Asap Mid Menguap

21 Oktober 2026

Hari ini hari Rabu. Udara di luar masih berasap. Asap ini muncul terus-menerus. Saya jadi berpikir, dari mana asal api kebakaran hutan ini? Apakah ranting yang sangat kering bisa tiba-tiba melahirkan api? Rasanya kok janggal. Saya pernah melihat sambaran petir bisa memicu api. Tetapi, musim kemarau begini dari mana datangnya petir? Sungguh membingungkan.

Sampai di kantor, saya langsung meminum kopi dingin. Setelah itu, saya lanjut mengoreksi ujian mid-semester mahasiswa ITS. Alhamdulillah, tugas ini akhirnya selesai. Namun, nilai rata-ratanya sangat menyedihkan. Rata-ratanya hanya 45. Angka ini sangat rendah. Sebenarnya, ini adalah cerminan nilai saya sebagai dosen. Akhirnya, saya memutuskan untuk mengadakan makeup test untuk mata kuliah ini.

Selesai urusan nilai, saya kembali ke rutinitas biasa. Ada beberapa surat disposisi yang harus diurus. Saya juga memaraf dan menandatangani beberapa berkas.

Siang harinya, saya mendapat camilan yang lumayan enak. Untuk makan siang, ada menu ayam bakar berukuran besar. Sayangnya, daging bagian dalamnya masih putih dan kurang bumbu.

Sore harinya saya pulang. Sampai di rumah, saya langsung makan soto. Istri saya membelikan soto Lamongan langganan di dekat Rumah Sakit AWS. Setelah makan soto, saya, istri, dan anak kedua asyik mengemil. Kami menghabiskan peyek sampai satu toples. Malam ini, entah mengapa saya mendadak ingin makan Indomie rebus.

Di luar berasap, nilai mahasiswa menguap, dan peyek setoples sukses dilahap.

Koreksi Rapat

20 Oktober 2026

Hari ini hari Selasa. Harusnya ini hari yang santai. Ibarat orang jualan, ini waktunya libur. Pagi hari saya awali dengan kopi Arabika dingin. Rasanya sangat segar.

Namun, tugas kampus tidak kenal libur. Ada beberapa disposisi dari Dekan. Berkas itu langsung saya teruskan ke Kabag Umum. Setelah itu, saya mengikuti rapat pimpinan terbatas. Bahkan, rapat ini terjadi beberapa kali.

Di sela-sela rapat, saya lanjut mengoreksi ujian mid-semester mahasiswa matkul ITS. Sekarang tinggal tersisa satu kelas. Semoga minggu ini bisa selesai.

Siang harinya, saya kebingungan mencari makan. Selera makan saya mendadak hilang. Akhirnya, saya hanya membeli pentol dan tahu rebus. Rasanya lumayan untuk mengganjal perut.

Agak sore, jadwal rapat berlanjut lagi. Tetapi, tiba-tiba lampu mati. Karena sudah selesai salat Ashar, saya memutuskan langsung pulang.

Sampai di rumah, ceritanya jadi berbeda. Istri saya membelikan mi ayam. Langsung saja saya habiskan. Malam harinya, istri saya juga membuat bakso. Tentu saja saya makan lagi. Alhamdulillah.

Di kampus hilang selera. 

Efisiensi Gula

19 Oktober 2026

Hari ini adalah hari Senin yang penuh penantian. Pagi ini saya memiliki jadwal kelas pada pukul 10.10. Tetapi, ada Rapat Pimpinan yang dimulai pada pukul 09.30. Sehingga, pada pukul 11.00 saya akhirnya meminta izin kepada forum karena harus mengajar. Lumayan, saya masih bisa menyempatkan masuk kelas. Hari ini adalah pertemuan ke-11. Dan, materinya adalah mahasiswa mulai menyiapkan draf tulisan bab satu sampai selesai.

Selesai mengajar, ada hal yang perlu saya laporkan kepada Dekan. Setelahnya, saya mengadakan rapat khusus hanya dengan para Wakil Dekan. Kemudian, jadwal berlanjut dengan rapat bersama bagian keuangan. Ada beberapa hal krusial yang perlu didiskusikan. Sebab, saat ini memang sedang ada kebijakan pemblokiran untuk efisiensi anggaran.

Beberapa hari lalu, saya sempat ditawari peyek dan saya ikut memesannya. Peyeknya memang terbukti enak. Hari ini saya baru tiba di kantor, dan ternyata pesanannya sudah diantar. Selain itu, hari ini ada salah satu dosen yang berulang tahun. Sehingga, saya diberi piza, kue ulang tahun, dan segelas kopi manis. Padahal, saya sebenarnya sedang diet gula. Tetapi, sesekali melanggar rasanya tidak apa-apa.

Sesampainya di rumah, istri saya sudah menyiapkan makan malam. Menunya adalah ayam goreng, bakwan jagung, dan oseng tahu tempe. Rasanya lumayan nikmat. Setelahnya, istri saya juga memasak mashed potatoes. Ini murni permintaan saya karena tergiur setelah menonton video di TikTok. Tetapi, sepertinya cukup sekali ini saja. Karena, kentang itu ternyata jauh lebih enak jika dibuat menjadi perkedel biasa.

Hari ini saya gagal memblokir piza dan kopi manis.