Batik Pernikahan

2 Oktober 2026

​Hari ini adalah tanggal 2 Oktober. Hari ini bertepatan dengan peringatan Hari Batik Nasional. Lebih spesial lagi, hari ini juga merupakan hari ulang tahun pernikahan saya dan istri. Tahun ini adalah perayaan kami yang ke-15. 

Walaupun ada momen spesial, suasana Jumat ini terasa sangat sepi karena aturan WFA masih berlaku di kampus.

​Meskipun saya tetap ngantor, tidak banyak pekerjaan hari ini. Saya hanya menyicil koreksian ujian tengah semester mata kuliah ITS. Sayangnya, banyak nilai mahasiswa yang memprihatinkan. Sementara itu, FIB hari ini membuat karangan bunga. Karangan bunga ini ditujukan untuk rektor terpilih periode selanjutnya.

​Sebelum waktu salat Jumat tiba, saya memutuskan untuk pulang. Saya menunaikan salat di masjid dekat rumah. Di perjalanan pulang, saya mampir membeli tahu jontor. Saya memilih tahu pedas isi sayur dan tahu bakso. Harganya tiga ribu rupiah per biji. Jajanan ini termasuk gorengan favorit saya.

​Sesampainya di rumah, istri sedang sibuk memasak. Menunya adalah sayur santan daun singkong, empal daging, dan tahu goreng. Namun, daging empal harus direbus lama supaya benar-benar empuk. Karena sudah terlanjur lapar, saya akhirnya meminta dibuatkan telur ceplok. Hari ini saya makan cukup banyak. Selesai makan dan salat Jumat, saya menyempatkan diri untuk tidur sebentar.

​Sehabis magrib, saya berkunjung ke rumah ibu. Saya ingin mengabarkan rencana keberangkatan ke Makassar dalam waktu dekat. Saya pergi ke sana bersama anak kedua. Setelah dari rumah ibu, kami lanjut berbelanja camilan di Era Mart.

​Ternyata, belanja camilan saja menghabiskan uang hingga 150 ribu rupiah. Nominal ini lumayan mahal, sehingga kebiasaan ini tidak bisa sering-sering dilakukan. Kemudian, istri juga berpesan untuk dibelikan minuman sarabba hangat di Jalan Siradj Salman. Setibanya kembali di rumah, saya kembali duduk bekerja untuk mengoreksi skripsi mahasiswa.

​Ternyata, merayakan ulang tahun pernikahan ke-15 dengan tagihan camilan mahal di Era Mart masih jauh lebih melegakan daripada harus melihat deretan nilai ujian mahasiswa yang memprihatinkan hari ini.

Soto Tanpa Nasi

1 Oktober 2026

Pagi ini adalah hari Kamis. Cuacanya terasa sangat panas. Sepanas suhu politik pemilihan rektor.

Kemarin, hasil pemilihan rektor Unmul sudah beredar dan diumumkan. Hari ini sempat ada demonstrasi terkait hasil tersebut. Kabarnya, massa sampai menutup pintu masuk kampus. Namun, saya berangkat ke kantor sangat pagi setelah mengantar anak sekolah. Sehingga, saya masih keburu masuk melalui gerbang depan. Saat itu, para pendemo belum datang dan belum menutup pintu.

Kegiatan hari ini berjalan seperti biasa. Ada beberapa surat disposisi dari Dekan. Surat tersebut langsung saya teruskan kepada Kabag Umum. 

Selanjutnya, saya menyicil koreksi ujian tengah semester mata kuliah ITS. Sayangnya, banyak mahasiswa yang mendapat nilai kurang.

Di sela-sela mengoreksi, saya menyempatkan diri mengobrol dengan para wakil dekan FIB.

Setelah itu, saya masuk menghadap Dekan. Ada beberapa hal yang perlu saya laporkan. Laporan ini secara khusus terkait urusan keuangan dan kepegawaian.

Menjelang sore, saya bersiap untuk pulang. Ternyata hujan turun membasahi kampus. Alhamdulillah. Sesuai janji, saya tidak akan mengeluhkan datangnya hujan lagi.

Setelah hujan reda, barulah saya pulang. Di jalan, saya mampir membeli gorengan tahu isi sayur. Sesampainya di rumah, istri rupanya baru selesai menggoreng tempe. Rasanya sangat enak karena langsung dimakan saat masih panas. Sore harinya, istri pergi menjemput anak sekolah. Saat pulang, dia mampir membeli soto Lamongan di dekat Rumah Sakit AWS. Warung ini memang langganan kami. Saya memakan soto tersebut tanpa nasi. Saya hanya memakai bihun dan kuahnya saja. Rasanya sungguh enak dan segar. Istri juga khusus menggoreng perkedel kentang untuk tambahan lauknya. Perpaduan perkedel dan soto ini sangat cocok. Rasanya benar-benar menyatu dan kawin di lidah.

Saya sengaja makan soto tanpa nasi putih dengan niat mengurangi karbohidrat. Tetapi sebagai gantinya, perut saya justru dijejali bihun, perkedel kentang, tahu isi, dan tempe goreng secara bersamaan.

Potong Tali Jam

30 September 2026

Hari ini adalah hari Rabu. Dan, ini adalah hari yang biasa.

Hari ini ada jadwal ujian tengah semester ITS untuk kelas C dan D. Saya meminta tolong kepada dua orang staf. Mereka bertugas untuk mengawasi ujian di masing-masing kelas.

Saat ujian berlangsung, saya pergi ke bank. Saya ingin mengurus kartu ATM yang sudah kedaluwarsa. Tetapi, kartu tersebut tidak bisa langsung dicetak ulang. Sebab, rekening saya sudah berstatus pasif selama enam bulan. Rekening memang otomatis tidak aktif jika sudah lewat enam bulan. Setelah antre dan mengisi formulir, saya akhirnya bertemu bagian Customer Service. Proses pengaktifannya ternyata cukup ribet. Karena, saya diwajibkan untuk setor atau tarik tunai terlebih dahulu. Akhirnya, saya memilih setor tunai sebesar 50 ribu rupiah. Setelah itu, saya harus memindai sidik jari beberapa kali. Barulah rekening tersebut kembali aktif. Dulu ini adalah rekening gaji saya. Tetapi, kampus sudah berpindah bank. Sehingga, rekening ini hanya menjadi simpanan pasif saja. Saya juga tidak pernah membuka aplikasinya di ponsel. Setelah rekening aktif, barulah kartu ATM baru bisa dicetak. Sekalian saja saya meminta cetak buku tabungan. Saya meminta rekapitulasi transaksi untuk tiga bulan terakhir. Mudah-mudahan selanjutnya saya tidak lupa untuk bertransaksi minimal enam bulan sekali.

Dari bank, saya meluncur ke Pasar Pagi. Jam tangan saya terasa kebesaran sebagai efek turunnya berat badan. Sehingga, saya ingin memotong satu ruas talinya. Sekalian saja saya meminta jam ini dibersihkan. Sebab, ini adalah jam mekanik yang tidak memakai baterai. Selain itu, ada sedikit kendala saat pergantian hari. Tulisan nama hari di jam agak terpotong,bsaat oeroindahan hari. Jadi, saya sekalian memperbaiki ini. Biayanya adalah 100 ribu rupiah. Tukang jam ini bisa dibilang sudah langganan. Tidak semua tukang jam bisa atau berani membongkar jam saya ini. Lokasinya ada di Pasar Pagi, tepat di seberang Masjid Raya. Sambil menunggu jam ini selesai, saya menyempatkan diri membeli pentol isi telur puyuh di dekat situ.

Dari Pasar Pagi, saya kembali ke kantor. Saya kembali mengerjakan laporan visitasi. Alhamdulillah, tugas itu akhirnya sudah benar-benar selesai.

Hari ini juga bertepatan dengan hari pemilihan Rektor Unmul. Mudah-mudahan seluruh prosesnya berjalan lancar.

Sesampainya di rumah, saya makan bakso buatan istri. Bakso ini disajikan dengan tambahan bihun. Perpaduan ini terasa sangat cocok. Rasanya persis seperti bakso khas Solo. Sebab, bakso khas Solo memang tidak pernah memakai mi kuning.

Malam ini, istri berencana membeli sate Suramadu. Sate ayam Madura ini berjualan di kawasan Siradj Salman. Lokasinya cukup dekat dari rumah. Rasanya enak. Dan, bumbu satenya juga tidak begitu manis.

Tadi siang saya bangga memotong tali jam tangan karena merasa berat badan sudah turun, tetapi sore dan malamnya langsung saya merapel pentol puyuh, bakso, dan sate ayam berturut-turut.