Kopi Manis Pagi

23 September 2026

Hari ini adalah hari yang biasa. Tetapi, pagi ini badan saya sudah terasa pegal. Padahal, saya belum melakukan aktivitas apa-apa.

Pagi ini saya menyempatkan diri meminum kopi manis. Padahal, biasanya saya rutin meminum kopi hitam yang pahit. 

Setelah itu, saya lanjut berangkat ke sekolah. Ini adalah agenda visitasi hari pertama. Jadwal hari ini adalah observasi kelas dan wawancara. Lalu, besok rencananya saya akan mengecek dokumen secara penuh. Jumlah siswa di sekolah ini tergolong sedikit jika melihat lokasi geografisnya.

Siang harinya, saya makan nasi Padang. Tekstur nasinya pas, berbulir ngepyar dan tidak lengket. Lauknya adalah daging rendang. Porsi ini sukses membuat saya sangat kenyang. Cuaca hari ini terasa sangat panas. Sehingga, saya banyak meminum air es. 

Rupanya manisnya kopi dan dinginnya es hari ini tetap gagal menipu fisik usia empat puluhan yang sudah telanjur pegal sebelum bekerja.

Geser Sekolah

22 September 2026

Hari ini adalah hari Selasa. Saya kembali menunggu turunnya hujan. Suasana terasa berjalan sangat pelan.

Hari ini, saya telah menyelesaikan tugas di satu sekolah. Kemudian, saya lanjut bergeser ke sekolah selanjutnya. Alhamdulillah, jaraknya hanya sekitar dua jam perjalanan darat dari penginapan. Namun, kami tetap harus menyeberang sungai sebentar.

Sesampainya di penginapan, saya langsung beristirahat. Jadwal visitasi hari pertama baru akan dilaksanakan besok. Kegiatannya pasti berlangsung penuh seharian. Walaupun di jadwal tertulis selesai jam tiga sore, praktiknya tidak pernah seperti itu. Biasanya, kegiatan baru tuntas sekitar pukul lima sore. Tetapi, hal ini juga sangat tergantung pada respons pihak yang diwawancarai.

Saat tiba di penginapan tadi, saya menyantap ikan nila goreng. Sambalnya terasa terlalu manis. Meskipun begitu, rasanya masih lumayan oke juga.

Malam ini, saya berencana melakukan rutinitas seperti biasa. Saya akan mengecek berkas-berkas visitasi lebih awal. Langkah ini merupakan persiapan wajib untuk penilaian besok.

Jadwal visitasi tertulis tuntas jam tiga sore tetapi realitanya selalu molor hingga jam lima, persis seperti rasa sambal ikan nila hari ini yang meleset dari ekspektasi namun tetap habis dinikmati.

Harta Karun Kubangan

21 September 2026

Hari ini udara sangat berasap. Kebakaran hutan itu nyata. Kejadian ini ada tepat di depan mata.

Pagi ini ada agenda visitasi. Kegiatannya sebenarnya hanya tiga macam. Yaitu telaah dokumen, wawancara, dan observasi. Kami mengecek semua dokumen sekolah. Kami juga mewawancarai semua warga sekolah. Mulai dari kepala sekolah, guru, siswa, hingga wali siswa. Lalu, kami mengobservasi pembelajaran di kelas. Kami juga mengecek seluruh sarana dan prasarana sekolah.

Sekolah ini masuk kawasan 3T. Yaitu daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar. Listrik di sini hanya mengandalkan tenaga surya. Tenaga ini hanya kuat menyala beberapa menit saja. Jika cuaca mendung, listrik sudah pasti mati. Sinyal telepon juga sangat sulit dicari. Warung jualan juga tidak punya banyak pilihan. Nama dusun ini sangat mantap. Namanya adalah Dusun Liang Buaya.

Dari dermaga Muara Kaman, kami masih harus naik perahu ces. Punggung saya terasa sangat pegal selama menaiki perahu kecil ini.

Di perjalanan balik ke penginapan, kami melihat kebakaran hutan lagi. Banyak orang menuduh ini ulah pembuka lahan sawit. Tetapi, kali ini alasannya berbeda. Area ini sebelumnya adalah semacam rawa. Saat ini airnya sedang surut parah. Lahan ini sengaja dibakar oknum. Tujuannya untuk mencari sisa-sisa kubangan akibat kekeringan. Di kubangan itulah tersimpan harta karun.

Satu kubangan bisa berisi sampai 200 kilogram ikan. Oknum tidak usah merawatnya. Mereka juga tidak perlu repot memancing. Lahan ini harus dibakar karena tanamannya sangat tinggi. Sehingga, kubangan air tidak terlihat dari luar. Tetapi, setelah dibakar, titik-titik kubangan ini akan langsung terlihat. Di situlah ikan-ikan terjebak dan berkumpul pada sisa air yang ada.