Targedi Keran

13 September 2026

Hari ini air PDAM tidak mengalir. Oleh karena itu, saya hanya bisa berharap pada stok tandon air di rumah. Sayangnya, sempat terjadi insiden kecil. Istri saya menyalakan keran air. Kemudian, ia menyuruh anak kedua saya untuk mematikannya. Karena kelupaan, keran tersebut menyala berjam-jam. Akibatnya, air bersih terbuang sia-sia di tengah kondisi sulit ini.

Pagi ini saya sarapan Indomie rebus. Sebenarnya, saya sudah sangat ingin memakannya sejak berada di Kutim. Namun, saat perjalanan saya harus makan makanan berat agar tubuh tetap fit. Indomie ini dimasak dengan balutan telur dadar yang penuh irisan bawang merah. Menurut Jahidul si pakar makanan sehat, campuran bawang-bawangan bisa mengurangi efek buruk mi instan. Walaupun begitu, saya jadi terheran-heran. Indonesia sudah merdeka sekian lama. Tetapi, mengapa kita belum bisa menciptakan makanan sehat yang rasa dan harganya setara Indomie?

Siang ini saya memilih tidur seharian. Badan saya masih terasa pegal-pegal. Saat bangun, istri sudah memasak ayam goreng. Hidangan ini disajikan bersama sambal terasi dan lalapan timun. Rasa sambal terasinya benar-benar enak luar biasa. Alhasil, saya menyantap nasi dalam porsi yang sangat banyak.

Sore harinya, saya mengajak anak ke Era Mart. Rencana utamanya adalah mencari perangkap tikus untuk dipasang di rumah. Kami juga sekalian membeli beberapa camilan. 

Sesampainya di rumah, saya mulai menyicil laporan visitasi. Saat ini, saya baru berhasil merampungkan beberapa butir. Rencananya, besok saya akan melanjutkannya sedikit demi sedikit di kantor.

Kira-kira lebih banyak mana, takaran air yang terbuang sia-sia dari keran tadi atau porsi nasi yang saya habiskan gara-gara sambal terasi?

Cobaan Samarinda

12 September 2026

Hari ini kita masih terus menunggu turunnya hujan. Kebetulan hari ini adalah hari Sabtu. Jadi, jadwal kerja saya sedang libur. Sebenarnya, ada kegiatan fun walk di kampus. Namun, saya tidak bisa ikut berpartisipasi.

Hari ini saya mencoba mengecek ulang dokumen pekerjaan. Sayangnya, progresnya masih belum terlalu maksimal.

Malam harinya, listrik di rumah tiba-tiba padam. Oleh karena itu, kami memutuskan jalan ke Big Mall. Ternyata, mal tersebut sangat penuh. Bahkan, semua tempat makan memberlakukan waiting list. Pertama, kami mendatangi restoran Lapangan Tembak. Sayangnya, tempat itu sudah penuh. Kemudian, kami pergi ke Hypermart. Niatnya ingin mencari kue kering keju. Ternyata, stoknya sudah habis terjual. Lalu, kami beralih ke toko roti Mako. Saya membeli sepotong kue red velvet. Sementara itu, istri saya membeli milk bun rasa susu.

Selanjutnya, kami mencoba mampir ke restoran Cabe Merah. Namun, tempat itu juga penuh dengan antrean. Kami pun bergeser ke area food court. Sayangnya, tidak ada makanan yang cocok di lidah. Di dekat area tersebut sebenarnya ada sebuah restoran ramen. Kami sempat ingin mencoba makan di sana. Ternyata, restoran itu juga antre. Akhirnya, kami memutuskan untuk pulang. Di tengah jalan, kami mampir makan Nasi Goreng Damar Wulan. Rasanya memang lumayan. Tetapi, rasanya sudah tidak seenak zaman dulu.

Sesampainya di rumah, alhamdulillah lampu sudah kembali menyala. Saat ini kondisi Kota Samarinda memang sedang serba sulit. Sungai Mahakam mulai mengering. Sehingga, aliran air PDAM menjadi sangat susah. Bahkan, kebakaran lahan mulai memicu kabut asap. Selain itu, warga harus antre panjang hanya untuk membeli Pertalite. Penderitaan ini semakin lengkap karena listrik PLN tiba-tiba ikut padam.

Paket cobaan beruntun di Samarinda ini rasanya sudah sangat cukup, jangan sampai candaan lama tentang PLN yang menyebut ini bukan pemadaman bergilir melainkan penyalaan bergilir benar-benar terulang kembali.

Pulang dan Anak

11 September 2026

Hari ini adalah hari kedua saya di Bengalon. Saya di sini masih sama-sama menunggu turunnya hujan. Warga Bengalon bahkan sudah mulai membeli air bersih. Sebab, sumur-sumur mereka kini sudah mengering.

Agenda saya hari ini berfokus pada kegiatan berkeliling sekolah. Saya bertugas mengecek kondisi sarana dan prasarana. Selain itu, saya juga harus memeriksa kembali kelengkapan dokumen.

Pagi ini saya sarapan nasi goreng di penginapan. Saya menyantapnya dengan tambahan sambal terasi. Ternyata, rasanya sungguh sangat enak. Semalam saya juga membeli nasi goreng di warung sebelah penginapan. Namun, rasanya justru terasa biasa saja. Tahu begitu, saya tentu akan memesan nasi goreng di penginapan saja dari awal.

Siang harinya, saya menyempatkan makan nasi Padang sebelum berangkat salat Jumat. Sayangnya, hidangan tersebut kurang cocok di lidah saya. Nasi yang disajikan bertekstur terlalu pulen. Padahal, masakan Padang itu paling cocok menggunakan jenis beras yang *ngepyar*. Selain itu, telur dadarnya juga terasa terlalu banyak campuran tepung.

Sore harinya, saya langsung bertolak kembali ke Samarinda. Rute kepulangan kami melewati Bengalon, Sangatta, Bontang, lalu perlahan masuk ke Samarinda. Perjalanan darat ini terasa lumayan menguras tenaga. Untungnya, kondisi jalanan yang kami lewati sudah relatif bagus. Saya sungguh sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan anak wedhok di rumah.

Sumur kering dan nasi Padang yang kelewat pulen ini memang sedikit mengecewakan, tetapi bayangan bertemu anak sukses menyapu habis semua kelelahan di sepanjang jalan.