Harmoni Kolega

10 Agustus 2026

Hari yang awal. Seawal murid rebutan MBG.

Hari ini adalah awal perkuliahan. Tepatnya, hari pertama untuk semester ganjil tahun 2026. Pagi hari, saya menyiapkan materi kuliah. Semester ini, saya mengajar dua mata kuliah. Pertama adalah Introduction to Translation Studies. Kedua adalah Research Methodology in Literature. Rencananya, saya akan mencetak handout perkuliahan. Tujuannya agar mahasiswa bisa membuat catatan secara langsung. Sebab, jika hanya menggunakan salinan PPT, mereka menjadi sulit untuk mencatat.

Siang harinya, ada acara makan bersama. Acara ini merupakan syukuran untuk sebelas PNS baru di FIB. Alhamdulillah, suasananya sangat menyenangkan. Menunya ada sop dan ayam goreng. Kemudian, ada balado kentang, mihun, serta ikan dori goreng tepung.

Momen ini membuat saya sedikit merenung. Hubungan sesama rekan kerja PNS itu bisa sangat panjang. Bahkan, kebersamaan ini bisa mencapai tiga puluh tahun ke depan hingga masa pensiun. Oleh karena itu, jangan sampai masalah yang sepele justru berubah menjadi pertengkaran.

Secara umum, hari ini tidak ada jadwal rapat khusus. Namun, saya sempat berdiskusi dengan Dekan. Kami membahas beberapa hal terkait pengelolaan SDM fakultas.

Di sisi lain, ternyata masih ada mahasiswa yang sibuk mengurus KRS. Padahal, perkuliahan semester ganjil jelas-jelas sudah resmi dimulai hari ini. Kemudian, ada beberapa lembar disposisi masuk dari Dekan. Berkas-berkas tersebut langsung saya teruskan ke Kabag Umum untuk diproses.

Sore harinya, saya beranjak pulang ke rumah. Menu masakan di rumah hari ini adalah oseng-oseng dan ayam goreng tepung. Selain itu, ternyata ada menu mihun juga untuk sajian makan malam.

Siang makan mihun, dan malam pun makan mihun lagi. Tetapi, wujudnya berbeda. Siang tadi mihun putih. Buatan istri adalah mihun kecap cokelat.

Kurs Bakso

9 Agustus 2026

Hari ini hari Minggu. Waktunya libur. Suasana hari ini sangat tenang. Setenang haiku karya Basho. Tepatnya, puisi tentang kodok di kolam tua.

Setelah itu, saya lanjut ngopi. Saya memesan seduhan V60. Biji kopinya Aceh Gayo. 

Sambil ngopi, saya mengedit artikel. Naskah ini untuk jurnal Scopus yang lain. Targetnya adalah jurnal 3L dari Malaysia. Biaya publikasinya sekitar 300 dolar AS. Semoga saja artikel ini bisa lolos.

Sesampainya di rumah, saya langsung pergi jajan. Saya pergi bersama istri. Kami makan Bakso Gresik. Ini adalah bakso terenak di Samarinda. Harga seporsinya 45 ribu rupiah. Isinya ada lima pentol besar. Namun, istri saya hanya sanggup makan tiga buah. Oleh karena itu, dua pentol sisanya saya yang makan. Perut rasanya sangat kenyang. Apalagi, es jeruk di sini juga paling enak. Rasanya sungguh segar.
Meskipun begitu, bakso ini tetap masih kalah. Rasanya kalah oleh Bakso Mas Roy di Surabaya. Dulu, saya mampir ke sana saat adik menikah di Malang. Selesai acara, saya harus mengejar pesawat pagi. Penerbangannya dari Bandara Juanda. Oleh sebab itu, saya menginap semalam di Surabaya.
Dari Malang, saya naik Cititrans menuju Surabaya. Saya turun di pool yang terdekat dengan bandara. Waktu itu, saya ingin makan yang berkuah. Misalnya seperti bakso. Lalu, saya mengecek lewat Google. Warung bakso terdekat adalah Bakso Mas Roy. Saat pertama kali dicoba, rasanya langsung luar biasa. Itu adalah bakso terenak yang pernah ada. Bahkan, jauh lebih lezat daripada Bakso Gresik di Samarinda.

Jika biaya publikasi satu jurnal Scopus mencapai 300 dolar, kira-kira uang itu bisa ditukar dengan berapa bakso?

Kopi Scopus

8 Agustus 2026

Hari yang bingung. Sebingung memilih kopi yang hendak diminum

Hari ini libur. Sekarang hari Sabtu. Pagi hari, saya mengantar anak. Dia ada kegiatan ekskul Creative English.

Setelah mengantar, saya tidak langsung pulang. Tetapi, saya mampir ke tempat ngopi. Saya memesan kopi arabika V60. Biji kopinya jenis Pangalengan Honey. Selain itu, saya juga memesan air mineral dan es batu. Sambil ngopi, saya mengedit artikel jurnal. Lalu, saya mencari jurnal Scopus yang cocok. Setelah formatnya disesuaikan, saya langsung men-submit artikel tersebut. Di tempat ngopi itu, saya bertemu teman sejawat. Dia adalah dosen dari kampus lain. Kemudian, kami mengobrol tentang jurnal. Ternyata, kami sama-sama sedang perlu submit artikel.
Awalnya, saya tidak mengecek biaya publikasi. Namun, teman saya mengingatkan. Akhirnya, saya mengeceknya. Biayanya ternyata sekitar 11 jutaan. Jurnal ini masuk kategori Quartile 3 (Q3). Semoga saja artikel saya lolos.

Dari tempat kopi, saya pergi ke toko komputer. Saya membeli mouse merek Logitech. Tipenya adalah seri M350 berwarna hitam. Harganya 350 ribu rupiah. Saya memang perlu mouse baru untuk laptop yang sering dibawa keluar.

Setelah dari toko komputer, saya mampir di jalan. Saya membeli gorengan tahu isi sayur.

Akhirnya, saya sampai di rumah. Istri saya ternyata sudah membelikan makanan. Saya pun langsung menyantap gado-gado pedas tersebut.

Sanggupkah pedasnya gado-gado ini mengalahkan pedasnya tagihan publikasi 11 juta rupiah?