembali menyala. Saat ini kondisi Kota Samarinda memang sedang serba sulit. Sungai Mahakam mulai mengering. Sehingga, aliran air PDAM menjadi sangat susah. Bahkan, kebakaran lahan mulai memicu kabut asap. Selain itu, warga harus antre panjang hanya untuk membeli Pertalite. Penderitaan ini semakin lengkap karena listrik PLN tiba-tiba ikut padam.

Paket cobaan beruntun di Samarinda ini rasanya sudah sangat cukup, jangan sampai candaan lama tentang PLN yang menyebut ini bukan pemadaman bergilir melainkan penyalaan bergilir benar-benar terulang kembali.

Pulang dan Anak

11 September 2026

Hari ini adalah hari kedua saya di Bengalon. Saya di sini masih sama-sama menunggu turunnya hujan. Warga Bengalon bahkan sudah mulai membeli air bersih. Sebab, sumur-sumur mereka kini sudah mengering.

Agenda saya hari ini berfokus pada kegiatan berkeliling sekolah. Saya bertugas mengecek kondisi sarana dan prasarana. Selain itu, saya juga harus memeriksa kembali kelengkapan dokumen.

Pagi ini saya sarapan nasi goreng di penginapan. Saya menyantapnya dengan tambahan sambal terasi. Ternyata, rasanya sungguh sangat enak. Semalam saya juga membeli nasi goreng di warung sebelah penginapan. Namun, rasanya justru terasa biasa saja. Tahu begitu, saya tentu akan memesan nasi goreng di penginapan saja dari awal.

Siang harinya, saya menyempatkan makan nasi Padang sebelum berangkat salat Jumat. Sayangnya, hidangan tersebut kurang cocok di lidah saya. Nasi yang disajikan bertekstur terlalu pulen. Padahal, masakan Padang itu paling cocok menggunakan jenis beras yang *ngepyar*. Selain itu, telur dadarnya juga terasa terlalu banyak campuran tepung.

Sore harinya, saya langsung bertolak kembali ke Samarinda. Rute kepulangan kami melewati Bengalon, Sangatta, Bontang, lalu perlahan masuk ke Samarinda. Perjalanan darat ini terasa lumayan menguras tenaga. Untungnya, kondisi jalanan yang kami lewati sudah relatif bagus. Saya sungguh sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan anak wedhok di rumah.

Sumur kering dan nasi Padang yang kelewat pulen ini memang sedikit mengecewakan, tetapi bayangan bertemu anak sukses menyapu habis semua kelelahan di sepanjang jalan.

Kemarau Visitasi

10 September 2026

Hujan di kawasan Kaltim masih juga belum turun. Saat ini saya berada di Bengalon dan kondisinya juga sama. Sumber air mulai mengering. Akibatnya, warga harus membeli air bersih. Sementara itu, aliran air PDAM di Samarinda juga mulai tersendat.

Hari ini adalah hari pertama kegiatan visitasi. Jadwalnya sangat padat seharian penuh sampai pukul lima sore. Kegiatannya meliputi observasi kelas dan sesi wawancara. Besok, rencananya saya akan melakukan telaah dokumen. Saya juga akan mengecek kelengkapan sarana dan prasarana. Selain itu, saya akan mewawancarai pihak yang belum atau sempat terlewat.

Di sela-sela kesibukan, kami beristirahat sejenak pada siang hari. Saya menyantap menu ikan nila bakar untuk makan siang.

Sore harinya, saya akhirnya tiba di penginapan. Saya langsung mandi dan beristirahat santai sambil bermain ponsel. Sekarang, saya sedang bersiap-siap untuk makan malam. Sepertinya, malam ini saya akan mencari semangkuk mi kuah.

Menuntaskan jadwal visitasi seharian ini ternyata sama menguras tenaganya dengan menanti tetes hujan di tanah Kaltim.

Sawit Gandul

9 September 2026

Hari ini saya harus kembali melanjutkan perjalanan. Rutenya bermula dari Muara Bengkal menuju kawasan Bengalon di Kutai Timur. Perjalanan darat ini memakan waktu hingga lima setengah jam. Sepanjang jalan, pemandangan di sisi kanan dan kiri terasa sangat monoton. Kami hanya melihat hamparan kelapa sawit dan pohon-pohon yang kayunya dijadikan bahan pembuat buku. Selain itu, kondisi jalanannya juga relatif rusak. Sehingga, kendaraan kami sama sekali tidak bisa melaju dengan cepat.

Di tengah perjalanan, kami menyempatkan mampir untuk beristirahat sebentar di sebuah masjid. Setelah itu, kami lanjut mencari tempat untuk mengisi perut. Pilihan kami akhirnya jatuh pada sebuah warung Melayu Pontianak. Saya langsung memesan menu nasi goreng khas Pontianak. Namun setelah dicicipi, cita rasanya ternyata cenderung manis.

Kami akhirnya tiba di Bengalon sekitar pukul dua siang. Setelah itu, saya langsung bergegas menuju tempat menginap. Syukurlah, fasilitas penginapan kali ini terbilang lumayan bagus. Sebab, kamarnya sudah dilengkapi dengan fasilitas air hangat dan pendingin ruangan. Lalu pada malam harinya, saya memutuskan untuk berjalan keluar. Saya sengaja mencoba kuliner nasi gandul untuk menu makan malam.

Menikmati fasilitas air hangat di penginapan ini nyatanya melegakan setelah rentetan jalanan yang rusak.

Debu-debu Almuni

8 September 2026

Ini adalah hari kedua saya di Long Mesangat. Jalanan di sini masih dipenuhi debu. Bahkan, tanaman di sekitarnya seolah kehilangan klorofil. Kondisi ini persis seperti Samarinda yang terus menunggu turunnya hujan.

Agenda hari ini lumayan padat. Saya harus melakukan observasi lingkungan sekolah. Lalu, kegiatannya bersambung pada telaah dokumen dan wawancara guru. Saat di perjalanan, kami sempat berhenti sejenak. Tanpa disangka, saya bertemu dengan alumni Sasing FIB. Kami pun asyik mengobrol dan bercerita. Saat ini dia sudah menjadi guru bahasa Inggris di sebuah SMA. Saya sempat bertanya mengenai gajinya. Ternyata, pendapatannya sudah terbilang lumayan. Kami lanjut bercerita tentang kabar dosen-dosen sasing sekarang. Selain itu, kami juga membahas urusan pekerjaan dan rencananya untuk lanjut kuliah.

Sesampainya di sekolah, saya langsung berkeliling. Saya meninjau area sekolah dari ujung ke ujung. Kemudian, saya mengambil beberapa foto beserta kelengkapannya. Selanjutnya, saya mulai menelaah dokumen. Ternyata masih ada beberapa berkas yang perlu disiapkan lagi. Saat sedang berada di sekolah, cuaca sebetulnya sempat akan hujan. Rintik kecil bahkan sudah mulai turun. Namun, tiba-tiba cuaca kembali berubah menjadi sangat panas.

Sore harinya, saya balik ke penginapan. Sebab, besok saya harus melanjutkan perjalanan menuju Bengalon melalui Rantau Pulung. Perjalanan tersebut akan memakan waktu hingga tujuh jam melewati jalan rusak dan berdebu. Sebelum sampai di penginapan, saya sempat mampir makan. Menunya adalah nasi Padang khas Medan. Menurut saya, bumbu dan rasanya memang agak unik. Sesampainya di penginapan, saya langsung mandi. Setelah itu, saya buru-buru melaksanakan salat jamak Zuhur dan Asar. Waktunya sangat mepet karena sudah mendekati azan Magrib. Malam harinya, saya menyempatkan makan mi kuah di dekat penginapan. Namun, rasanya standar saja seperti mi pada umumnya.

Menemukan alumni yang sukses bekerja di tengah jalanan berdebu ini rupanya jauh lebih enak daripada rintik hujan palsu yang tiba-tiba kembali panas.

Visitasi Sawit

7 September 2026

Pagi ini saya masih menanti turunnya hujan. Di media sosial, kabarnya Kota Balikpapan sudah mulai hujan. Alhamdulillah. 

Pagi ini saya mendapatkan sarapan dari penginapan. Menunya adalah nasi kuning dengan lauk telur. Uniknya, ini adalah telur rebus yang kemudian digoreng. Pokoknya, nasi kuning tidak pernah salah bagi lidah orang Samarinda. Setelah itu, saya juga sempat meminum secangkir kopi hitam Kapal Api.

Perjalanan menuju sekolah memakan waktu yang lumayan. Sebetulnya, jarak lokasi tersebut tidak terlalu jauh. Namun, kondisi jalannya belum rata disemen. Kami harus masuk melewati area hutan sawit. Sehingga, kendaraan tidak bisa melaju dengan cepat. Hari ini adalah hari pertama pelaksanaan visitasi. Agendanya adalah mewawancarai seluruh warga sekolah. Kegiatan ini ternyata lumayan menguras tenaga. Selain itu, saya juga sempat melakukan observasi ke dalam kelas.

Hari ini saya baru sampai di penginapan saat sudah cukup sore. Sebelumnya, kami menyempatkan mampir makan di jalan. Saya menyantap menu ayam goreng bagian dada. Saya memang tidak bisa menikmati ayam goreng bagian paha. Sebab, sepertinya ada aroma tertentu yang terasa kurang enak. 

Rencananya, besok saya akan berdiskusi dengan para guru sekaligus memeriksa kelengkapan dokumen. Tahapan ini biasanya paling banyak menyita waktu. Selain itu, rencananya besok juga akan ada observasi lapangan. Lalu, saya juga harus menyelesaikan sesi obrolan dengan kepala sekolah.

Sesampainya di penginapan, saya langsung bergegas mandi. Airnya terasa sungguh sangat menyegarkan. Setelah itu, saya pun sempat bersantai sejenak sambil meminum teh.

Menggali informasi dari warga sekolah seharian rupanya sama melelahkannya dengan menembus jalanan bergelombang di tengah rimbunnya hutan sawit.

Susu Debu

6 September 2026

Alhamdulillah, aliran air PDAM sudah kembali menyala pagi ini. Saya pun sempat memenuhkan tandon air di rumah. 

Hari Minggu ini adalah hari libur. Pagi ini saya sarapan dengan menu mihun. Mihun langganan ini dijual di perempatan KS Tubun menuju arah Pasundan. Teksturnya terasa sangat lembut. Istri saya juga membeli gorengan tahu isi sayur dan ote-ote. Gorengan tersebut dibeli di tempat penjual mihun yang sama. Selain itu, istri juga membelikan saya nasi kuning dengan lauk ikan haruan. Rasanya sungguh sangat enak. Sebagai orang kelahiran Samarinda, nasi kuning adalah menu sarapan yang paling cocok.

Sekitar pukul setengah sebelas, saya memulai perjalanan darat. Tujuannya adalah daerah Long Mesangat di Kutai Timur. Sebelum berangkat, saya sengaja meminum segelas susu. Kebiasaan ini merupakan salah satu trik perjalanan saya. Tujuannya agar saya bisa tertidur pulas di jalan. Tidur memang hal yang paling enak dilakukan saat menempuh perjalanan panjang. Oleh karena itu, meminum kopi adalah pilihan yang kurang pas untuk situasi ini.

Sekitar pukul dua belas siang, kami mampir di sebuah warung makan. Lokasinya berada di sekitaran Sebulu sebelum memasuki jalan HTI. Saya memesan menu nasi sop ayam dan segelas es jeruk. Setelah itu, kami mulai memasuki jalur jalan HTI. Jalanan tersebut terasa sangat penuh debu. Truk-truk pengangkut kayu juga tampak terus berseliweran. Kami pun sempat berhenti sejenak di sebuah pos pinggir jalan. Tujuannya adalah untuk menumpang buang air kecil.

Akhirnya, kami tiba di Muara Bengkal sekitar pukul setengah empat sore. Saya menginap di penginapan terdekat dari kawasan Long Mesangat. Sesampainya di penginapan, saya langsung mandi. Selesai mandi, saya berjalan mencari warung terdekat. Saya ingin mencari minuman es segar tetapi tidak menemukannya. Untungnya, saya mendapatkan sebotol Pocari Sweat dingin. Alhamdulillah rasanya sangat menyegarkan.

Malam harinya, saya makan sate ayam di sebelah penginapan. Rasanya seperti sate pada umumnya dan cukup enak. Sebelum tidur, saya menyempatkan diri untuk membaca dokumen. Saya mempelajari fail rangkuman dari berkas yang telah diunggah oleh pihak sekolah.

Menemukan minuman es segar di Muara Bengkal rupanya jauh lebih menantang daripada menemukan posisi tidur yang nyaman di sepanjang jalan berdebu.

PDAM Gudeg

5 September 2026

Sejak semalam, aliran air PDAM di rumah saya daerah Juanda tidak menyala. Padahal, saya tidak melihat ada pengumuman pemadaman di media sosial. 

Hari ini adalah hari Sabtu yang merupakan hari libur. Pagi ini saya hanya bertugas mengantar anak pergi ekskul di sekolahnya. Kemudian, istri saya yang ganti menjemputnya pulang.

Sekitar pukul sebelas, saya baru sarapan. Menunya adalah Gudeg Bu Susi yang berjualan di pinggir Jalan Siradj Salman. Untuk ukuran gudeg di Samarinda, rasanya sudah masuk kategori sangat enak. Tentu saja, rasanya masih kalah jika dibandingkan dengan Gudeg Hj. Ahmad di Jogja. Porsinya komplet dengan harga dua puluh lima ribu rupiah. Isiannya sudah memakai ayam, telur, tempe, dan krecek.

Menjelang sore, saya kembali makan berat. Kali ini menunya adalah sayur asem yang dibeli di warteg daerah Pasundan. Sayur asem di warung ini memang terkenal sangat sedap. Sebagai pelengkap, istri membelikan lauk ayam dari Mimi Chicken. Setelah makan, saya menyempatkan diri untuk tidur siang sebentar.

Lalu, saya pergi ke Eramart. Saya membeli roti, air mineral, dan pasta gigi untuk persiapan perjalanan besok ke Kutai Timur. Total belanjanya habis hingga seratus dua puluh ribu rupiah. Memang agak mahal karena saya membawa anak kedua. Dia asyik mengambil bermacam-macam camilan. Namun tidak apa-apa. Sebab, bocah ini memang paling gampang diajak pergi menemani saya. Sedangkan, kakaknya sekarang sudah mulai agak sulit diajak keluar rumah.

Untuk makan malam, kami memutuskan menyantap mi ayam. Sebetulnya, saya ingin membeli mi pangsit Jakarta di Jalan Siradj Salman. Sayangnya, warung langganan tersebut sedang tutup. Akhirnya, kami mencoba mi ayam di Jalan Antasari. Ternyata, rasanya kurang cocok di lidah kami. Sementara itu, istri menitip dibelikan minuman sarabba di Jalan Siradj Salman. Minuman sarabba di tempat ini memang terbukti benar-benar enak.

Mencari gudeg yang rasanya lezat di Samarinda ini rupanya jauh lebih mudah daripada mengharapkan aliran air PDAM menyala tanpa hambatan.

Hujan Timbil

4 September 2026

Alhamdulillah, kabarnya kawasan Loa Janan di Samarinda sudah diguyur hujan. Semoga saja kabut asap segera berkurang. Selain itu, air Sungai Mahakam juga bisa kembali terisi. Kadang saya berpikir, jangan-jangan Samarinda ini terkena kutukan akibat masifnya penebangan pohon. Kota ini punya Sungai Mahakam yang sangat besar. Namun, kalau tidak turun hujan, kita malah kekeringan. Lalu, begitu musim kemarau panjang, kebakaran hutan merajalela. Padahal, katanya kota ini masih dikelilingi banyak hutan. Tetapi, hujan sedikit saja bisa langsung memicu banjir. Kondisi ini memang terasa aneh dan sangat membingungkan.

Kegiatan pagi ini lumayan padat. Padahal, hari Jumat ini jadwalnya WFA atau bekerja dari mana saja. Pagi ini saya harus mengajar kelas pengganti. Sebab, kemarin jadwalnya sempat libur dan minggu depan saya berencana pergi ke Kutai Timur. Tentu saja, kelas pengganti ini sebenarnya tidak nyaman. Saya harus repot mencari waktu kosong lagi untuk mengajar. Mahasiswa pun juga merasakan hal yang sama. Mereka harus meluangkan waktu yang seharusnya bisa dipakai untuk kegiatan lain. Namun, saya tetap mengadakan kelas ini. Karena, materi untuk ujian tengah semester harus tuntas tersampaikan. Sebetulnya, mahasiswa ini pasti sangat senang jika kelas dibiarkan kosong. Bahkan, rasanya mereka mau-mau saja kalau sekadar mengisi presensi tanpa ada perkuliahan.

Saat sedang mengajar, saya tiba-tiba dipanggil untuk rapat. Tetapi, saya menyelesaikan kelas terlebih dahulu. Setelah itu, saya baru bergabung dalam rapat pimpinan terbatas. Kami membahas beberapa agenda rencana kegiatan fakultas terdekat. Salah satunya adalah keikutsertaan mahasiswa tari FIB Unmul untuk ajang Peksiminas. Waktu pelaksanaannya tinggal menghitung hari. Selain itu, hari ini juga ada informasi penting yang ditunggu-tunggu. Pemilihan Rektor atau Pilrek Unmul akhirnya akan segera dilaksanakan setelah mengalami beberapa kali penundaan.

Siang harinya, saya melaksanakan salat Jumat di masjid kampus. Khatib hari ini menyinggung masalah pelayanan masyarakat. Beliau berpesan agar kita tidak mempersulit urusan orang lain. Isi ceramah ini terasa sangat cocok dan pas sasaran. Sebab, jemaahnya banyak yang berprofesi sebagai dosen dan tenaga kependidikan Unmul. Sebelum jadwal mengajar tadi, saya juga sempat membimbing dua orang mahasiswa. 

Saat ini, penggunaan AI memang menjadi tantangan baru. Padahal, artificial intelligence ini harus bisa dimanfaatkan oleh original intelligence alias otak manusia. Jangan sampai kita malah yang dimanfaatkan oleh AI. 

Setelah semua urusan kampus selesai, saya mulai menyiapkan berbagai keperluan untuk tugas ke Kutim.

Sore harinya, saya tiba di rumah saat waktu hampir Magrib. Istri saya ternyata sudah membelikan dan menyiapkan makanan. Menunya adalah nasi bebek dengan bumbu hitam yang terasa sangat enak.

Sudah tiga hari ini mata saya timbilan. Oleh karena itu, malam ini saya mau mencari salep mata di apotek. Dulu ada kenalan pegawai apotek yang pernah merekomendasikan satu obat andalan. Namanya adalah salep mata Erlamycetin.

Samarinda yang dikelilingi air tetapi bisa kekeringan ini memang seaneh otak manusia yang perlahan rela dikendalikan oleh kecerdasan buatan.

Kemarau Capcai

3 September 2026

Hari ini status darurat hujan masih terus berlanjut. Kota Samarinda terasa sangat kering. 

Pagi ini rutinitas saya terasa cukup berbeda. Saya terjadwal melakukan presentasi di sebuah konferensi internasional. Nama acaranya adalah ICCL. Penyelenggaranya adalah kampus UIN Surakarta. Saya mempresentasikan artikel tentang penerjemahan defamiliarisasi. Gagasan ini diangkat sebagai usaha mempromosikan keberagaman budaya. Seperti biasa, sesi saya diwarnai dengan tanya jawab. Selain itu, ada juga sesi tanggapan dari pembahas.

Siang harinya, tugas presentasi saya akhirnya selesai. Saya pun langsung bergegas lanjut mengajar. Hari ini saya mengadakan kelas pengganti. Sebab, minggu depan kelas tersebut akan saya kosongkan. Materi hari ini membahas tentang efektivitas dalam penerjemahan. Lalu, saya menyambungnya dengan materi lanjutan. Isinya mengupas permasalahan yang berpotensi mengganggu proses penerjemahan.

Setelah semua selesai, badan terasa lumayan capek. Namun sebelum pulang, saya menemui mahasiswa bimbingan skripsi. Sebelumnya, kami sempat melakukan bimbingan secara daring. Ternyata hasilnya terasa kurang maksimal. Jadi, saya memutuskan untuk menyetop bimbingan online tersebut.

Sesampainya di rumah, saya langsung makan. Menunya adalah oseng-oseng kacang panjang, tahu, dan tempe. Sebagai pelengkap, ada tambahan lauk hati goreng. Alhamdulillah, perut saya terasa sangat kenyang. Malam harinya, saya kembali makan dengan menu capcai goreng. Rasanya sungguh sangat enak.

Malam itu juga, saya harus membeli dua galon air minum. Sebab, tukang galon langganan kami sedang kehabisan stok. Akhirnya, saya membeli galon tersebut di Indomaret.

Lebih menguras pikiran mana, menanggapi pertanyaan dari pembahas konferensi internasional atau membimbing mahasiswa skripsi yang lama?

Klorida Makna

2 September 2026

Hari ini Samarinda masih juga belum diguyur hujan. Akibatnya, kadar klorida di sungai kembali naik dan membuat kualitas air menjadi kurang maksimal. Kondisi ini sampai memaksa pihak PDAM untuk mematikan mesin operasional mereka. Saya hanya bisa berharap semoga hujan lekas turun di kota ini. 

Setibanya di kampus, saya langsung memulai hari dengan rutinitas administratif seperti biasa, yakni menyelesaikan beberapa lembar disposisi dari Dekan.

Setelah urusan tersebut beres, saya bersiap untuk jadwal mengajar. Hari ini saya mengampu mata kuliah ITS yang kini sudah memasuki minggu keempat. Materi yang saya sampaikan berfokus pada tipe-tipe penerjemahan yang disesuaikan dengan tujuan dan jenis teksnya. Setelah itu, perkuliahan berlanjut pada materi mengenai meaning in translation. Kami mengobrol panjang lebar tentang bagaimana sebuah teks memiliki lapisan-lapisan makna. Tentu saja, sebuah proses penerjemahan tidak boleh berhenti hanya sampai pada makna di permukaan saja, melainkan harus menukik lebih dalam.

Selesai mengajar, saya langsung kembali ke ruangan untuk menyelesaikan laporan pravisitasi. Rencananya, dalam waktu dekat saya akan bertugas untuk akreditasi sekolah ke kawasan Kutai Timur. 

Siang harinya, saya memutuskan untuk makan nasi Padang di dekat kampus. Ini memang warung nasi Padang favorit saya di sekitar sini. Saya memesan lauk ikan bandeng goreng dan telur dadar. Rasanya sungguh enak. Menariknya lagi, dengan dua macam lauk tersebut saya hanya perlu membayar sembilan belas ribu rupiah.

Beranjak siang, saya menyempatkan diri untuk mengikuti pembukaan international conference melalui Zoom. Sayangnya, jaringan internet saat itu sedang kurang maksimal. Insyaallah, besok adalah giliran saya untuk melakukan presentasi di acara tersebut. Oleh karena itu, saya menghabiskan waktu sore untuk menyiapkan file PPT presentasinya. 

Saat pulang ke rumah, ternyata istri sudah membungkuskan nasi campur yang dibelinya di dekat rumah. Lauk utamanya berupa ayam goreng tepung, lalu ditambahkan lagi dengan sepotong telur dadar buatan istri.

Lebih menantang mana, menggali lapisan makna terdalam sebuah teks atau menyiapkan materi presentasi di tengah koneksi internet yang kurang maksimal?

Kabut Klorida

1 September 2026

Kemarin status darurat kemarau resmi diumumkan. Bapak Walikota mengabarkan bahwa air laut mulai masuk ke sungai. Jika kadar klorida terlalu tinggi, maka mesin air PDAM harus segera dimatikan. 

Selain itu, pagi ini cuaca juga terasa sangat berkabut. Asap kebakaran hutan ternyata sudah sampai ke kawasan Samarinda. Akibatnya, anak-anak sekolah diminta untuk kembali memakai masker. Situasi ini seketika membuat saya teringat pada zaman pandemi Covid.

Setibanya di kampus, saya mengerjakan tugas administratif seperti biasa. Saya menyelesaikan beberapa disposisi dari Dekan. 

Setelah itu, saya mengajar mata kuliah ITS yang kini memasuki pertemuan ketiga. Materi hari ini mengupas tentang hal-hal mendasar dalam dunia penerjemahan. 

Selesai mengajar, saya sempat mengobrol santai bersama pimpinan. Kami membahas banyak hal, termasuk persiapan acara Peksiminas. 

Setelah itu, saya juga berdiskusi dengan Dekan saja terkait urusan tugas belajar. Saya telah menyusun jadwal tugas belajar dosen FIB secara bergiliran hingga tahun 2030. Urutan tersebut sudah tersusun rapi dan disepakati. Sehingga, tidak bisa jika ada dosen yang tiba-tiba ingin berangkat duluan.

Siang harinya, saya makan ayam bakar Mas Mentri. Rasanya lumayan enak. Meskipun, porsi nasi dan saus kacangnya tergolong sedikit. Sambil bersantai, saya asyik mengemil kacang kulit. Saya juga menyempatkan diri mendengarkan Podcast Seminggu. Hari ini saya memang sedang suka mendengarkan lagu-lagu di album lama The Killers melalui Spotify. Menjelang sore, ada pertunjukan untuk mahasiswa baru prodi Tari FIB. Acaranya berlangsung dengan sangat seru dan ramai.

Sore harinya, saya bergegas pulang. Saya mampir menjemput anak yang pulang sore karena ada kegiatan ekskul. Sebelum tiba di rumah, saya mampir sebentar ke rumah eyang. Tujuannya adalah untuk mengambil kartu ATM. Sebab, setiap tanggal satu saya selalu bertugas mengambil uang pensiun eyang dan ibu. Sesampainya di rumah, saya langsung menyantap bakso yang sudah disiapkan oleh istri. Lalu, saat waktu Magrib tiba, saya pergi ke ATM untuk mengambil uang sekaligus mentransfernya.

Lebih menyesakkan mana, menghirup tebalnya asap kebakaran hutan atau melihat sedikitnya bumbu kacang ayam Mas Mentri?

Tensi 154

31 Agustus 2026

Hari ini Samarinda masih terus berharap turunnya hujan. Bahkan, air laut perlahan mulai masuk ke Sungai Mahakam. 

Saya berangkat ke kantor seperti biasa. Kemarin saya baru saja memotong rambut karena sudah terasa agak gondrong.

Setibanya di kampus, saya menyelesaikan beberapa berkas paraf dan disposisi dari Dekan. Kemudian, urusan tersebut langsung saya teruskan kepada Kabag Umum. Setelah itu, saya menghadiri rapat keuangan. Rapat ini khusus membicarakan skema pembiayaan untuk acara Peksiminas. Insya Allah, tim tari dari FIB Unmul akan ikut tampil dalam ajang tersebut.

Sayangnya, hari ini tekanan darah saya mendadak naik menyentuh angka 154. Sehingga, badan saya terasa agak kurang enak. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk beristirahat dan pulang lebih cepat. Saat perjalanan pulang, saya menyempatkan mampir membeli gorengan di dekat flyover Juanda.

Sesampainya di rumah, saya langsung disambut dengan lauk favorit. Menunya masih berupa sajian limpa goreng yang super enak. Selain itu, hari ini juga ada tambahan menu berupa otak goreng.

Lebih mendebarkan mana, memantau naiknya air laut ke Mahakam atau melihat naiknya angka tensi darah ke 154?

Libur Makan Limpa

30 Agustus 2026

Hari ini hujan belum juga turun. Suasananya persis seperti kemarin dan hari-hari sebelumnya. 

Karena kebetulan ini adalah hari libur, saya hanya bersantai di rumah sambil bermain ponsel.

Pagi harinya, saya sarapan dengan lauk limpa goreng. Menurut saya, jeroan sapi yang paling enak adalah limpa. Bahkan saat menyantap Coto Makassar, saya pasti hanya memesan isian limpa atau campuran limpa dan daging. Begitu pula saat hari raya kurban, saya selalu berusaha meminta bagian limpa. Hari ini istri sengaja membeli menu spesial tersebut di Pasar Ijabah. Sebab, stok limpa ini tidak selalu ada dan terkadang harus dipesan terlebih dahulu. Menu sarapan ini semakin lengkap dengan tambahan telur dadar dan sambal bawang. Selain itu, ada juga hidangan sayur pepaya muda bumbu santan kuning. Lalu, istri turut membelikan buah jambu air dan jeruk untuk dibuat minuman.

Siang harinya, saya memutuskan untuk tidur seharian. Menjelang sore, saya beranjak jalan-jalan ke tepian di Teras Samarinda. Saya sempat membeli pentol rebus seharga dua puluh ribu rupiah. Sayangnya, rasa pentol tersebut ternyata kurang memuaskan. Oleh karena itu, saya akhirnya kembali membeli Pizza Candu dan dimsum Sumbuddy.

Setelah waktu Magrib tiba, saya langsung bersiap untuk makan malam. Lauk utamanya tentu saja kembali menyantap limpa goreng. Sayurnya juga masih sama persis seperti hidangan sarapan pagi. Namun, malam ini ada tambahan menu berupa empal goreng.

Lebih mengecewakan mana, kemarau panjang tanpa hujan atau menyantap pentol mahal yang kurang enak?

Gemoy Ngantuk

29 Agustus 2026

Hari ini rasanya sungguh sangat mengantuk. Bahkan, rasanya sengantuk saat jarum jam menunjuk pukul sebelas malam. 

Hari ini saya menghabiskan waktu seharian di rumah. Tidak banyak aktivitas yang saya lakukan.

Pagi harinya, saya menyeduh kopi buatan sendiri. Kemudian, sekitar pukul sepuluh pagi saya sarapan. Menunya adalah sayur bening bayam dan ikan layang. Lalu, ada tambahan lauk telur puyuh serta kulit ayam goreng. Rasanya sungguh enak dan kuah beningnya segar. Selain itu, istri juga merebus kacang tanah untuk camilan. Kacang tersebut dipresto sehingga teksturnya menjadi sangat lembut. Setelah kenyang, saya langsung tertidur seharian hingga sore hari.

Sore harinya, saya berkunjung ke rumah eyang. Di sana ada keponakan saya yang berkuliah di ITS Surabaya. Namanya adalah Naufal Tsaqif dan anaknya gemoy. Saat ini dia sedang menjalani kuliah praktik di Balikpapan. Namun, besok dia harus segera kembali ke Surabaya. Sebab, hari Senin besok dia sudah mulai masuk kuliah.

Dari rumah eyang, saya meluncur ke Teras Samarinda. Tujuannya adalah membeli dimsum Sumbuddy. Sayangnya, varian yang tersisa hanya saus mentai. Padahal, saya jauh lebih menyukai varian saus putih atau brulee. Setelah itu, saya melihat ada penjual pizza bernama Candu. Saya pun iseng mencoba membelinya. Ternyata, rasanya juga sangat enak.

Saat Magrib tiba, saya bergegas pulang ke rumah. Sebab, rencananya malam ini saya masih ingin menyantap sisa sayur bening tadi pagi.

Lebih menggemaskan mana, pipi keponakan yang gemoy atau lembutnya kacang rebus presto buatan istri?

Tahu Kangkung

28 Agustus 2026

Hari ini cuaca sungguh sangat kering. Bahkan, rasanya sekering sungai yang mulai kemasukan air laut.

Agenda hari ini adalah mengikuti kegiatan penguatan program studi. Adapun materi utamanya adalah mendudukkan posisi prodi di dalam rumah besar kementerian. Sementara itu, kudapan paginya berupa kue bolu dan keripik pisang. Selain itu, ada juga camilan asin isi sayuran yang saya lupa namanya. Tentu saja sajian kopi dan teh juga turut tersedia.

Lalu, menu makan siang hari ini terasa sangat enak. Panitia menyajikan mi goreng dengan ukuran mi yang besar-besar. Kemudian, ada ikan bakar berkuah dan ayam masak manis. Selain itu, ada sayur oseng labu siam yang sulit dibedakan dengan pepaya muda. Lalu, hidangan tersebut dilengkapi dengan sajian tongseng sapi yang lezat. Sore harinya, panitia menghidangkan tahu isi sayur. Tentu saja ini adalah gorengan favorit saya. Sehingga, saya sanggup menghabiskan hingga empat buah.

Menjelang sore, saya bergegas pulang. Selesai mandi, saya pergi ke rumah eyang untuk mengisikan token listrik. Saat mampir sebentar, saya malah dibawakan cokelat untuk anak-anak. Selain itu ibuk saya juga membawakan keripik singkong.

Menjelang magribnya, saya makan oseng kangkung buatan istri. Lalu, ada tambahan lauk telur puyuh masak cokelat. Bentuk dan rasanya persis seperti sate sundukan di HIK atau angkringan khas Solo. Sungguh rasanya sangat enak. Sebab, sejauh ini belum ada angkringan di Samarinda yang bisa membuat telur puyuh seenak di Solo.

Lebih sulit mana, membedakan oseng labu siam dengan pepaya muda atau mencari sate telur puyuh asli di Samarinda?

Scopus Bingka

27 Agustus 2026

Hari ini cuaca terasa cukup dingin. Dinginnya persis seperti AC bersuhu enam belas derajat di dalam kamar yang sempit. 

Agenda saya hari ini adalah mengikuti lokakarya strategi menulis artikel ilmiah. Pematerinya adalah pakar yang sangat andal. Beliau adalah Profesor Eri Kurniawan dari UPI.

Sementara itu, konsumsi lokakarya hari ini terbilang standar. Hidangannya bukan sesuatu yang terlalu istimewa. Untuk coffee break pagi, tersedia keripik singkong dan lemper isi ayam. Selain itu, ada juga bingka yang rasanya biasa saja serta sajian kopi. Lalu, menu makan siang disajikan agak komplet. Panitia menghidangkan tomyam, ikan filet, ayam, dan daging. Kemudian, ada juga tambahan sayur brokoli dan mihun goreng. Sedangkan untuk camilan sore, tersedia kacang goreng beserta brownies.

Di sisi lain, materi lokakarya hari ini sungguh berbobot. Prof. Eri sangat menekankan pentingnya mencari knowledge gap. Sebab, tujuh puluh persen artikel gugur akibat sekadar mengganti lokasi penelitian. Oleh karena itu, konteks lokal Indonesia harus dijadikan kekuatan untuk membangun teori baru. Selanjutnya, beliau memaparkan strategi pemetaan jurnal target. Penulis harus mencari jurnal yang memang membutuhkan topik tersebut. Sehingga, kita tidak boleh sekadar asal submit naskah.

Lalu, sesi lokakarya berlanjut ke klinik judul dan abstrak. Judul yang baik maksimal terdiri dari lima belas kata. Sedangkan, abstrak wajib memuat lima rumusan kalimat utama. Kemudian, materi beralih ke penulisan tinjauan pustaka dan metode. Tinjauan pustaka harus berupa sintesis argumen yang solid. Selain itu, bagian diskusi juga wajib menjawab pertanyaan krusial so what?

Sebagai tindak lanjut, seluruh peserta menyusun rencana kerja tiga puluh hari. Tujuannya adalah memastikan draf benar-benar siap dikirim.

Setelah acara selesai, saya bergegas pulang. Saat acara berlangsung, istri mengirim pesan WhatsApp. Ternyata dia membelikan camilan udang dari restoran Mie Gacoan. Sebab, menu mi di tempat tersebut memang kurang cocok di lidah kami.

Lebih sulit mana, menembus publikasi jurnal Scopus Q1 atau mencari bingka dengan rasa yang istimewa?

Kemarau dan Patin

26 Agustus 2026

Hari ini hujan belum juga turun. Setelah musibah kebakaran, layanan PDAM bisa jadi yang bermasalah.

Pagi ini saya mengajar mata kuliah ITS. Perkuliahan ini sudah memasuki minggu ketiga. Pertemuan sebelumnya sudah diisi dengan praktik menerjemahkan. Hari ini saya mengevaluasi hasil tugas tersebut. Selain itu, saya juga membahas berbagai istilah teknis dalam studi penerjemahan. Kemudian, kami mengupas definisi beserta proses dalam penerjemahan. Lalu, saya juga memaparkan kompetensi yang wajib dimiliki oleh seorang penerjemah.

Selesai mengajar, ada disposisi Dekan terkait peminjaman tempat. Urusan itu langsung saya teruskan kepada Kabag Umum. Setelahnya, saya mengadakan rapat singkat bersama WD 1 dan WD 3. Rapat ini khusus membahas koordinasi kegiatan untuk dua hari ke depan.

Siang harinya, saya memutuskan untuk pulang lebih cepat. Sebenarnya badan saya tidak sedang sakit. Namun, rasanya agak greges sehingga saya butuh istirahat. Sesampainya di rumah, istri ternyata sudah menyiapkan ikan patin bakar. Selain itu, ada juga tambahan gorengan dan pindang patin.

Bagi masyarakat Samarinda, ikan patin ini tentu sangat familiar. Tetapi, bagi istri saya yang pendatang dari Solo, ikan ini terasa sangat amis. Sehingga, dia kurang doyan menyantapnya. Padahal, saya sangat menyukai olahan patin, baik itu dibakar maupun dipindang.

Setelah makan, saya langsung tidur untuk beristirahat. Kemudian, saya baru terbangun pada pukul setengah enam sore. Alhamdulillah, sekarang badan saya sudah terasa enak kembali.

Lebih menguji kesabaran mana, menanti hujan atau menyatukan selera makan ikan patin di rumah?

Tahu Taktik

25 Agustus 2026

Hari ini cuaca terlihat sangat cerah. Langit sama sekali tidak mendung, apalagi berujung hujan.

Hari ini adalah hari libur peringatan Maulid Nabi.

Pagi ini, grup komunikasi asesor sudah mulai ramai. Artinya, saya harus segera bersiap untuk tugas akreditasi. Saya pun mulai menyusun laporan pravisitasi. Sebelum visitasi dilakukan, saya memang wajib membaca dokumen unggahan sekolah. Sehingga, saya bisa menyiapkan catatan terkait informasi yang masih perlu digali di lapangan nanti. Selain itu, saya juga terus berkoordinasi dengan rekan pasangan asesor. Tantangan terbesarnya tentu saja menentukan jadwal yang cocok bagi kami berdua. Mengingat, kami sama-sama memiliki agenda yang padat. Rencananya, visitasi ini baru akan dilaksanakan pada bulan September.

Saya mengerjakan laporan tersebut sambil menikmati seduhan kopi V60. Hari ini saya mencoba biji kopi yang sangat unik. Yaitu, varian Liberika Sepaku. Kopi liberika ini memang tergolong cukup jarang. Apalagi, ini adalah kopi asli dari kawasan Sepaku, Kalimantan Timur. Saya malah baru tahu kalau wilayah di sekitar IKN tersebut bisa menghasilkan kopi.

Dalam perjalanan pulang, saya menyempatkan membeli gorengan tahu isi sayur. Tahu ini khusus saya belikan untuk anak saya. Supaya, dia bisa menukarnya dengan kuota menit bermain ponsel. Syaratnya, satu buah tahu isi sayur bernilai dua puluh menit waktu bermain. Taktik ini terbukti sangat efektif untuk memasukkan asupan sayur ke tubuhnya. Sebab, jika tidak diakali seperti ini, dia sama sekali tidak mau menyentuh sayur.

Sesampainya di rumah, istri ternyata sudah membelikan mi ayam Jakarta dari Jalan Siradj Salman. Ini adalah sajian mi ayam yang sangat legendaris. Sebab, saya sudah menyantapnya sejak SD atau sekitar tiga puluh tahun yang lalu. Artinya, eksistensi warung ini sungguh luar biasa karena mampu bertahan selama itu. Meskipun, dulu lokasinya memang sering berpindah-pindah. Beruntungnya, anak-anak saya juga sangat menyukai mi ayam ini.

Selain itu, istri juga membungkuskan nasi campur dengan lauk dada ayam. Tetapi, nasi campur tersebut rencananya baru akan saya makan agak sore nanti.

Lebih menantang mana, menyinkronkan jadwal dua asesor sibuk atau mengakali anak agar mau memakan sayur?

Martabak Belitung

24 Agustus 2026

Hari ini langit mulai mendung. Namun, saya belum juga melihat turunnya hujan. 

Pagi ini, saya menyelesaikan beberapa disposisi dari Dekan. Isinya terkait peminjaman ruang dan permohonan dana kegiatan mahasiswa. Selain itu, saya juga memaraf usulan kenaikan pangkat dosen. Lalu, ada pula berkas paraf untuk dosen yang baru naik jabatan fungsional. Pagi harinya, saya mendapat informasi penting. Katanya, setengah tiga sore nanti akan diadakan rapat pimpinan.

Siang harinya, saya makan mi ayam bakso dengan tambahan tetelan. Rasanya lumayan enak. Meskipun, bumbu ayamnya terasa agak kemanisan.

Sore harinya, saya menghadiri rapat pimpinan yang cukup ramai. Ada banyak sekali agenda yang didiskusikan. Di antaranya adalah persiapan pelatihan penulisan jurnal tanggal 27 dan 28 ini. Kemudian, kami membahas rencana pembentukan task force persiapan operasional S2 Linguistik sekaligus SK-nya. Lalu, kami juga menetapkan pembicara acara serta berkoordinasi dengan Dirjen Promosi Budaya. Selain itu, ada evaluasi terkait Peksiminas serta rotasi koordinator prodi Tari, Etno, dan P2MF. Keluhan operasional juga tidak luput dibahas. Mulai dari urusan perjanjian ruang mahasiswa, perbaikan AC, bantuan biaya konferensi internasional, hingga perbaikan voltase listrik di ruang kelas.

Selesai rapat, saya bergegas menjemput anak kedua. Biasanya istri yang jemput. Rupanya, hari ini ada demonstrasi sopir di Samarinda. Oleh karena itu, istri saya sempat terjebak macet panjang saat menjemput anak pertama. 

Sesampainya di rumah, istri sudah membelikan nasi ayam Banjar. Rasanya sangat lezat karena memakai bumbu habang. Istri juga membawa oleh-oleh gorengan tahu pedas dan tahu bakso.

Lalu, istri ternyata lanjut membeli martabak dan terang bulan Bangka di Juanda. Menurut saya, terang bulan Juanda ini memang belum ada tandingannya. Martabaknya juga sangat lezat. Dulu saya pernah ke Bangka Belitung dan mencoba martabak asli di sana. Rasanya ternyata sama persis dengan yang ada di Samarinda ini. Jadi, bisa dipastikan bahwa martabak Bangka di Juanda ini sangat autentik. 

Rencananya, kami akan makan malam bakso.

Lebih panjang mana, deretan agenda rapat pimpinan hari ini atau antrean macet demonstrasi di Samarinda?

Uang Ular

23 Agustus 2026

Hari ini hujan masih belum juga turun. 

Tadi pagi, saya mengawali hari dengan sarapan mi goreng buatan istri. Lalu, saya menambahkan dua telur ceplok. Sebelum sarapan, saya bersama dua anak pergi ke rumah eyang. Awalnya, saya hanya diminta untuk mengambil uang. Namun, ternyata uang tersebut justru diberikan untuk saya. Jadi, saya merasa bingung sekaligus sangat senang.

Kemudian, saya bersantai menonton The International Dota 2. Saat ini, Yatoro dan Team Spirit berhasil menembus babak final. Mereka bertanding melawan Team Vision. Tadi saat saya tonton, skor sementara tercatat 2-1 untuk keunggulan Team Spirit.

Siang harinya, kami makan ayam goreng tepung Mimi Chicken. Rasanya sangat enak karena ayamnya masih hangat. Saya memilih makan sayap dan menambah kulit ayam. Sedangkan, anak pertama saya lebih suka bagian paha atas. Lalu, anak kedua menghabiskan dua potong dada. Sementara itu, istri saya hanya memakan bagian kulit saja.

Setelah itu, saya dan anak kedua pergi membeli dua buah kelapa muda. Salah satu kelapa tersebut khusus kami berikan untuk istri. Selain itu, anak saya juga minta dibelikan tahu isi sayur. Ternyata, itu adalah siasat supaya dia mendapat kuota tambahan menit untuk bermain ponsel.

Malam harinya, kami makan Sate Ayam Ilham di dekat Polsek Juanda. Saya berhasil menghabiskan tiga belas tusuk sate. Lalu, anak pertama memakan dua belas tusuk. Anak kedua malah menghabiskan hingga lima belas tusuk. Namun, istri saya memilih memakan sisa mi goreng tadi pagi. Sebab, tadi pagi dia memang memasak porsi yang agak banyak.

Saat ini cuaca sungguh sangat kering. Bahkan, kemarin ada ular yang masuk ke teras rumah. Sepertinya, ular-ular mulai keluar dari sarang untuk mencari sumber air.

Lebih mengejutkan mana, mendapat uang kaget dari eyang atau menemukan ular di teras rumah?

Hujan Listrik

22 Agustus 2026

Hari ini saya masih menunggu hujan. 

Hari ini adalah hari Sabtu. Ini adalah hari libur. Pagi ini saya pergi mengantar anak pertama. Tadi malam ada pengumuman bahwa dia lolos ke semifinal. Oleh karena itu, pagi ini dia melanjutkan lomba Euphorbio. Lombanya bertempat di FMIPA Unmul.

Selesai mengantar, saya meluncur untuk ngopi. Sayangnya, menu kopi V60 belum tersedia. Jadi, saya memesan Americano arabika hangat. Rasanya ternyata lumayan juga.

Setelah ngopi, saya menjemput anak kedua. Sekitar pukul sepuluh, dia selesai kegiatan HW di sekolahnya. Namun, saya datang agak terlambat. Katanya, kegiatan tersebut sudah selesai sekitar sepuluh menit yang lalu.

Sesampainya di rumah, saya menyantap masakan istri. Menunya adalah mi goreng dan ati goreng. Selain itu, istri juga memasak sayur lodeh. Tetapi, lodehnya baru akan saya makan nanti malam. Istri saya juga membeli buah cempedak. Rasanya sangat enak dan manis.

Siang harinya, lomba anak pertama akhirnya selesai. Kemudian, dia dijemput oleh istri. Saat pulang, mereka membawa gorengan tahu isi sayur.

Saya juga menyempatkan bersantai menonton YouTube. Saat ini sedang berlangsung turnamen Dota 2. Tepatnya ajang The International 2026 di China. Jagoan saya tentu saja Team Spirit. Di tim itu ada pemain bernama Yatoro yang sangat jago.

Setelahnya, saya mencoba untuk tidur siang. Namun, saya terbangun karena listrik mendadak padam. Kamar langsung terasa sumuk tanpa adanya AC. Kondisi Samarinda sudah kering kerontang tanpa hujan. Lalu, sekarang ditambah pula dengan krisis listrik.

Mana yang lebih menguji kesabaran, menunggu turunnya hujan atau menanti menyalanya listrik?

Samarinda Hujan

21 Agustus 2026

Hari ini adalah hari yang sarat akan penantian. Tepatnya, saya masih terus menunggu turunnya hujan.

Hari ini sebenarnya jadwal WFA atau Work From Anywhere. Namun, saya tetap memilih untuk berangkat ke kantor. Sehabis mengantar anak sekolah, saya langsung meluncur ke kampus. Di sana, saya mengerjakan disposisi dari Dekan. Isinya terkait urusan peminjaman ruang.
Saat di kantor, saya menemukan sebuah tautan di aplikasi Threads. Tautan itu berisi info program student plan Google untuk Gemini. Saya pun iseng mencobanya. Alhamdulillah, saya berhasil mendapatkan akses Google Plus untuk setahun ke depan. Lumayan sekali. Selain itu, saya juga menanyakan status pencairan serdos milik dosen lain. Infonya, berkas tersebut sudah diproses. Jadi, sekarang tinggal menunggu saja.

Siang ini, anak pertama saya mengikuti lomba di FMIPA Unmul. Nama lombanya adalah Euphorbio. Semoga ia bisa mendapatkan hasil yang terbaik.

Sekitar jam sebelas, saya beranjak pulang. Saya mampir membeli gorengan di dekat flyover Juanda. Saya membeli seharga lima belas ribu rupiah dan mendapat sembilan biji. Rinciannya, saya memilih enam tahu isi sayur, satu tempe gembus, dan dua tahu isi mihun. Penjualnya ternyata berbaik hati. Saya diberi bonus tambahan satu tahu isi mihun.
Kali ini, saya memang memilih sendiri jenis gorengannya. Tetapi, saya juga sering membeli gorengan campur. Artinya, pilihan diserahkan kepada penjual. Terkadang, ada satu jenis gorengan yang sangat mendominasi isinya. Kira-kira apa artinya ya? Apakah itu jenis yang paling tidak laku? Ataukah stoknya memang paling banyak? Bisa jadi itu yang keuntungannya paling besar. Atau, jangan-jangan itu yang paling enak menurut selera si penjual? Saya belum tahu pasti jawabannya.

Kasus ini mirip dengan saat membeli buah. Jika kita pasrah meminta dipilihkan yang bagus, rasanya kita malah diberi buah yang hampir busuk. Meskipun, bisa jadi ada penjual yang memang tulus memilihkan yang terbaik. Entahlah.

Sesampainya di rumah, saya langsung memakan gorengan tersebut. Istri saya juga sudah menyiapkan makan siang. Menunya adalah ayam goreng dan oseng tahu tempe. Lalu, ada tambahan udang goreng tepung juga.

Siang harinya, saya menunaikan salat Jumat. Saya salat di Masjid Al Muhajirin. Ini adalah masjid di dekat rumah yang sering saya datangi sejak kecil. Sebelum waktu Jumatan tiba, istri saya pergi mengantar anak pertama lomba. Oleh karena itu, saya standby di rumah untuk menjaga anak kedua.

Lebih misterius mana, niat penjual memilihkan gorengan campur atau kapan turunnya hujan di Samarinda?

Zebra Polos

20 Agustus 2026

Hari ini adalah hari yang menunggu hujan. Rasanya persis bagai penumpang kereta api yang jadwal keberangkatannya sisa 10 menit lagi.

Di kampus, rutinitas tetap berjalan. Saya meneruskan surat disposisi dari Dekan terkait permohonan peminjaman ruang. Lalu saya menyiapkan berkas full paper untuk kegiatan international conference. Saya juga merapikan materi presentasi (PPT). Termasuk menyiapkan bukti transfer pendaftaran sebagai presenter. Kemudian saya mengunggah berkas terkait urusan beasiswa. Tetapi sepertinya saya salah mengunggah file karena tergesa-gesa menekan tombol kirim. Saya sungguh berharap masih ada masa perbaikan data nanti.

Hari ini mahasiswa juga mengumpulkan tugas praktik penerjemahan. Saya mengoreksi tugas mereka sambil mendengarkan Podcast Seminggu. Kebetulan bintang tamu mereka kali ini adalah podcaster Mendoan. Ini pengalaman yang sangat menarik karena saya menyukai keduanya. Sehingga rasanya seperti menonton dua acara sekaligus.

Sambil membaca, ada beberapa hal yang perlu saya diskusikan dari hasil terjemahan mahasiswa. Pertama, terkait frasa inappropriate Zebraic. Konteks ceritanya adalah seekor kucing yang meniru bahasa zebra. Jika diterjemahkan secara literal menjadi "bahasa zebra yang tidak pantas", rasanya kurang pas. Sebab konotasi bahasa yang tidak pantas cenderung mengarah pada makian atau kata kotor.

Kedua, ada frasa idiomatis fits to be tied. Frasa ini secara umum memang bermakna sangat marah. Tetapi jika dimasukkan ke dalam konteks cerita ini, maknanya menjadi kurang nyambung. Ketiga, kata innocent zebra. Jika mahasiswa menerjemahkannya menjadi "zebra polos", kalimatnya terdengar aneh. Karena zebra polos seakan-akan berarti warna kulit zebra tersebut polos tanpa belang. Keempat, penerjemahan the delicate nose. Konteksnya adalah kemampuan penciuman zebra. Kata delicate memang bisa bermakna hidung yang halus. Tetapi jika dikaitkan dengan penciuman, arah maknanya lebih tepat menjadi penciuman yang sensitif atau tajam.

Siang harinya saya jajan pentol. Rasanya ternyata enak juga.

Lalu setibanya di rumah, istri saya sudah memasak. Menunya adalah oseng sayur isian capcai dan ayam goreng. Rasanya enak pol. Menu ini sangat cocok untuk anak saya yang kebetulan baru belajar makan sayur. Tentu saja, proses belajarnya harus menggunakan iming-iming bermain HP.

Apakah kepanikan salah unggah berkas itu lebih aneh dari zebra polos?

Sungai Buaya

19 Agustus 2026

Pagi yang tenang. Setenang sungai yang berisi buaya. 

Hari ini saya sebenarnya terjadwal mengajar. Tetapi ada kegiatan fakultas terkait pelatihan konseling bagi dosen dan tendik. Kemarin sore saya mendapat pesan WA dari staf. Saya diminta mewakili Dekan untuk membuka acara tersebut. Sehingga kelas saya isi dengan tugas praktik penerjemahan. Memang semester ini mata kuliahnya lebih banyak tentang teori. Tetapi mahasiswa tetap perlu berlatih praktik. Semester depan barulah porsi praktik pengaplikasian teori diperbanyak. Cerpen yang diterjemahkan adalah Zebra Storyteller karya Spencer Holst. Cerpen ini menjadi pembuka buku pengantar sastra terbitan Norton. Isinya sangat bagus untuk membantu mendefinisikan sastra.

Lalu saya bergegas membuka kegiatan pelatihan konseling. Saya berdiri di podium mewakili Bapak Dekan. Dalam sambutan, saya menegaskan bahwa aset terbesar fakultas adalah sumber daya manusia. Bukan sekadar fasilitas fisik. Kemudian saya menyampaikan bahwa produktivitas dan kelancaran administrasi bergantung pada kesejahteraan psikologis. Saya juga mengingatkan bahwa beban kerja bisa memicu stres. Sehingga konseling harus hadir sebagai sistem dukungan nyata. Bagi dosen dan tendik, hal ini menjadi modal menciptakan lingkungan kerja yang kondusif. Serta melatih rasa empati dan sikap saling mengayomi.

Lalu saya menitipkan tiga pesan. Pertama, jadikan forum ini sebagai ruang aman untuk berdiskusi. Kedua, kembangkan kemampuan mendengarkan. Sebab solusi masalah birokrasi sering kali dimulai dari kesediaan mendengarkan. Ketiga, peserta harus mengimplementasikan ilmu ini.

Kemudian tibalah waktu makan siang. Menunya adalah kotak nasi berisi bebek goreng. Sambal terasinya sangat enak. Tetapi tidak ada nama warung di kotak kemasannya. Karena rasanya enak, mungkin saya akan mencari tahu dan membelinya lagi kapan-kapan.

Sore harinya saya pulang ke rumah. Menu makanannya adalah oseng buncis dan kecambah panjang. Menu ini kebetulan sesuai dengan permintaan saya. Tadi pagi sekitar jam sepuluh saya sempat melakukan video call dengan istri. Saya memang bilang sedang ingin makan oseng kecambah.

Apakah mempraktikkan pemahaman konseling di kampus itu setenang sungai yang berisi buaya?

Sorak Nusantara

18 Agustus 2026

Hari ini berjalan seperti biasa. Pagi hari, saya berangkat ke kampus. Di sana, saya melihat mahasiswa sedang bersiap. Mereka menyiapkan lomba 17-an di lingkungan FIB.

Pembukaan kegiatan ini dilakukan langsung oleh Dekan. Tema yang diangkat adalah Sorak Nusantara Merdeka. Setelah itu, acara dilanjut dengan pembagian doorprize. Kemudian, barulah perlombaan resmi dimulai.

Berbagai macam lomba ikut diselenggarakan. Tetapi, sepertinya yang paling seru adalah tarik tambang. Biasanya saya ikut bermain. Namun, tahun ini saya memutuskan untuk absen dulu.

Pekerjaan saya hari ini masih didominasi rutinitas. Saya kembali memproses lembar disposisi dari Dekan. Setelah itu, saya menguji satu orang mahasiswa. Mahasiswa tersebut membahas tentang maxim pragmatik di dalam sebuah film.
Kemudian, ada mahasiswa yang datang untuk konsultasi akademik. Ia merasa bingung terkait pemilihan beasiswa. Oleh karena itu, saya menyarankannya untuk berhitung dengan baik. Ia harus menyiapkan diri untuk kemungkinan jika tidak mendapat beasiswa sama sekali. Selain itu, ia juga perlu mempertimbangkan risiko jika sudah menerima beasiswa tertentu, tetapi ternyata ada pilihan lain yang lebih mantap.

Tadi saya juga mengikuti sebuah rapat. Kami membahas rencana kegiatan promosi budaya melalui sarana digital. Oleh sebab itu, kami merasa perlu mengadakan pelatihan dari content creator. Rencananya, kegiatan ini mungkin digelar sekitar bulan Oktober.

Sore harinya, saya tiba di rumah. Di meja makan, sudah tersedia menu soto ayam. Rasanya sungguh segar.

Lebih alot mana, tali lomba tarik tambang hari ini atau kebingungan mahasiswa memilih beasiswa?

Satyalancana dan Sarden

17 Agustus 2026

Hari ini adalah hari yang bersemangat. Semangat menyambut perayaan 17-an. Saya berani perang, tetapi takut kepanasan.

Pagi ini saya mengikuti upacara di GOR. Para pesertanya memakai baju adat Nusantara. Baju saya disiapkan oleh istri. Kata istri, ini adalah baju adat dari Aceh. Namun, sesampainya di lapangan ada yang bilang ini dari Nias. Ada juga yang menyebutnya baju adat Batak.

Upacara ini sekaligus dirangkai dengan penyerahan Satyalancana 10, 20, dan 30 tahun. Saya sudah mengabdi selama 12 tahun 4 bulan. Tetapi, saya belum mendapat Satyalancana 10 tahun. Mungkin saya harus menunggu. Atau mungkin harus mengusulkan sendiri, entahlah.

Pidato Pak Rektor hari ini berlangsung sebentar. Beliau menyampaikan bahwa kemerdekaan harus kuat dalam pikiran. Supaya kita tidak mudah percaya hal-hal negatif atau mudah dihasut. Beliau juga sekilas menyampaikan pesan tentang etika.

Selesai upacara, saya rapat sebentar dengan Dekan dan para Wakil Dekan. Kami membahas beberapa agenda fakultas. Salah satunya adalah kegiatan mahasiswa tari yang mengikuti Peksiminas. Semoga mereka mendapatkan juara yang sesuai harapan.

Pulang dari kampus, saya berkeliling mencari gorengan. Ternyata mencari gorengan di Samarinda pada tanggal merah ini sangat sulit. Penjual gorengan di Juanda dekat flyover tutup. Penjual di belakang Polsek Juanda juga tutup. Saya mencari ke Jalan Cendana dan ternyata tidak ada yang berjualan. Akhirnya saya menuju penjual gorengan di daerah Pasundan. Ini adalah pilihan terakhir daripada tidak mendapat sama sekali. Sayangnya di sini tidak ada tahu isi sayur, yang ada hanya isian bihun. Padahal saya mencari isian sayur supaya anak saya mau memakannya. Tentu dengan iming-iming boleh bermain handphone.

Besok rencananya ada berbagai perlombaan 17-an di fakultas. Semoga semua berpartisipasi agar acara menjadi ramai.

Hari ini istri saya puasa, sedangkan saya tidak. Sore ini ia minta dibelikan es tebu untuk berbuka. Kemudian anak saya ingin makan sarden. Awalnya saya mengira sarden termasuk makanan yang kurang sehat. Setara dengan mi instan, nugget, sosis, dan sejenisnya. Ternyata di media sosial ada pembahasan tentang hal ini. Sarden dikategorikan sebagai makanan yang baik karena bukan ultra-processed food. Sarden termasuk olahan awal dan relatif sehat. Jadi, saya berencana mulai menyetok sarden di rumah.

Apakah Satyalancana saya tertinggal di dalam kaleng sarden?