Kemarau Capcai

3 September 2026

Hari ini status darurat hujan masih terus berlanjut. Kota Samarinda terasa sangat kering. 

Pagi ini rutinitas saya terasa cukup berbeda. Saya terjadwal melakukan presentasi di sebuah konferensi internasional. Nama acaranya adalah ICCL. Penyelenggaranya adalah kampus UIN Surakarta. Saya mempresentasikan artikel tentang penerjemahan defamiliarisasi. Gagasan ini diangkat sebagai usaha mempromosikan keberagaman budaya. Seperti biasa, sesi saya diwarnai dengan tanya jawab. Selain itu, ada juga sesi tanggapan dari pembahas.

Siang harinya, tugas presentasi saya akhirnya selesai. Saya pun langsung bergegas lanjut mengajar. Hari ini saya mengadakan kelas pengganti. Sebab, minggu depan kelas tersebut akan saya kosongkan. Materi hari ini membahas tentang efektivitas dalam penerjemahan. Lalu, saya menyambungnya dengan materi lanjutan. Isinya mengupas permasalahan yang berpotensi mengganggu proses penerjemahan.

Setelah semua selesai, badan terasa lumayan capek. Namun sebelum pulang, saya menemui mahasiswa bimbingan skripsi. Sebelumnya, kami sempat melakukan bimbingan secara daring. Ternyata hasilnya terasa kurang maksimal. Jadi, saya memutuskan untuk menyetop bimbingan *online* tersebut.

Sesampainya di rumah, saya langsung makan. Menunya adalah oseng-oseng kacang panjang, tahu, dan tempe. Sebagai pelengkap, ada tambahan lauk hati goreng. Alhamdulillah, perut saya terasa sangat kenyang. Malam harinya, saya kembali makan dengan menu capcai goreng. Rasanya sungguh sangat enak.

Malam itu juga, saya harus membeli dua galon air minum. Sebab, tukang galon langganan kami sedang kehabisan stok. Akhirnya, saya membeli galon tersebut di Indomaret.

Lebih menguras pikiran mana, menanggapi pertanyaan dari pembahas konferensi internasional atau membimbing mahasiswa skripsi yang lama?

Klorida Makna

2 September 2026

Hari ini Samarinda masih juga belum diguyur hujan. Akibatnya, kadar klorida di sungai kembali naik dan membuat kualitas air menjadi kurang maksimal. Kondisi ini sampai memaksa pihak PDAM untuk mematikan mesin operasional mereka. Saya hanya bisa berharap semoga hujan lekas turun di kota ini. 

Setibanya di kampus, saya langsung memulai hari dengan rutinitas administratif seperti biasa, yakni menyelesaikan beberapa lembar disposisi dari Dekan.

Setelah urusan tersebut beres, saya bersiap untuk jadwal mengajar. Hari ini saya mengampu mata kuliah ITS yang kini sudah memasuki minggu keempat. Materi yang saya sampaikan berfokus pada tipe-tipe penerjemahan yang disesuaikan dengan tujuan dan jenis teksnya. Setelah itu, perkuliahan berlanjut pada materi mengenai meaning in translation. Kami mengobrol panjang lebar tentang bagaimana sebuah teks memiliki lapisan-lapisan makna. Tentu saja, sebuah proses penerjemahan tidak boleh berhenti hanya sampai pada makna di permukaan saja, melainkan harus menukik lebih dalam.

Selesai mengajar, saya langsung kembali ke ruangan untuk menyelesaikan laporan pravisitasi. Rencananya, dalam waktu dekat saya akan bertugas untuk akreditasi sekolah ke kawasan Kutai Timur. 

Siang harinya, saya memutuskan untuk makan nasi Padang di dekat kampus. Ini memang warung nasi Padang favorit saya di sekitar sini. Saya memesan lauk ikan bandeng goreng dan telur dadar. Rasanya sungguh enak. Menariknya lagi, dengan dua macam lauk tersebut saya hanya perlu membayar sembilan belas ribu rupiah.

Beranjak siang, saya menyempatkan diri untuk mengikuti pembukaan international conference melalui Zoom. Sayangnya, jaringan internet saat itu sedang kurang maksimal. Insyaallah, besok adalah giliran saya untuk melakukan presentasi di acara tersebut. Oleh karena itu, saya menghabiskan waktu sore untuk menyiapkan file PPT presentasinya. 

Saat pulang ke rumah, ternyata istri sudah membungkuskan nasi campur yang dibelinya di dekat rumah. Lauk utamanya berupa ayam goreng tepung, lalu ditambahkan lagi dengan sepotong telur dadar buatan istri.

Lebih menantang mana, menggali lapisan makna terdalam sebuah teks atau menyiapkan materi presentasi di tengah koneksi internet yang kurang maksimal?

Kabut Klorida

1 September 2026

Kemarin status darurat kemarau resmi diumumkan. Bapak Walikota mengabarkan bahwa air laut mulai masuk ke sungai. Jika kadar klorida terlalu tinggi, maka mesin air PDAM harus segera dimatikan. 

Selain itu, pagi ini cuaca juga terasa sangat berkabut. Asap kebakaran hutan ternyata sudah sampai ke kawasan Samarinda. Akibatnya, anak-anak sekolah diminta untuk kembali memakai masker. Situasi ini seketika membuat saya teringat pada zaman pandemi Covid.

Setibanya di kampus, saya mengerjakan tugas administratif seperti biasa. Saya menyelesaikan beberapa disposisi dari Dekan. 

Setelah itu, saya mengajar mata kuliah ITS yang kini memasuki pertemuan ketiga. Materi hari ini mengupas tentang hal-hal mendasar dalam dunia penerjemahan. 

Selesai mengajar, saya sempat mengobrol santai bersama pimpinan. Kami membahas banyak hal, termasuk persiapan acara Peksiminas. 

Setelah itu, saya juga berdiskusi dengan Dekan saja terkait urusan tugas belajar. Saya telah menyusun jadwal tugas belajar dosen FIB secara bergiliran hingga tahun 2030. Urutan tersebut sudah tersusun rapi dan disepakati. Sehingga, tidak bisa jika ada dosen yang tiba-tiba ingin berangkat duluan.

Siang harinya, saya makan ayam bakar Mas Mentri. Rasanya lumayan enak. Meskipun, porsi nasi dan saus kacangnya tergolong sedikit. Sambil bersantai, saya asyik mengemil kacang kulit. Saya juga menyempatkan diri mendengarkan Podcast Seminggu. Hari ini saya memang sedang suka mendengarkan lagu-lagu di album lama The Killers melalui Spotify. Menjelang sore, ada pertunjukan untuk mahasiswa baru prodi Tari FIB. Acaranya berlangsung dengan sangat seru dan ramai.

Sore harinya, saya bergegas pulang. Saya mampir menjemput anak yang pulang sore karena ada kegiatan ekskul. Sebelum tiba di rumah, saya mampir sebentar ke rumah eyang. Tujuannya adalah untuk mengambil kartu ATM. Sebab, setiap tanggal satu saya selalu bertugas mengambil uang pensiun eyang dan ibu. Sesampainya di rumah, saya langsung menyantap bakso yang sudah disiapkan oleh istri. Lalu, saat waktu Magrib tiba, saya pergi ke ATM untuk mengambil uang sekaligus mentransfernya.

Lebih menyesakkan mana, menghirup tebalnya asap kebakaran hutan atau melihat sedikitnya bumbu kacang ayam Mas Mentri?