Asap Belum Musnah

22 Oktober 2026

Hari ini hari Kamis. Hari yang masih penuh ketidaktahuan. Persis seperti ketidaktahuan kapan kabut asap ini akan benar-benar musnah. Pagi hari saya buka dengan kopi Arabika dingin. Rasanya sangat segar.

Setelah itu, saya menyalakan komputer. Saya lanjut mengerjakan persiapan presentasi untuk seminar selanjutnya. Fokus utamanya ada di bagian penyajian data. Di sela-sela kesibukan itu, tumpukan berkas disposisi dari Dekan menanti. Berkas-berkas tersebut langsung saya teruskan satu per satu ke bagian terkait.

Siang harinya, saya mendapat jatah snack dan makan siang. Semuanya langsung saya makan. Alhamdulillah, perut terasa kenyang. Setelah itu, saya mengadakan rapat sebentar bersama para wakil dekan yang lain. Kami membahas beberapa agenda kegiatan fakultas ke depan.

Sore harinya saya pulang. Sampai di rumah, saya disambut dengan semangka dan mangga dingin. Setelah buah, saya lanjut makan nasi dengan oseng kangkung, ikan layang balado, telur rebus, dan kulit goreng. Alhamdulillah, rasanya enak sekali. Perut pun kembali kenyang. Malam harinya, saya makan lagi dengan lauk yang sama.

Asap di luar tak kunjung musnah, seperti kemalasan.

Asap Mid Menguap

21 Oktober 2026

Hari ini hari Rabu. Udara di luar masih berasap. Asap ini muncul terus-menerus. Saya jadi berpikir, dari mana asal api kebakaran hutan ini? Apakah ranting yang sangat kering bisa tiba-tiba melahirkan api? Rasanya kok janggal. Saya pernah melihat sambaran petir bisa memicu api. Tetapi, musim kemarau begini dari mana datangnya petir? Sungguh membingungkan.

Sampai di kantor, saya langsung meminum kopi dingin. Setelah itu, saya lanjut mengoreksi ujian mid-semester mahasiswa ITS. Alhamdulillah, tugas ini akhirnya selesai. Namun, nilai rata-ratanya sangat menyedihkan. Rata-ratanya hanya 45. Angka ini sangat rendah. Sebenarnya, ini adalah cerminan nilai saya sebagai dosen. Akhirnya, saya memutuskan untuk mengadakan makeup test untuk mata kuliah ini.

Selesai urusan nilai, saya kembali ke rutinitas biasa. Ada beberapa surat disposisi yang harus diurus. Saya juga memaraf dan menandatangani beberapa berkas.

Siang harinya, saya mendapat camilan yang lumayan enak. Untuk makan siang, ada menu ayam bakar berukuran besar. Sayangnya, daging bagian dalamnya masih putih dan kurang bumbu.

Sore harinya saya pulang. Sampai di rumah, saya langsung makan soto. Istri saya membelikan soto Lamongan langganan di dekat Rumah Sakit AWS. Setelah makan soto, saya, istri, dan anak kedua asyik mengemil. Kami menghabiskan peyek sampai satu toples. Malam ini, entah mengapa saya mendadak ingin makan Indomie rebus.

Di luar berasap, nilai mahasiswa menguap, dan peyek setoples sukses dilahap.