25 Agustus 2026
Hari ini cuaca terlihat sangat cerah. Langit sama sekali tidak mendung, apalagi berujung hujan.
Hari ini adalah hari libur peringatan Maulid Nabi.
Pagi ini, grup komunikasi asesor sudah mulai ramai. Artinya, saya harus segera bersiap untuk tugas akreditasi. Saya pun mulai menyusun laporan pravisitasi. Sebelum visitasi dilakukan, saya memang wajib membaca dokumen unggahan sekolah. Sehingga, saya bisa menyiapkan catatan terkait informasi yang masih perlu digali di lapangan nanti. Selain itu, saya juga terus berkoordinasi dengan rekan pasangan asesor. Tantangan terbesarnya tentu saja menentukan jadwal yang cocok bagi kami berdua. Mengingat, kami sama-sama memiliki agenda yang padat. Rencananya, visitasi ini baru akan dilaksanakan pada bulan September.
Saya mengerjakan laporan tersebut sambil menikmati seduhan kopi V60. Hari ini saya mencoba biji kopi yang sangat unik. Yaitu, varian Liberika Sepaku. Kopi liberika ini memang tergolong cukup jarang. Apalagi, ini adalah kopi asli dari kawasan Sepaku, Kalimantan Timur. Saya malah baru tahu kalau wilayah di sekitar IKN tersebut bisa menghasilkan kopi.
Dalam perjalanan pulang, saya menyempatkan membeli gorengan tahu isi sayur. Tahu ini khusus saya belikan untuk anak saya. Supaya, dia bisa menukarnya dengan kuota menit bermain ponsel. Syaratnya, satu buah tahu isi sayur bernilai dua puluh menit waktu bermain. Taktik ini terbukti sangat efektif untuk memasukkan asupan sayur ke tubuhnya. Sebab, jika tidak diakali seperti ini, dia sama sekali tidak mau menyentuh sayur.
Sesampainya di rumah, istri ternyata sudah membelikan mi ayam Jakarta dari Jalan Siradj Salman. Ini adalah sajian mi ayam yang sangat legendaris. Sebab, saya sudah menyantapnya sejak SD atau sekitar tiga puluh tahun yang lalu. Artinya, eksistensi warung ini sungguh luar biasa karena mampu bertahan selama itu. Meskipun, dulu lokasinya memang sering berpindah-pindah. Beruntungnya, anak-anak saya juga sangat menyukai mi ayam ini.
Selain itu, istri juga membungkuskan nasi campur dengan lauk dada ayam. Tetapi, nasi campur tersebut rencananya baru akan saya makan agak sore nanti.
Lebih menantang mana, menyinkronkan jadwal dua asesor sibuk atau mengakali anak agar mau memakan sayur?