Derby Juanda

31 Oktober 2026

Hari ini hari Sabtu. Suasananya santai, sesantai hari libur. Kegiatan pagi saya mulai dengan mencari sarapan dan camilan. Kemarin anak kedua saya sempat kurang enak badan dan belum sempat makan malam. Alhamdulillah, pagi ini dia sudah kembali sehat.

Saya pergi ke penjual camilan di Jalan Juanda. Saya membeli aneka kue dan nasi chicken katsu. Waktu itu saya sedang memakai kaus Juventus. Tiba-tiba penjualnya bilang, "Mas, kita musuhan." Saya tentu saja bingung. Penjual itu lalu menunjukkan wallpaper HP-nya. Ternyata gambarnya logo I*ter Milan, rival abadi Juve di Serie A.

Setelah urusan "derbi" itu selesai, saya lanjut ke Indomaret Point. Saya membeli Kopi Jadul dan roti Say Bread rasa keju. Pukul 10.00 hingga 11.00, anak kedua ada jadwal ekskul matematika. Saya yang bertugas mengantar dan menjemputnya. Pagi ini juga ada kejutan yang menyenangkan. Kakak-kakak saya datang dari Cirebon dan membawakan oleh-oleh makanan.

Urusan perut di rumah juga sangat terjamin. Istri memasak oseng kacang panjang campur wortel, ikan layang goreng, dan bakwan jagung. Kami juga menambah lauk ayam goreng tepung yang dibeli di luar. Alhamdulillah, rasanya lezat. Sore harinya, istri kembali beraksi di dapur membuatkan nugget ayam isi keju dan cireng.

Rivalitas Serie A untuk milenial. 

Bening Layang

30 Oktober 2026

Hari ini hari Jumat. Cuacanya lumayan hangat. Sehangat momen berjalan keluar siang-siang menuju masjid. Saya salat Jumat di Masjid Al-Fatihah UNMUL. Sebelum ke masjid, saya menyempatkan mampir membeli pentol seharga sepuluh ribu rupiah. Saya hanya minta isian pentol dan tahu. Bumbunya cukup saus dan satu sendok sambal. Camilan ini saya habiskan perlahan sambil berjalan sampai ke pelataran masjid.

Paginya, saya mengadakan makeup test untuk mata kuliah Penerjemahan. Ujian ulang ini terpaksa dilakukan karena nilai mereka sebelumnya banyak yang terlampau rendah. Saya tidak mengawas kelas sendiri. Saya meminta tolong dua mahasiswa kakak kelas yang sedang bimbingan skripsi dengan saya untuk menjadi pengawas tes.

Jadwal hari ini cukup padat. Ada dua mahasiswa yang dijadwalkan maju ujian pendadaran. Selesai Jumatan, saya langsung menuju ruangan untuk menguji mereka.

Sore harinya saya pulang. Sampai di rumah, istri ternyata sudah memasak makanan favorit saya sepanjang masa. Ada sayur bening bayam campur timun dan ikan layang goreng. Sayur bening ini rasanya dominan manis khas masakan Solo. Perpaduan kedua lauk ini sangat kawin di lidah. Ini adalah hidangan kesukaan saya sejak kecil.

Resep sayur ini turun-temurun dari ibu saya. Tekniknya murni "cemplung-cemplung" tanpa tumisan minyak dan tanpa bawang putih. Pertama, rebus air secukupnya. Masukkan irisan tipis bawang merah. Biarkan mendidih beberapa saat sampai bawang merahnya benar-benar matang. Setelah itu, baru masukkan bayam dan timun. Kalau ada temu kunci, silakan dimasukkan sebagai penambah aroma. Bumbu utamanya sungguh unik. Masukkan dua sendok makan gula. Ya, dua sendok makan penuh, bukan sendok teh. Setelah itu, tambahkan sedikit garam seujung sendok. Begitu bayam terlihat empuk, segera matikan kompor. Rasanya sungguh manis, segar, dan luar biasa lezat.

Malam nanti saya berencana makan hidangan ini lagi. Entah kenapa, saya hampir tidak pernah merasa bosan dengan menu yang satu ini.

Di kampus harus ketat menghadapi nilai mahasiswa yang terjun payung.


Siomay Banjar

29 Oktober 2026

​Hari ini adalah hari Kamis. Suasananya terasa sangat tenang. Ketenangannya persis seperti suasana rumah saat anak-anak sedang tertidur pulas.

​Di kantor, saya mengerjakan kegiatan administratif seperti biasa. Salah satunya adalah memproses disposisi dari Dekan. Setelah itu, saya sibuk mengoreksi skripsi mahasiswa. Pekerjaan ini harus disegerakan karena besok Jumat ada mahasiswa yang akan maju ujian.

​Sesampainya di rumah, ternyata sedang mati lampu. Sementara itu, istri masih di luar untuk menjemput anak-anak. Selain mati lampu, jalanan menuju rumah juga sedang dicor semen. Oleh karena itu, motor saya titipkan sementara di pekarangan tetangga.

​Tak lama kemudian, istri pulang menjemput sambil membungkuskan ayam Banjar. Rasanya sangat enak. Selain itu, istri juga membelikan siomay. Porsinya diperbanyak sayur pare sesuai dengan permintaan saya.

​Malam harinya, jalanan cor sudah agak kering dan bisa dilewati. Saya pun berjalan mengambil motor dari rumah tetangga. Sekalian saja saya mampir ke Era Mart untuk membeli camilan. Malam itu juga, istri memasak mi goreng. Alhamdulillah, perut saya sangat kenyang.

​Jalanan menuju rumah boleh saja dicor semen agar keras, tetapi perut saya justru dibiarkan melar oleh tumpukan ayam Banjar, siomay pare, camilan, dan mi goreng.