Scopus Bingka

28 Agustus 2026

Hari ini cuaca terasa cukup dingin. Dinginnya persis seperti AC bersuhu enam belas derajat di dalam kamar yang sempit. 

Agenda saya hari ini adalah mengikuti lokakarya strategi menulis artikel ilmiah. Pematerinya adalah pakar yang sangat andal. Beliau adalah Profesor Eri Kurniawan dari UPI.

Sementara itu, konsumsi lokakarya hari ini terbilang standar. Hidangannya bukan sesuatu yang terlalu istimewa. Untuk coffee break pagi, tersedia keripik singkong dan lemper isi ayam. Selain itu, ada juga bingka yang rasanya biasa saja serta sajian kopi. Lalu, menu makan siang disajikan agak komplet. Panitia menghidangkan tomyam, ikan filet, ayam, dan daging. Kemudian, ada juga tambahan sayur brokoli dan mihun goreng. Sedangkan untuk camilan sore, tersedia kacang goreng beserta brownies.

Di sisi lain, materi lokakarya hari ini sungguh berbobot. Prof. Eri sangat menekankan pentingnya mencari knowledge gap. Sebab, tujuh puluh persen artikel gugur akibat sekadar mengganti lokasi penelitian. Oleh karena itu, konteks lokal Indonesia harus dijadikan kekuatan untuk membangun teori baru. Selanjutnya, beliau memaparkan strategi pemetaan jurnal target. Penulis harus mencari jurnal yang memang membutuhkan topik tersebut. Sehingga, kita tidak boleh sekadar asal submit naskah.

Lalu, sesi lokakarya berlanjut ke klinik judul dan abstrak. Judul yang baik maksimal terdiri dari lima belas kata. Sedangkan, abstrak wajib memuat lima rumusan kalimat utama. Kemudian, materi beralih ke penulisan tinjauan pustaka dan metode. Tinjauan pustaka harus berupa sintesis argumen yang solid. Selain itu, bagian diskusi juga wajib menjawab pertanyaan krusial so what?

Sebagai tindak lanjut, seluruh peserta menyusun rencana kerja tiga puluh hari. Tujuannya adalah memastikan draf benar-benar siap dikirim.

Setelah acara selesai, saya bergegas pulang. Saat acara berlangsung, istri mengirim pesan WhatsApp. Ternyata dia membelikan camilan udang dari restoran Mie Gacoan. Sebab, menu mi di tempat tersebut memang kurang cocok di lidah kami.

Lebih sulit mana, menembus publikasi jurnal Scopus Q1 atau mencari bingka dengan rasa yang istimewa?

Kemarau dan Patin

27 Agustus 2026

Hari ini hujan belum juga turun. Setelah musibah kebakaran, layanan PDAM bisa jadi yang bermasalah.

Pagi ini saya mengajar mata kuliah ITS. Perkuliahan ini sudah memasuki minggu ketiga. Pertemuan sebelumnya sudah diisi dengan praktik menerjemahkan. Hari ini saya mengevaluasi hasil tugas tersebut. Selain itu, saya juga membahas berbagai istilah teknis dalam studi penerjemahan. Kemudian, kami mengupas definisi beserta proses dalam penerjemahan. Lalu, saya juga memaparkan kompetensi yang wajib dimiliki oleh seorang penerjemah.

Selesai mengajar, ada disposisi Dekan terkait peminjaman tempat. Urusan itu langsung saya teruskan kepada Kabag Umum. Setelahnya, saya mengadakan rapat singkat bersama WD 1 dan WD 3. Rapat ini khusus membahas koordinasi kegiatan untuk dua hari ke depan.

Siang harinya, saya memutuskan untuk pulang lebih cepat. Sebenarnya badan saya tidak sedang sakit. Namun, rasanya agak greges sehingga saya butuh istirahat. Sesampainya di rumah, istri ternyata sudah menyiapkan ikan patin bakar. Selain itu, ada juga tambahan gorengan dan pindang patin.

Bagi masyarakat Samarinda, ikan patin ini tentu sangat familiar. Tetapi, bagi istri saya yang pendatang dari Solo, ikan ini terasa sangat amis. Sehingga, dia kurang doyan menyantapnya. Padahal, saya sangat menyukai olahan patin, baik itu dibakar maupun dipindang.

Setelah makan, saya langsung tidur untuk beristirahat. Kemudian, saya baru terbangun pada pukul setengah enam sore. Alhamdulillah, sekarang badan saya sudah terasa enak kembali.

Lebih menguji kesabaran mana, menanti hujan atau menyatukan selera makan ikan patin di rumah?

Tahu Taktik

25 Agustus 2026

Hari ini cuaca terlihat sangat cerah. Langit sama sekali tidak mendung, apalagi berujung hujan.

Hari ini adalah hari libur peringatan Maulid Nabi.

Pagi ini, grup komunikasi asesor sudah mulai ramai. Artinya, saya harus segera bersiap untuk tugas akreditasi. Saya pun mulai menyusun laporan pravisitasi. Sebelum visitasi dilakukan, saya memang wajib membaca dokumen unggahan sekolah. Sehingga, saya bisa menyiapkan catatan terkait informasi yang masih perlu digali di lapangan nanti. Selain itu, saya juga terus berkoordinasi dengan rekan pasangan asesor. Tantangan terbesarnya tentu saja menentukan jadwal yang cocok bagi kami berdua. Mengingat, kami sama-sama memiliki agenda yang padat. Rencananya, visitasi ini baru akan dilaksanakan pada bulan September.

Saya mengerjakan laporan tersebut sambil menikmati seduhan kopi V60. Hari ini saya mencoba biji kopi yang sangat unik. Yaitu, varian Liberika Sepaku. Kopi liberika ini memang tergolong cukup jarang. Apalagi, ini adalah kopi asli dari kawasan Sepaku, Kalimantan Timur. Saya malah baru tahu kalau wilayah di sekitar IKN tersebut bisa menghasilkan kopi.

Dalam perjalanan pulang, saya menyempatkan membeli gorengan tahu isi sayur. Tahu ini khusus saya belikan untuk anak saya. Supaya, dia bisa menukarnya dengan kuota menit bermain ponsel. Syaratnya, satu buah tahu isi sayur bernilai dua puluh menit waktu bermain. Taktik ini terbukti sangat efektif untuk memasukkan asupan sayur ke tubuhnya. Sebab, jika tidak diakali seperti ini, dia sama sekali tidak mau menyentuh sayur.

Sesampainya di rumah, istri ternyata sudah membelikan mi ayam Jakarta dari Jalan Siradj Salman. Ini adalah sajian mi ayam yang sangat legendaris. Sebab, saya sudah menyantapnya sejak SD atau sekitar tiga puluh tahun yang lalu. Artinya, eksistensi warung ini sungguh luar biasa karena mampu bertahan selama itu. Meskipun, dulu lokasinya memang sering berpindah-pindah. Beruntungnya, anak-anak saya juga sangat menyukai mi ayam ini.

Selain itu, istri juga membungkuskan nasi campur dengan lauk dada ayam. Tetapi, nasi campur tersebut rencananya baru akan saya makan agak sore nanti.

Lebih menantang mana, menyinkronkan jadwal dua asesor sibuk atau mengakali anak agar mau memakan sayur?