Sambal Tengah Semester

15 September 2026

Pagi ini saya membaca berita yang menyebutkan bahwa intrusi air laut ke Sungai Mahakam sudah kembali pada batas normal. Alhamdulillah, pelayanan distribusi air PDAM pun kini sudah berangsur normal.

Sebenarnya pagi ini ada jadwal rapat, tetapi waktunya bertepatan dengan jam mengajar. Saya pun meminta izin kepada pimpinan untuk tidak mengikuti rapat dan memilih tetap masuk kelas. Saya harus mengambil keputusan ini karena kelas minggu lalu sudah terpaksa kosong, dan minggu depan pun rencananya akan kembali kosong. Terlebih lagi, jadwal ujian tengah semester sudah semakin dekat. Di kelas hari ini, saya menyampaikan materi mengenai teknik penerjemahan, khususnya merujuk pada teori yang dikemukakan oleh Molina dan Albir. Selesai mengajar, saya memeriksa beberapa berkas disposisi dari Dekan dan langsung meneruskannya kepada Kabag Umum untuk ditindaklanjuti.

Siang harinya, saya makan dengan lauk ayam goreng dan sambal buatan istri. Rasanya sungguh enak sekali. Lalu pada sore harinya, saya kembali menyantap sambal yang sama, tetapi kali ini disandingkan dengan lauk bebek goreng. Makan sore tadi terasa sangat nikmat dan mengenyangkan.

Malam ini, saya berencana untuk melanjutkan pekerjaan menyusun laporan akreditasi. Saya sengaja mengerjakannya dengan cara menyicil sedikit demi sedikit, karena saya tahu betul bahwa draf laporan tersebut tidak akan mungkin selesai dalam satu malam.

Mengejar ketertinggalan materi kuliah sebelum UTS rupanya cukup menguras energi, tetapi lelahnya langsung terbayar lunas oleh nikmatnya sambal buatan istri di rumah.

Bakso Keju

14 September 2026

Alhamdulillah. Semalam aliran air PDAM akhirnya kembali menyala. Saya pun sempat memenuhkan tandon air di rumah. Selain itu, kami juga bisa menuntaskan cucian baju.

Pagi ini saya kembali masuk ke kantor. Sebelumnya, saya bertugas PKM di Kutai Timur selama seminggu penuh. Tumpukan berkas disposisi di meja ternyata ada beberapa. Padahal, saya tetap mengerjakan disposisi secara daring saat berada di Kutim. Selanjutnya, pagi ini saya berencana menyelesaikan laporan kegiatan tersebut. Saya mengerjakannya dengan cara menyicil sedikit demi sedikit. Sebab, jumlah dokumen laporannya memang lumayan banyak.

Siang harinya, saya bergegas pergi ke apotek. Saya harus mengambil beberapa macam obat rutin. Salah satunya adalah obat penurun tekanan darah. Selain itu, saya juga membeli beberapa jenis suplemen vitamin. Sebelum sampai di rumah, saya menyempatkan untuk mampir sebentar. Saya membeli camilan di tempat gorengan Om Beg.

Sesampainya di rumah, saya menyantap gorengan tersebut bersama istri. Kemudian, saya langsung merebahkan diri untuk tidur siang. Kondisi badan saya memang belum terasa bugar sepenuhnya. Di usia empat puluhan ini, tubuh saya butuh waktu beberapa hari untuk pemulihan setiap habis dinas luar kota. Bahkan, kondisinya malah sering jatuh seperti orang sakit. Padahal, dulu badan ini selalu segar bugar sehabis menempuh perjalanan jauh. Sayangnya, fisik saya sekarang menjadi jauh lebih gampang lelah.

Sore harinya, saya bangun dan langsung menyantap bakso. Istri saya sengaja menggilingkan daging bakso ini di Pasar Kedondong. Rasanya sungguh sangat enak. Apalagi, bakso buatan sendiri ini diberi tambahan isian keju. Sementara itu, malam ini saya berencana makan menu yang lebih sederhana. Saya hanya ingin menyantap seporsi mi Indomie goreng.

Fisik rentan usia empat puluhan yang gampang rebah ini rupanya bisa seketika pulih hanya dengan melihat tandon air yang penuh dan menyantap semangkuk bakso isi keju buatan istri.

Targedi Keran

13 September 2026

Hari ini air PDAM tidak mengalir. Oleh karena itu, saya hanya bisa berharap pada stok tandon air di rumah. Sayangnya, sempat terjadi insiden kecil. Istri saya menyalakan keran air. Kemudian, ia menyuruh anak kedua saya untuk mematikannya. Karena kelupaan, keran tersebut menyala berjam-jam. Akibatnya, air bersih terbuang sia-sia di tengah kondisi sulit ini.

Pagi ini saya sarapan Indomie rebus. Sebenarnya, saya sudah sangat ingin memakannya sejak berada di Kutim. Namun, saat perjalanan saya harus makan makanan berat agar tubuh tetap fit. Indomie ini dimasak dengan balutan telur dadar yang penuh irisan bawang merah. Menurut Jahidul si pakar makanan sehat, campuran bawang-bawangan bisa mengurangi efek buruk mi instan. Walaupun begitu, saya jadi terheran-heran. Indonesia sudah merdeka sekian lama. Tetapi, mengapa kita belum bisa menciptakan makanan sehat yang rasa dan harganya setara Indomie?

Siang ini saya memilih tidur seharian. Badan saya masih terasa pegal-pegal. Saat bangun, istri sudah memasak ayam goreng. Hidangan ini disajikan bersama sambal terasi dan lalapan timun. Rasa sambal terasinya benar-benar enak luar biasa. Alhasil, saya menyantap nasi dalam porsi yang sangat banyak.

Sore harinya, saya mengajak anak ke Era Mart. Rencana utamanya adalah mencari perangkap tikus untuk dipasang di rumah. Kami juga sekalian membeli beberapa camilan. 

Sesampainya di rumah, saya mulai menyicil laporan visitasi. Saat ini, saya baru berhasil merampungkan beberapa butir. Rencananya, besok saya akan melanjutkannya sedikit demi sedikit di kantor.

Kira-kira lebih banyak mana, takaran air yang terbuang sia-sia dari keran tadi atau porsi nasi yang saya habiskan gara-gara sambal terasi?