Asap Gerimis

17 September 2026

Pagi ini Samarinda diselimuti asap. Beberapa situs web menyatakan kondisi udara sangat berbahaya bagi pernapasan. Perjalanan ke kantor penuh dengan asap. Untunglah saya memakai masker.

Anak kedua saya sudah mendapat edaran belajar di rumah sejak semalam. Dia tentu saja merasa senang. Sementara itu, anak pertama baru mendapat edaran serupa pada pukul enam pagi. Situasi ini benar-benar darurat. Kita sangat membutuhkan masker. Suasana ini jadi mengingatkan saya pada zaman Covid-19 dahulu.

Saya sendiri berangkat ke kampus agak terlambat. Sebab, di grup WA kantor ada arahan untuk mengalihkan kelas menjadi online. Jadi, tidak ada kelas tatap muka hari ini. Namun, saya tetap ngantor karena ada rapat. Rapat ini mempertemukan para pimpinan FIB. Kami membahas bermacam-macam hal.

Di sela rapat, kami sadar perlunya membeli masker untuk antisipasi. Tetapi ternyata, stok masker di Samarinda sedang kosong. Saya mengecek harga di toko online, dan harganya sudah melonjak berlipat-lipat dari harga biasa.

Selesai rapat, saya langsung mengajar kelas pengganti. Kelas ini dimajukan karena minggu depan saya ada rencana visitasi. Saya akan turun ke sekolah di Muara Kaman. 

Setelah mengajar, saya menyantap makan siang. Bekal ini disiapkan oleh istri. Lauknya adalah ikan layang, sambal terasi, dan kerupuk.

Selesai makan, saya kembali fokus. Saya harus menyelesaikan laporan visitasi di Kutim. Saya bertahan di depan laptop sampai menjelang magrib. Sayangnya, laporan itu tetap belum selesai. Target saya besok harus tuntas. Mudah-mudahan bisa lekas rampung.

Setelah magrib, saya mampir ke rumah ibu. Katanya, HP beliau sedang rusak. Setelah saya cek, ternyata layarnya terus-menerus memunculkan pop-up iklan. Akhirnya, saya menggunakan panduan dari Gemini. Saya ikuti petunjuknya langkah demi langkah. Cara tadi sih berhasil, tetapi saya belum tahu apakah iklannya akan muncul lagi nanti. Saat pulang, ibu membawakan saya sebuah cincin hijau. Cincin itu adalah punya bapak.

Malam harinya, saya menyantap menu spesial. Hidangannya berupa sayur bening bayam dan ikan layang goreng. Sayur bayam ini diracik khas Solo. Bumbunya hanya memakai bawang merah dan kencur tanpa bawang putih. Gulanya ditaruh sebanyak dua sendok makan penuh, lalu diberi sedikit garam. Rasanya sungguh manis dan segar. Ini adalah bayam bening favorit saya.

Malam ini, Samarinda sempat gerimis sedikit sekali. Walaupun begitu, status WA di HP saya langsung heboh seketika. Ke depannya, saya akan melarang keras keluarga saya untuk mengeluh jika hujan turun.

Kira-kira lebih langka mana, stok masker di Samarinda saat darurat asap atau orang yang tidak update status WA saat gerimis pertama turun?

Layang Goreng Asap

16 September 2026

Membuka media sosial hari ini, saya melihat kabar bahwa beberapa wilayah di Samarinda akhirnya mulai diguyur hujan. Alhamdulillah. Kondisi udara di Samarinda belakangan ini memang sudah mulai terasa berasap akibat kemarau dan kebakaran lahan. Sepertinya, kita sudah harus mulai mengenakan masker lagi saat beraktivitas di luar ruangan.

Agenda akademik saya hari ini berfokus pada kelas penerjemahan. Materi yang saya sampaikan kepada mahasiswa masih sama dengan kelas kemarin, yakni membahas rincian teknik penerjemahan berdasarkan teori dari Molina dan Albir. Di luar tugas mengajar, rutinitas administratif fakultas juga tetap berjalan. Hari ini saya memaraf beberapa surat resmi FIB serta mengurus sejumlah dokumen penting yang membutuhkan tanda tangan persetujuan dari Dekan.

Selain itu, hari ini FIB juga menerima kedatangan tamu dari Jakarta. Tim ini datang untuk meninjau langsung kesiapan fasilitas fakultas kita yang akan menjadi lokasi penyelenggaraan kegiatan dari Kementerian Kebudayaan pada bulan Oktober mendatang, khususnya terkait lokakarya promosi budaya.

Sepulang dari kampus, saya menyempatkan diri mampir untuk membeli gorengan di tempat yang baru. Sayangnya, rasanya ternyata biasa saja. Namun, rasa kurang puas itu langsung terobati begitu saya sampai di rumah. Istri saya ternyata sudah membelikan bakso dari warung Bakso Bintang 86 di dekat rumah. Menikmati semangkuk bakso hangat yang diberi tambahan remukan emping benar-benar terasa mantap dan nikmat.

Malam harinya, perut saya kembali dimanjakan. Istri sudah menyiapkan makan malam berupa ikan layang goreng, lengkap dengan lalapan segar dan sambal. Alhamdulillah, saya makan dengan sangat kenyang malam ini.

Mengurus birokrasi dokumen dan memastikan kesiapan fakultas menyambut tamu kementerian memang cukup menyita fokus, tetapi rasa lelah itu selalu menguap begitu saja saat menyantap hidangan nikmat yang disiapkan istri di rumah.

Sambal Tengah Semester

15 September 2026

Pagi ini saya membaca berita yang menyebutkan bahwa intrusi air laut ke Sungai Mahakam sudah kembali pada batas normal. Alhamdulillah, pelayanan distribusi air PDAM pun kini sudah berangsur normal.

Sebenarnya pagi ini ada jadwal rapat, tetapi waktunya bertepatan dengan jam mengajar. Saya pun meminta izin kepada pimpinan untuk tidak mengikuti rapat dan memilih tetap masuk kelas. Saya harus mengambil keputusan ini karena kelas minggu lalu sudah terpaksa kosong, dan minggu depan pun rencananya akan kembali kosong. Terlebih lagi, jadwal ujian tengah semester sudah semakin dekat. Di kelas hari ini, saya menyampaikan materi mengenai teknik penerjemahan, khususnya merujuk pada teori yang dikemukakan oleh Molina dan Albir. Selesai mengajar, saya memeriksa beberapa berkas disposisi dari Dekan dan langsung meneruskannya kepada Kabag Umum untuk ditindaklanjuti.

Siang harinya, saya makan dengan lauk ayam goreng dan sambal buatan istri. Rasanya sungguh enak sekali. Lalu pada sore harinya, saya kembali menyantap sambal yang sama, tetapi kali ini disandingkan dengan lauk bebek goreng. Makan sore tadi terasa sangat nikmat dan mengenyangkan.

Malam ini, saya berencana untuk melanjutkan pekerjaan menyusun laporan akreditasi. Saya sengaja mengerjakannya dengan cara menyicil sedikit demi sedikit, karena saya tahu betul bahwa draf laporan tersebut tidak akan mungkin selesai dalam satu malam.

Mengejar ketertinggalan materi kuliah sebelum UTS rupanya cukup menguras energi, tetapi lelahnya langsung terbayar lunas oleh nikmatnya sambal buatan istri di rumah.