Perut yang kenyang, keinginan yang belum mau pulang

28 Oktober 2026

Seseorang pergi ke tempat makan yang kenyang dan sedikit sombong, membawa perut yang malas lapar tetapi hatinya sibuk merasa kurang. Di hadapannya, berjejer makanan dengan wajah-wajah sok akrab, seolah semuanya pernah punya urusan pribadi dengannya. Ia pun memesan terlalu banyak, dengan keyakinan yang gemuk dan perhitungan yang kurus. Dalam perjalanan pulang, ia masih membeli beberapa jajanan yang manja dan tidak tahu diri, padahal perutnya sudah murung, penuh, dan mulai membenci keputusan tuannya.

Sesampainya di rumah, makanan itu memenuhi meja yang pasrah tetapi diam-diam tersinggung. Sebagian dimasukkan ke kulkas yang dingin, pendendam, dan terbiasa menerima janji palsu, sementara sisanya berakhir di tempat sampah yang selalu kebagian penyesalan, meskipun tidak pernah ikut merasa lapar.

Keesokan paginya, ia berdiri di depan lemari pakaian yang sesak oleh penghuni-penghuni lama yang mulai merasa tidak dicintai. Ia mengeluh tidak punya baju, sementara belasan kemeja menggantung dengan perasaan tersisih dan harga diri yang mulai kusut. Ia membeli pakaian baru, lalu mendaftarkan diri ke pusat kebugaran karena merasa tubuhnya terlalu malas untuk ukuran manusia yang ingin terlihat rajin.

Malam harinya, ia berbaring bersama ponsel yang cerewet dan tidak mengenal jam tidur. Matanya sudah mengantuk, tetapi jempolnya masih memiliki ambisi yang tidak masuk akal. Pagi datang dengan wajah kurang ajar, membangunkannya sebelum rasa lelah sempat menyelesaikan urusannya.

Barangkali tubuh manusia sebenarnya tidak banyak menuntut. Perut hanya ingin diisi, mata ingin dipejamkan, dan kaki ingin sesekali diajak berjalan. Yang membuat semuanya rumit justru keinginan yang selalu merasa punya hak suara lebih besar daripada tubuh yang menanggung akibatnya.

Hidup itu selayaknya saja. Jangan sampai perut yang kecil harus menanggung keinginan yang terlalu besar.

Realita Senin

26 Oktober 2026

​Hari ini adalah hari Senin. Entah mengapa, hari kedua ini selalu saja terasa kurang persiapan.

​Hari ini suasana kantor agak santai. Pimpinan yang lain sedang tidak ada di kantor. Mereka kebetulan sedang ada tugas ke luar kota.

​Oleh karena itu, hari ini saya banyak menonton cuplikan video. Saya menonton video Rocky Gerung tentang militerisasi TNI yang ikut menanam jagung dan lain-lain. Kalau untuk urusan debat, dia memang sangat luar biasa. Bahkan, dia sering kali memenangkannya. Selanjutnya, saya bersantai sambil mendengarkan podcast. Selain itu, saya juga asyik menonton tayangan YouTube.

​Rocky Gerung sering menang telak saat berdebat, mirip KO dalam tinju. 

Rektor Unmul

26 Oktober 2026

​Hari ini adalah hari Selasa. Suasana hari ini terasa sangat bersejarah.

​Agenda utamanya adalah pelantikan Rektor Unmul terpilih. Oleh karena itu, ada banyak harapan di balik momentum ini. Saya sangat ingin rektor baru menggunakan perspektif budaya dalam kepemimpinannya.

​Pertama, manajemen kampus harus memanusiakan seluruh sivitas akademika. Sebab, mereka bukan sekadar alat pemenuh target IKU. Apabila ada target yang meleset, pendekatannya harus lewat dialog personal.

Kedua, kebijakan harus berasaskan musyawarah. Misal, pemotongan dana tidak boleh lagi dilakukan secara sepihak. 

Ketiga, tata kelola infrastruktur perlu berbasis keadilan ekologis. Perbanyaklah ruang komunal yang inklusif agar interaksi menjadi lebih organik.

​Keempat, birokrasi harus luwes dan mengakar pada kearifan lokal. Misalnya, rektor bisa merutinkan acara makan bersama atau ngobrol santai di ruang prodi sambil membawa kopi. 

Kelima, rektor perlu menunjukkan keteladanan estetik. Contohnya adalah dengan menyematkan elemen etnik Kaltim pada busana atau ruang kerja.

​Kesimpulannya, sistem kampus memang harus administratif. Namun, eksekusinya harus tetap humanis.

​Harapan untuk rektor baru disusun setinggi langit, seperti MBG.