Sop Patin Istri

28 September 2026

Alhamdulillah, hari ini turun hujan deras. Kita sudah menunggu berbulan-bulan untuk momen ini. Bagi orang lain, hujan mungkin hal yang biasa. Tetapi, bagi warga Samarinda, ini adalah hal yang luar biasa. Sebab, kita sudah lama melihat debit air Sungai Mahakam surut parah.

Pagi ini saya berangkat ke kantor seperti biasa. Lalu, saya mengikuti rapat pagi terbatas. Rapat ini hanya dihadiri oleh para Wakil Dekan.

Selesai rapat, saya kembali menyicil laporan visitasi. Isinya memang masih kurang beberapa hal. Tetapi, laporan keuangan perjalanan sudah beres. Berkasnya sudah saya titipkan. Saya selalu menitipkannya kepada teman dosen. Karena, rumahnya berada di kawasan Samarinda Seberang.

Di usia sekarang, rasa lelah akibat perjalanan jauh memang sangat awet. Capeknya masih terasa selama beberapa hari. Sehingga, saya memutuskan pulang dari kantor agak cepat hari ini.

Sesampainya di rumah, saya langsung makan. Lauknya adalah sop ikan patin buatan istri. Rasanya sungguh segar dan lezat. Ikan patin ini adalah favorit saya dan anak-anak. Tetapi, istri saya justru kurang menyukainya. Beberapa teman dosen perantau dari Jawa juga biasanya kurang suka ikan patin.

Setelah makan, saya sempat tidur sebentar. Lalu, saya bangun pada sore hari. Kemudian, saya langsung mandi.

Malam ini, saya berencana makan sop ikan patin lagi. Istri saya memang luar biasa. Dia rela repot memasak hidangan yang sama sekali tidak dia sukai. Sehingga, sebagai suami yang penuh pengertian, saya merasa wajib menolongnya dengan cara menghabiskan seluruh masakannya.

Nilai Pas

27 September 2026

Hari ini adalah hari Minggu. Hari ini adalah hari libur. Saya masih dalam masa pemulihan badan. Sebab, saya baru saja pulang dari agenda visitasi di Muara Kaman dan Tenggarong.

Pagi ini saya menyeduh kopi dingin buatan sendiri. Kopi ini rasanya semacam *cold brew*. Untuk sarapan, saya makan tempe goreng dan hati goreng. Lauk ini disajikan bersama timun dan sambal. Alhamdulillah, perut saya menjadi sangat kenyang. Siang harinya, saya tidur untuk beristirahat.

Setelah bangun tidur, saya langsung makan siang. Masih ada sisa hati goreng dari sarapan tadi. Tetapi, kali ini ditambah sop bakso ikan dan camilan pempek Bontang. Alhamdulillah, semua makanannya enak.

Hari ini saya juga fokus menemani anak belajar. Besok Senin dia ada jadwal ulangan mata pelajaran PJOK dan Al-Islam. Cara belajarnya adalah membaca materi dan membaca latihan soal. Kalau sudah selesai, istri saya akan memberikan pertanyaan tentang isi materinya. Mudah-mudahan anak saya bisa menjawab semuanya. Dan, semoga dia mendapat nilai yang sesuai, pas, dan cocok.

Di kelas, saya juga sering mengingatkan mahasiswa tentang konsep nilai ini. Kebanyakan mahasiswa selalu mengejar dan meminta nilai A. Padahal, nilai A itu belum tentu baik buat mahasiswa. Mintalah nilai yang sesuai, pas, dan cocok. Yaitu nilai yang bisa memacu kita untuk menjadi lebih baik lagi.

Malam ini, saya berencana makan bakso. Saya ingin meracik kuahnya menjadi pedas, manis, dan asam. 

Mahasiswa saya nasihati supaya mencari nilai yang pas, termasuk meracik kuah bakso. 

Godaan Limpa

26 September 2026

Kemarin hujan gerimis akhirnya turun. Alhamdulillah. Status WA langsung heboh membahas ini. Fenomena ini memang sangat dinanti-nanti.

Pagi ini saya mulai menyicil laporan akreditasi. Laporan ini adalah hasil visitasi di Muara Kaman dan Tenggarong kemarin. Saya harus menyicil karena pekerjaannya pasti belum selesai hari ini.

Saya mengerjakan laporan tersebut di warkop Hayyu. Awalnya saya ingin memesan seduhan V60. Namun, biji kopinya ternyata sedang kosong. Akhirnya, saya memesan es Americano saja. Saya sudah terbiasa dengan warkop ini. Oleh karena itu, saya lebih sering datang ke sini. Sekitar jam 12 siang, saya beranjak pulang ke rumah. Saya berhasil menyelesaikan penilaian individu untuk dua sekolah. Walaupun begitu, masih ada tahapan laporan lanjutan setelah ini.

Siangnya, saya menyantap masakan istri di rumah. Lauk utamanya adalah ikan asin masak coan-coan. Rasanya sungguh enak sekali. Dahulu, almarhum nenek beberapa kali pernah memasak hidangan ini. Waktu di Solo, nenek biasanya memakai ikan gereh besek. Selain itu, ada juga tambahan limpa goreng. Menurut saya, jeroan sapi yang paling enak adalah limpa. Rasanya bahkan lebih nikmat daripada daging sapi. Dicampur coto enak, lalu digoreng juga luar biasa lezat. Semuanya semakin pas dengan tambahan lalapan timun dan sambal terasi.

Sore harinya, saya dan istri pergi ke Tepian. Kami berdua membeli dimsum merek Sumbuddy. Ini adalah dimsum favorit keluarga kami. Dahulu, gerainya ada di Big Mall. Sekarang, mereka berjualan jika ada acara di Tepian. Sayangnya, ukuran dimsum ini agak mengecil. Bentuknya tidak lagi segendut dahulu. Karena sedang lapar-laparnya, enam biji dimsum itu langsung saya habiskan setiba di rumah.

Malam harinya, saya makan nasi dengan coan-coan ikan asin lagi. Saya sama sekali belum bosan karena rasanya memang seenak itu.

Ukuran dimsum Sumbuddy boleh saja menyusut drastis, tetapi porsi makan saya gara-gara coan-coan ikan asin dan limpa goreng justru semakin membesar.