Cobaan Samarinda

12 September 2026

Hari ini kita masih terus menunggu turunnya hujan. Kebetulan hari ini adalah hari Sabtu. Jadi, jadwal kerja saya sedang libur. Sebenarnya, ada kegiatan fun walk di kampus. Namun, saya tidak bisa ikut berpartisipasi.

Hari ini saya mencoba mengecek ulang dokumen pekerjaan. Sayangnya, progresnya masih belum terlalu maksimal.

Malam harinya, listrik di rumah tiba-tiba padam. Oleh karena itu, kami memutuskan jalan ke Big Mall. Ternyata, mal tersebut sangat penuh. Bahkan, semua tempat makan memberlakukan waiting list. Pertama, kami mendatangi restoran Lapangan Tembak. Sayangnya, tempat itu sudah penuh. Kemudian, kami pergi ke Hypermart. Niatnya ingin mencari kue kering keju. Ternyata, stoknya sudah habis terjual. Lalu, kami beralih ke toko roti Mako. Saya membeli sepotong kue red velvet. Sementara itu, istri saya membeli milk bun rasa susu.

Selanjutnya, kami mencoba mampir ke restoran Cabe Merah. Namun, tempat itu juga penuh dengan antrean. Kami pun bergeser ke area food court. Sayangnya, tidak ada makanan yang cocok di lidah. Di dekat area tersebut sebenarnya ada sebuah restoran ramen. Kami sempat ingin mencoba makan di sana. Ternyata, restoran itu juga antre. Akhirnya, kami memutuskan untuk pulang. Di tengah jalan, kami mampir makan Nasi Goreng Damar Wulan. Rasanya memang lumayan. Tetapi, rasanya sudah tidak seenak zaman dulu.

Sesampainya di rumah, alhamdulillah lampu sudah kembali menyala. Saat ini kondisi Kota Samarinda memang sedang serba sulit. Sungai Mahakam mulai mengering. Sehingga, aliran air PDAM menjadi sangat susah. Bahkan, kebakaran lahan mulai memicu kabut asap. Selain itu, warga harus antre panjang hanya untuk membeli Pertalite. Penderitaan ini semakin lengkap karena listrik PLN tiba-tiba ikut padam.

Paket cobaan beruntun di Samarinda ini rasanya sudah sangat cukup, jangan sampai candaan lama tentang PLN yang menyebut ini bukan pemadaman bergilir melainkan penyalaan bergilir benar-benar terulang kembali.

Pulang dan Anak

11 September 2026

Hari ini adalah hari kedua saya di Bengalon. Saya di sini masih sama-sama menunggu turunnya hujan. Warga Bengalon bahkan sudah mulai membeli air bersih. Sebab, sumur-sumur mereka kini sudah mengering.

Agenda saya hari ini berfokus pada kegiatan berkeliling sekolah. Saya bertugas mengecek kondisi sarana dan prasarana. Selain itu, saya juga harus memeriksa kembali kelengkapan dokumen.

Pagi ini saya sarapan nasi goreng di penginapan. Saya menyantapnya dengan tambahan sambal terasi. Ternyata, rasanya sungguh sangat enak. Semalam saya juga membeli nasi goreng di warung sebelah penginapan. Namun, rasanya justru terasa biasa saja. Tahu begitu, saya tentu akan memesan nasi goreng di penginapan saja dari awal.

Siang harinya, saya menyempatkan makan nasi Padang sebelum berangkat salat Jumat. Sayangnya, hidangan tersebut kurang cocok di lidah saya. Nasi yang disajikan bertekstur terlalu pulen. Padahal, masakan Padang itu paling cocok menggunakan jenis beras yang *ngepyar*. Selain itu, telur dadarnya juga terasa terlalu banyak campuran tepung.

Sore harinya, saya langsung bertolak kembali ke Samarinda. Rute kepulangan kami melewati Bengalon, Sangatta, Bontang, lalu perlahan masuk ke Samarinda. Perjalanan darat ini terasa lumayan menguras tenaga. Untungnya, kondisi jalanan yang kami lewati sudah relatif bagus. Saya sungguh sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan anak wedhok di rumah.

Sumur kering dan nasi Padang yang kelewat pulen ini memang sedikit mengecewakan, tetapi bayangan bertemu anak sukses menyapu habis semua kelelahan di sepanjang jalan.

Kemarau Visitasi

10 September 2026

Hujan di kawasan Kaltim masih juga belum turun. Saat ini saya berada di Bengalon dan kondisinya juga sama. Sumber air mulai mengering. Akibatnya, warga harus membeli air bersih. Sementara itu, aliran air PDAM di Samarinda juga mulai tersendat.

Hari ini adalah hari pertama kegiatan visitasi. Jadwalnya sangat padat seharian penuh sampai pukul lima sore. Kegiatannya meliputi observasi kelas dan sesi wawancara. Besok, rencananya saya akan melakukan telaah dokumen. Saya juga akan mengecek kelengkapan sarana dan prasarana. Selain itu, saya akan mewawancarai pihak yang belum atau sempat terlewat.

Di sela-sela kesibukan, kami beristirahat sejenak pada siang hari. Saya menyantap menu ikan nila bakar untuk makan siang.

Sore harinya, saya akhirnya tiba di penginapan. Saya langsung mandi dan beristirahat santai sambil bermain ponsel. Sekarang, saya sedang bersiap-siap untuk makan malam. Sepertinya, malam ini saya akan mencari semangkuk mi kuah.

Menuntaskan jadwal visitasi seharian ini ternyata sama menguras tenaganya dengan menanti tetes hujan di tanah Kaltim.