Ekstra Kerupuk

19 September 2026

Pagi ini, saya dan anak kedua bangun sejak subuh. Kami berdua melaksanakan salat berjamaah. Setelah itu, kami lanjut memasak nasi dan menggoreng telur. Sementara itu, istri dan anak pertama sedang berhalangan. Oleh karena itu, mereka berdua bangun lebih siang.

Menu sarapan pagi ini awalnya adalah nasi dengan telur dadar. Namun, istri ternyata membuat mi ayam. Akhirnya, saya memilih untuk menyantap mi ayam buatan istri. Anak pertama saya hari ini mengikuti ekstrakurikuler Creative English di sekolah. Sedangkan, anak kedua saya hanya belajar melalui Zoom.
Sepulang menjemput anak, istri membawakan gorengan dan sebungkus gado-gado. Saya memang memesan gado-gado yang sangat pedas dengan ekstra kerupuk. Selain itu, istri juga membeli air kelapa murni. Rasanya sungguh segar. Siang harinya, saya pun langsung menyantap gado-gado tersebut.

Setelah makan siang, saya tertidur pulas. Saya baru terbangun saat magrib tiba. Pada sore harinya, istri ternyata membelikan Bakso Bintang Malang. Saat ini, ini adalah bakso urat yang paling enak menurut saya. Saya memakannya menggunakan taburan remukan emping. Rasanya benar-benar segar dan nikmat.

Tadi sore, saya juga sempat pergi ke Era Mart. Saya membeli air mineral Pristine ber-pH tinggi. Air ini dipersiapkan untuk bekal perjalanan besok. Rencananya, saya akan berangkat untuk melakukan tugas visitasi akreditasi.

Untuk makan malam, kami berencana membuat ayam saus. Resep masakan ini didapat dari TikTok. Ayam goreng tepung digeprek terlebih dahulu. Kemudian, dagingnya dimasak menggunakan mayones dan saus tomat. Supaya pedas, bumbunya tinggal ditambahkan cabai rawit dan sedikit kaldu Totole.

Mempersiapkan kesehatan dengan air mineral ber-pH tinggi untuk tugas akreditasi besok sepertinya menjadi sia-sia karena perut ini sudah digempur gado-gado super pedas, bakso urat, dan ayam saus TikTok seharian penuh.

Kado Brimo

18 September 2026

​Anak-anak masih belajar di rumah. Anak kedua belajar menggunakan Google Meet. Anak pertama menerima penugasan di rumah.

​Pagi ini saya berangkat ke kantor. Syukurlah, kabut asap sudah tidak separah kemarin.
​Hari ini ada acara yudisium untuk periode September. Acara ini diselenggarakan di gedung iLab Unmul. Pesertanya mencapai 70 mahasiswa. Jumlah ini lumayan banyak. Menariknya, sepertiga peserta adalah angkatan 2019. Mereka menghabiskan masa studi pas tujuh tahun.

​Selesai yudisium, saya langsung kembali ke kantor. Saya segera menyelesaikan laporan visitasi Kutim kemarin. Laporan tersebut sebenarnya sudah siap. Saya tinggal mengeklik tombol submit saja. Namun, saya memilih untuk mengendapkannya dulu. Rencananya, tombol itu baru akan saya klik besok.

​Sesampainya di rumah, saya makan sedikit nasi goreng ikan asin. Nasi goreng ini adalah sisa masakan sarapan tadi. Setelah itu, saya lanjut menyantap mi ayam. Keduanya adalah buatan istri yang rasanya sangat enak. Alhamdulillah.
​Hari ini saya berulang tahun yang ke-41. Lucunya, ucapan pertama justru datang dari aplikasi Brimo. Setelah itu, baru datang ucapan dari bapak, ibuk, dan kakak-kakak saya.
​Alhamdulillah, hari ini saya mendapat hadiah yang istimewa. Punggung saya diinjak-injak oleh kedua anak saya. Selain pijatan injakan, mereka juga mendoakan saya. Di setiap harinya, doa saya selalu berkisar pada urusan kesehatan dan keimanan.
​Kesehatan sangat penting karena sakit itu merepotkan dan berada di luar kuasa saya. Oleh karena itu, kesehatan benar-benar perlu dimohonkan. Selanjutnya adalah keimanan. Sama seperti kesehatan, keimanan ini juga perlu terus didoakan. Sebab, iman manusia itu selalu naik turun. Suatu kali kita bisa ingin sekali salat, tetapi di waktu lain kita bisa merasa sangat malas. Doakan saya agar selalu sehat dan tetap ber-Islam. Aamiin.

​Ternyata di usia ke-41 ini, sistem aplikasi perbankan bisa jauh lebih sigap mengingat hari lahir daripada manusia, tetapi pijakan kaki anak-anak di punggung tetaplah menjadi kado paling melegakan.

Asap Gerimis

17 September 2026

Pagi ini Samarinda diselimuti asap. Beberapa situs web menyatakan kondisi udara sangat berbahaya bagi pernapasan. Perjalanan ke kantor penuh dengan asap. Untunglah saya memakai masker.

Anak kedua saya sudah mendapat edaran belajar di rumah sejak semalam. Dia tentu saja merasa senang. Sementara itu, anak pertama baru mendapat edaran serupa pada pukul enam pagi. Situasi ini benar-benar darurat. Kita sangat membutuhkan masker. Suasana ini jadi mengingatkan saya pada zaman Covid-19 dahulu.

Saya sendiri berangkat ke kampus agak terlambat. Sebab, di grup WA kantor ada arahan untuk mengalihkan kelas menjadi online. Jadi, tidak ada kelas tatap muka hari ini. Namun, saya tetap ngantor karena ada rapat. Rapat ini mempertemukan para pimpinan FIB. Kami membahas bermacam-macam hal.

Di sela rapat, kami sadar perlunya membeli masker untuk antisipasi. Tetapi ternyata, stok masker di Samarinda sedang kosong. Saya mengecek harga di toko online, dan harganya sudah melonjak berlipat-lipat dari harga biasa.

Selesai rapat, saya langsung mengajar kelas pengganti. Kelas ini dimajukan karena minggu depan saya ada rencana visitasi. Saya akan turun ke sekolah di Muara Kaman. 

Setelah mengajar, saya menyantap makan siang. Bekal ini disiapkan oleh istri. Lauknya adalah ikan layang, sambal terasi, dan kerupuk.

Selesai makan, saya kembali fokus. Saya harus menyelesaikan laporan visitasi di Kutim. Saya bertahan di depan laptop sampai menjelang magrib. Sayangnya, laporan itu tetap belum selesai. Target saya besok harus tuntas. Mudah-mudahan bisa lekas rampung.

Setelah magrib, saya mampir ke rumah ibu. Katanya, HP beliau sedang rusak. Setelah saya cek, ternyata layarnya terus-menerus memunculkan pop-up iklan. Akhirnya, saya menggunakan panduan dari Gemini. Saya ikuti petunjuknya langkah demi langkah. Cara tadi sih berhasil, tetapi saya belum tahu apakah iklannya akan muncul lagi nanti. Saat pulang, ibu membawakan saya sebuah cincin hijau. Cincin itu adalah punya bapak.

Malam harinya, saya menyantap menu spesial. Hidangannya berupa sayur bening bayam dan ikan layang goreng. Sayur bayam ini diracik khas Solo. Bumbunya hanya memakai bawang merah dan kencur tanpa bawang putih. Gulanya ditaruh sebanyak dua sendok makan penuh, lalu diberi sedikit garam. Rasanya sungguh manis dan segar. Ini adalah bayam bening favorit saya.

Malam ini, Samarinda sempat gerimis sedikit sekali. Walaupun begitu, status WA di HP saya langsung heboh seketika. Ke depannya, saya akan melarang keras keluarga saya untuk mengeluh jika hujan turun.

Kira-kira lebih langka mana, stok masker di Samarinda saat darurat asap atau orang yang tidak update status WA saat gerimis pertama turun?