30 September 2026
Hari ini adalah hari Rabu. Dan, ini adalah hari yang biasa.
Hari ini ada jadwal ujian tengah semester ITS untuk kelas C dan D. Saya meminta tolong kepada dua orang staf. Mereka bertugas untuk mengawasi ujian di masing-masing kelas.
Saat ujian berlangsung, saya pergi ke bank. Saya ingin mengurus kartu ATM yang sudah kedaluwarsa. Tetapi, kartu tersebut tidak bisa langsung dicetak ulang. Sebab, rekening saya sudah berstatus pasif selama enam bulan. Rekening memang otomatis tidak aktif jika sudah lewat enam bulan. Setelah antre dan mengisi formulir, saya akhirnya bertemu bagian Customer Service. Proses pengaktifannya ternyata cukup ribet. Karena, saya diwajibkan untuk setor atau tarik tunai terlebih dahulu. Akhirnya, saya memilih setor tunai sebesar 50 ribu rupiah. Setelah itu, saya harus memindai sidik jari beberapa kali. Barulah rekening tersebut kembali aktif. Dulu ini adalah rekening gaji saya. Tetapi, kampus sudah berpindah bank. Sehingga, rekening ini hanya menjadi simpanan pasif saja. Saya juga tidak pernah membuka aplikasinya di ponsel. Setelah rekening aktif, barulah kartu ATM baru bisa dicetak. Sekalian saja saya meminta cetak buku tabungan. Saya meminta rekapitulasi transaksi untuk tiga bulan terakhir. Mudah-mudahan selanjutnya saya tidak lupa untuk bertransaksi minimal enam bulan sekali.
Dari bank, saya meluncur ke Pasar Pagi. Jam tangan saya terasa kebesaran sebagai efek turunnya berat badan. Sehingga, saya ingin memotong satu ruas talinya. Sekalian saja saya meminta jam ini dibersihkan. Sebab, ini adalah jam mekanik yang tidak memakai baterai. Selain itu, ada sedikit kendala saat pergantian hari. Tulisan nama hari di jam agak terpotong,bsaat oeroindahan hari. Jadi, saya sekalian memperbaiki ini. Biayanya adalah 100 ribu rupiah. Tukang jam ini bisa dibilang sudah langganan. Tidak semua tukang jam bisa atau berani membongkar jam saya ini. Lokasinya ada di Pasar Pagi, tepat di seberang Masjid Raya. Sambil menunggu jam ini selesai, saya menyempatkan diri membeli pentol isi telur puyuh di dekat situ.
Dari Pasar Pagi, saya kembali ke kantor. Saya kembali mengerjakan laporan visitasi. Alhamdulillah, tugas itu akhirnya sudah benar-benar selesai.
Hari ini juga bertepatan dengan hari pemilihan Rektor Unmul. Mudah-mudahan seluruh prosesnya berjalan lancar.
Sesampainya di rumah, saya makan bakso buatan istri. Bakso ini disajikan dengan tambahan bihun. Perpaduan ini terasa sangat cocok. Rasanya persis seperti bakso khas Solo. Sebab, bakso khas Solo memang tidak pernah memakai mi kuning.
Malam ini, istri berencana membeli sate Suramadu. Sate ayam Madura ini berjualan di kawasan Siradj Salman. Lokasinya cukup dekat dari rumah. Rasanya enak. Dan, bumbu satenya juga tidak begitu manis.
Tadi siang saya bangga memotong tali jam tangan karena merasa berat badan sudah turun, tetapi sore dan malamnya langsung saya merapel pentol puyuh, bakso, dan sate ayam berturut-turut.