Sate Soloan

29 September 2026

Hari ini cuaca masih sama seperti kemarin. Samarinda sudah diguyur hujan. Udara juga sudah bersih tanpa asap. Kalau sudah begini, kita tidak boleh lupa bersyukur. Kita harus ingat saat berbulan-bulan tidak ada hujan. Kita juga harus ingat saat bernapas penuh asap. Begitu pula dengan nikmat kesehatan. Kita harus ingat saat sedang sakit. Saat sakit, makan apa saja terasa tidak enak di lidah. Kepala juga sering terasa pusing. Jadi, kita tidak usah menuntut macam-macam kalau sudah sehat walafiat.

Pagi ini adalah pertemuan terakhir di kelas ITS. Hari ini mahasiswa menghadapi ujian tengah semester. Kelas ini diajar secara bertim. Dan, tugas saya memang hanya sampai ujian tengah semester. Saya sudah mulai mengoreksi beberapa hasil ujian. Sayangnya, hasilnya cukup mengecewakan. Mudah-mudahan sisa lembar jawaban yang lain hasilnya jauh lebih baik.

Di kantor, ada beberapa surat disposisi. Berkas ini langsung saya teruskan kepada Kabag Umum. Lalu, ada juga beberapa pekerjaan yang perlu dikoordinasikan. Tetapi, urusan ini cukup saya selesaikan melalui WhatsApp.

Siang harinya, saya makan siang di warteg Jalan Perjuangan dekat Unmul. Saya memesan nasi campur dengan lauk ayam kecap, telur kecap, tahu goreng, dan ote-ote. Harganya hanya 21 ribu rupiah. Alhamdulillah, rasanya sangat enak.

Setelah itu, saya kembali menyicil laporan visitasi. Saat ini saya tinggal menunggu laporan individu dari rekan saya. Setelah laporannya dikirim, barulah saya bisa mulai menyusun laporan kelompoknya.

Tadi siang, istri membagikan sebuah video TikTok. Isinya tentang warung sate kambing bernuansa Solo di Samarinda. Solo memang surganya sate kambing. Banyak yang berjualan dan rasanya enak semua. Sate kambing yang paling tidak enak di Solo pun masih bisa saya makan dengan lahap.

Pulang kantor, saya dan istri langsung pergi berdua ke warung tersebut. Lokasinya ada di dekat Rumah Sakit SMC. Kami memesan sate kambing, tengkleng kambing, dan gulai. Tengkleng di sini agak berbeda. Kalau di Solo, tengkleng biasa itu berkuah bening tanpa santan. Tetapi, tengkleng di sini dimasak lagi dengan kecap. Kalau di Solo, hidangan ini sebutannya "tengkleng masak". Rasanya enak-enak saja. Lumayanlah, meski belum seratus persen seperti di Solo. Tetapi, untuk sementara ini rasanya yang paling mirip. Tadi di daftar menu ada sate buntel. Ini adalah sate kesukaan anak saya. Sayangnya, menu ini sedang tidak siap. Sate buntel ternyata hanya ada setiap hari Minggu dan Senin. Kapan-kapan saya akan ke sini lagi untuk mencobanya.

Di awal paragraf, saya menasihati diri sendiri agar selalu bersyukur dan menjaga nikmat sehat, termasuk makan enak.

Sop Patin Istri

28 September 2026

Alhamdulillah, hari ini turun hujan deras. Kita sudah menunggu berbulan-bulan untuk momen ini. Bagi orang lain, hujan mungkin hal yang biasa. Tetapi, bagi warga Samarinda, ini adalah hal yang luar biasa. Sebab, kita sudah lama melihat debit air Sungai Mahakam surut parah.

Pagi ini saya berangkat ke kantor seperti biasa. Lalu, saya mengikuti rapat pagi terbatas. Rapat ini hanya dihadiri oleh para Wakil Dekan.

Selesai rapat, saya kembali menyicil laporan visitasi. Isinya memang masih kurang beberapa hal. Tetapi, laporan keuangan perjalanan sudah beres. Berkasnya sudah saya titipkan. Saya selalu menitipkannya kepada teman dosen. Karena, rumahnya berada di kawasan Samarinda Seberang.

Di usia sekarang, rasa lelah akibat perjalanan jauh memang sangat awet. Capeknya masih terasa selama beberapa hari. Sehingga, saya memutuskan pulang dari kantor agak cepat hari ini.

Sesampainya di rumah, saya langsung makan. Lauknya adalah sop ikan patin buatan istri. Rasanya sungguh segar dan lezat. Ikan patin ini adalah favorit saya dan anak-anak. Tetapi, istri saya justru kurang menyukainya. Beberapa teman dosen perantau dari Jawa juga biasanya kurang suka ikan patin.

Setelah makan, saya sempat tidur sebentar. Lalu, saya bangun pada sore hari. Kemudian, saya langsung mandi.

Malam ini, saya berencana makan sop ikan patin lagi. Istri saya memang luar biasa. Dia rela repot memasak hidangan yang sama sekali tidak dia sukai. Sehingga, sebagai suami yang penuh pengertian, saya merasa wajib menolongnya dengan cara menghabiskan seluruh masakannya.

Nilai Pas

27 September 2026

Hari ini adalah hari Minggu. Hari ini adalah hari libur. Saya masih dalam masa pemulihan badan. Sebab, saya baru saja pulang dari agenda visitasi di Muara Kaman dan Tenggarong.

Pagi ini saya menyeduh kopi dingin buatan sendiri. Kopi ini rasanya semacam *cold brew*. Untuk sarapan, saya makan tempe goreng dan hati goreng. Lauk ini disajikan bersama timun dan sambal. Alhamdulillah, perut saya menjadi sangat kenyang. Siang harinya, saya tidur untuk beristirahat.

Setelah bangun tidur, saya langsung makan siang. Masih ada sisa hati goreng dari sarapan tadi. Tetapi, kali ini ditambah sop bakso ikan dan camilan pempek Bontang. Alhamdulillah, semua makanannya enak.

Hari ini saya juga fokus menemani anak belajar. Besok Senin dia ada jadwal ulangan mata pelajaran PJOK dan Al-Islam. Cara belajarnya adalah membaca materi dan membaca latihan soal. Kalau sudah selesai, istri saya akan memberikan pertanyaan tentang isi materinya. Mudah-mudahan anak saya bisa menjawab semuanya. Dan, semoga dia mendapat nilai yang sesuai, pas, dan cocok.

Di kelas, saya juga sering mengingatkan mahasiswa tentang konsep nilai ini. Kebanyakan mahasiswa selalu mengejar dan meminta nilai A. Padahal, nilai A itu belum tentu baik buat mahasiswa. Mintalah nilai yang sesuai, pas, dan cocok. Yaitu nilai yang bisa memacu kita untuk menjadi lebih baik lagi.

Malam ini, saya berencana makan bakso. Saya ingin meracik kuahnya menjadi pedas, manis, dan asam. 

Mahasiswa saya nasihati supaya mencari nilai yang pas, termasuk meracik kuah bakso.