Showing posts with label Dosen's Note. Show all posts
Showing posts with label Dosen's Note. Show all posts

Susu Debu

6 September 2026

Alhamdulillah, aliran air PDAM sudah kembali menyala pagi ini. Saya pun sempat memenuhkan tandon air di rumah. 

Hari Minggu ini adalah hari libur. Pagi ini saya sarapan dengan menu mihun. Mihun langganan ini dijual di perempatan KS Tubun menuju arah Pasundan. Teksturnya terasa sangat lembut. Istri saya juga membeli gorengan tahu isi sayur dan ote-ote. Gorengan tersebut dibeli di tempat penjual mihun yang sama. Selain itu, istri juga membelikan saya nasi kuning dengan lauk ikan haruan. Rasanya sungguh sangat enak. Sebagai orang kelahiran Samarinda, nasi kuning adalah menu sarapan yang paling cocok.

Sekitar pukul setengah sebelas, saya memulai perjalanan darat. Tujuannya adalah daerah Long Mesangat di Kutai Timur. Sebelum berangkat, saya sengaja meminum segelas susu. Kebiasaan ini merupakan salah satu trik perjalanan saya. Tujuannya agar saya bisa tertidur pulas di jalan. Tidur memang hal yang paling enak dilakukan saat menempuh perjalanan panjang. Oleh karena itu, meminum kopi adalah pilihan yang kurang pas untuk situasi ini.

Sekitar pukul dua belas siang, kami mampir di sebuah warung makan. Lokasinya berada di sekitaran Sebulu sebelum memasuki jalan HTI. Saya memesan menu nasi sop ayam dan segelas es jeruk. Setelah itu, kami mulai memasuki jalur jalan HTI. Jalanan tersebut terasa sangat penuh debu. Truk-truk pengangkut kayu juga tampak terus berseliweran. Kami pun sempat berhenti sejenak di sebuah pos pinggir jalan. Tujuannya adalah untuk menumpang buang air kecil.

Akhirnya, kami tiba di Muara Bengkal sekitar pukul setengah empat sore. Saya menginap di penginapan terdekat dari kawasan Long Mesangat. Sesampainya di penginapan, saya langsung mandi. Selesai mandi, saya berjalan mencari warung terdekat. Saya ingin mencari minuman es segar tetapi tidak menemukannya. Untungnya, saya mendapatkan sebotol Pocari Sweat dingin. Alhamdulillah rasanya sangat menyegarkan.

Malam harinya, saya makan sate ayam di sebelah penginapan. Rasanya seperti sate pada umumnya dan cukup enak. Sebelum tidur, saya menyempatkan diri untuk membaca dokumen. Saya mempelajari fail rangkuman dari berkas yang telah diunggah oleh pihak sekolah.

Menemukan minuman es segar di Muara Bengkal rupanya jauh lebih menantang daripada menemukan posisi tidur yang nyaman di sepanjang jalan berdebu.

Hujan Timbil

4 September 2026

Alhamdulillah, kabarnya kawasan Loa Janan di Samarinda sudah diguyur hujan. Semoga saja kabut asap segera berkurang. Selain itu, air Sungai Mahakam juga bisa kembali terisi. Kadang saya berpikir, jangan-jangan Samarinda ini terkena kutukan akibat masifnya penebangan pohon. Kota ini punya Sungai Mahakam yang sangat besar. Namun, kalau tidak turun hujan, kita malah kekeringan. Lalu, begitu musim kemarau panjang, kebakaran hutan merajalela. Padahal, katanya kota ini masih dikelilingi banyak hutan. Tetapi, hujan sedikit saja bisa langsung memicu banjir. Kondisi ini memang terasa aneh dan sangat membingungkan.

Kegiatan pagi ini lumayan padat. Padahal, hari Jumat ini jadwalnya WFA atau bekerja dari mana saja. Pagi ini saya harus mengajar kelas pengganti. Sebab, kemarin jadwalnya sempat libur dan minggu depan saya berencana pergi ke Kutai Timur. Tentu saja, kelas pengganti ini sebenarnya tidak nyaman. Saya harus repot mencari waktu kosong lagi untuk mengajar. Mahasiswa pun juga merasakan hal yang sama. Mereka harus meluangkan waktu yang seharusnya bisa dipakai untuk kegiatan lain. Namun, saya tetap mengadakan kelas ini. Karena, materi untuk ujian tengah semester harus tuntas tersampaikan. Sebetulnya, mahasiswa ini pasti sangat senang jika kelas dibiarkan kosong. Bahkan, rasanya mereka mau-mau saja kalau sekadar mengisi presensi tanpa ada perkuliahan.

Saat sedang mengajar, saya tiba-tiba dipanggil untuk rapat. Tetapi, saya menyelesaikan kelas terlebih dahulu. Setelah itu, saya baru bergabung dalam rapat pimpinan terbatas. Kami membahas beberapa agenda rencana kegiatan fakultas terdekat. Salah satunya adalah keikutsertaan mahasiswa tari FIB Unmul untuk ajang Peksiminas. Waktu pelaksanaannya tinggal menghitung hari. Selain itu, hari ini juga ada informasi penting yang ditunggu-tunggu. Pemilihan Rektor atau Pilrek Unmul akhirnya akan segera dilaksanakan setelah mengalami beberapa kali penundaan.

Siang harinya, saya melaksanakan salat Jumat di masjid kampus. Khatib hari ini menyinggung masalah pelayanan masyarakat. Beliau berpesan agar kita tidak mempersulit urusan orang lain. Isi ceramah ini terasa sangat cocok dan pas sasaran. Sebab, jemaahnya banyak yang berprofesi sebagai dosen dan tenaga kependidikan Unmul. Sebelum jadwal mengajar tadi, saya juga sempat membimbing dua orang mahasiswa. 

Saat ini, penggunaan AI memang menjadi tantangan baru. Padahal, artificial intelligence ini harus bisa dimanfaatkan oleh original intelligence alias otak manusia. Jangan sampai kita malah yang dimanfaatkan oleh AI. 

Setelah semua urusan kampus selesai, saya mulai menyiapkan berbagai keperluan untuk tugas ke Kutim.

Sore harinya, saya tiba di rumah saat waktu hampir Magrib. Istri saya ternyata sudah membelikan dan menyiapkan makanan. Menunya adalah nasi bebek dengan bumbu hitam yang terasa sangat enak.

Sudah tiga hari ini mata saya timbilan. Oleh karena itu, malam ini saya mau mencari salep mata di apotek. Dulu ada kenalan pegawai apotek yang pernah merekomendasikan satu obat andalan. Namanya adalah salep mata Erlamycetin.

Samarinda yang dikelilingi air tetapi bisa kekeringan ini memang seaneh otak manusia yang perlahan rela dikendalikan oleh kecerdasan buatan.

Kemarau Capcai

3 September 2026

Hari ini status darurat hujan masih terus berlanjut. Kota Samarinda terasa sangat kering. 

Pagi ini rutinitas saya terasa cukup berbeda. Saya terjadwal melakukan presentasi di sebuah konferensi internasional. Nama acaranya adalah ICCL. Penyelenggaranya adalah kampus UIN Surakarta. Saya mempresentasikan artikel tentang penerjemahan defamiliarisasi. Gagasan ini diangkat sebagai usaha mempromosikan keberagaman budaya. Seperti biasa, sesi saya diwarnai dengan tanya jawab. Selain itu, ada juga sesi tanggapan dari pembahas.

Siang harinya, tugas presentasi saya akhirnya selesai. Saya pun langsung bergegas lanjut mengajar. Hari ini saya mengadakan kelas pengganti. Sebab, minggu depan kelas tersebut akan saya kosongkan. Materi hari ini membahas tentang efektivitas dalam penerjemahan. Lalu, saya menyambungnya dengan materi lanjutan. Isinya mengupas permasalahan yang berpotensi mengganggu proses penerjemahan.

Setelah semua selesai, badan terasa lumayan capek. Namun sebelum pulang, saya menemui mahasiswa bimbingan skripsi. Sebelumnya, kami sempat melakukan bimbingan secara daring. Ternyata hasilnya terasa kurang maksimal. Jadi, saya memutuskan untuk menyetop bimbingan online tersebut.

Sesampainya di rumah, saya langsung makan. Menunya adalah oseng-oseng kacang panjang, tahu, dan tempe. Sebagai pelengkap, ada tambahan lauk hati goreng. Alhamdulillah, perut saya terasa sangat kenyang. Malam harinya, saya kembali makan dengan menu capcai goreng. Rasanya sungguh sangat enak.

Malam itu juga, saya harus membeli dua galon air minum. Sebab, tukang galon langganan kami sedang kehabisan stok. Akhirnya, saya membeli galon tersebut di Indomaret.

Lebih menguras pikiran mana, menanggapi pertanyaan dari pembahas konferensi internasional atau membimbing mahasiswa skripsi yang lama?

Klorida Makna

2 September 2026

Hari ini Samarinda masih juga belum diguyur hujan. Akibatnya, kadar klorida di sungai kembali naik dan membuat kualitas air menjadi kurang maksimal. Kondisi ini sampai memaksa pihak PDAM untuk mematikan mesin operasional mereka. Saya hanya bisa berharap semoga hujan lekas turun di kota ini. 

Setibanya di kampus, saya langsung memulai hari dengan rutinitas administratif seperti biasa, yakni menyelesaikan beberapa lembar disposisi dari Dekan.

Setelah urusan tersebut beres, saya bersiap untuk jadwal mengajar. Hari ini saya mengampu mata kuliah ITS yang kini sudah memasuki minggu keempat. Materi yang saya sampaikan berfokus pada tipe-tipe penerjemahan yang disesuaikan dengan tujuan dan jenis teksnya. Setelah itu, perkuliahan berlanjut pada materi mengenai meaning in translation. Kami mengobrol panjang lebar tentang bagaimana sebuah teks memiliki lapisan-lapisan makna. Tentu saja, sebuah proses penerjemahan tidak boleh berhenti hanya sampai pada makna di permukaan saja, melainkan harus menukik lebih dalam.

Selesai mengajar, saya langsung kembali ke ruangan untuk menyelesaikan laporan pravisitasi. Rencananya, dalam waktu dekat saya akan bertugas untuk akreditasi sekolah ke kawasan Kutai Timur. 

Siang harinya, saya memutuskan untuk makan nasi Padang di dekat kampus. Ini memang warung nasi Padang favorit saya di sekitar sini. Saya memesan lauk ikan bandeng goreng dan telur dadar. Rasanya sungguh enak. Menariknya lagi, dengan dua macam lauk tersebut saya hanya perlu membayar sembilan belas ribu rupiah.

Beranjak siang, saya menyempatkan diri untuk mengikuti pembukaan international conference melalui Zoom. Sayangnya, jaringan internet saat itu sedang kurang maksimal. Insyaallah, besok adalah giliran saya untuk melakukan presentasi di acara tersebut. Oleh karena itu, saya menghabiskan waktu sore untuk menyiapkan file PPT presentasinya. 

Saat pulang ke rumah, ternyata istri sudah membungkuskan nasi campur yang dibelinya di dekat rumah. Lauk utamanya berupa ayam goreng tepung, lalu ditambahkan lagi dengan sepotong telur dadar buatan istri.

Lebih menantang mana, menggali lapisan makna terdalam sebuah teks atau menyiapkan materi presentasi di tengah koneksi internet yang kurang maksimal?

Kabut Klorida

1 September 2026

Kemarin status darurat kemarau resmi diumumkan. Bapak Walikota mengabarkan bahwa air laut mulai masuk ke sungai. Jika kadar klorida terlalu tinggi, maka mesin air PDAM harus segera dimatikan. 

Selain itu, pagi ini cuaca juga terasa sangat berkabut. Asap kebakaran hutan ternyata sudah sampai ke kawasan Samarinda. Akibatnya, anak-anak sekolah diminta untuk kembali memakai masker. Situasi ini seketika membuat saya teringat pada zaman pandemi Covid.

Setibanya di kampus, saya mengerjakan tugas administratif seperti biasa. Saya menyelesaikan beberapa disposisi dari Dekan. 

Setelah itu, saya mengajar mata kuliah ITS yang kini memasuki pertemuan ketiga. Materi hari ini mengupas tentang hal-hal mendasar dalam dunia penerjemahan. 

Selesai mengajar, saya sempat mengobrol santai bersama pimpinan. Kami membahas banyak hal, termasuk persiapan acara Peksiminas. 

Setelah itu, saya juga berdiskusi dengan Dekan saja terkait urusan tugas belajar. Saya telah menyusun jadwal tugas belajar dosen FIB secara bergiliran hingga tahun 2030. Urutan tersebut sudah tersusun rapi dan disepakati. Sehingga, tidak bisa jika ada dosen yang tiba-tiba ingin berangkat duluan.

Siang harinya, saya makan ayam bakar Mas Mentri. Rasanya lumayan enak. Meskipun, porsi nasi dan saus kacangnya tergolong sedikit. Sambil bersantai, saya asyik mengemil kacang kulit. Saya juga menyempatkan diri mendengarkan Podcast Seminggu. Hari ini saya memang sedang suka mendengarkan lagu-lagu di album lama The Killers melalui Spotify. Menjelang sore, ada pertunjukan untuk mahasiswa baru prodi Tari FIB. Acaranya berlangsung dengan sangat seru dan ramai.

Sore harinya, saya bergegas pulang. Saya mampir menjemput anak yang pulang sore karena ada kegiatan ekskul. Sebelum tiba di rumah, saya mampir sebentar ke rumah eyang. Tujuannya adalah untuk mengambil kartu ATM. Sebab, setiap tanggal satu saya selalu bertugas mengambil uang pensiun eyang dan ibu. Sesampainya di rumah, saya langsung menyantap bakso yang sudah disiapkan oleh istri. Lalu, saat waktu Magrib tiba, saya pergi ke ATM untuk mengambil uang sekaligus mentransfernya.

Lebih menyesakkan mana, menghirup tebalnya asap kebakaran hutan atau melihat sedikitnya bumbu kacang ayam Mas Mentri?

Tensi 154

31 Agustus 2026

Hari ini Samarinda masih terus berharap turunnya hujan. Bahkan, air laut perlahan mulai masuk ke Sungai Mahakam. 

Saya berangkat ke kantor seperti biasa. Kemarin saya baru saja memotong rambut karena sudah terasa agak gondrong.

Setibanya di kampus, saya menyelesaikan beberapa berkas paraf dan disposisi dari Dekan. Kemudian, urusan tersebut langsung saya teruskan kepada Kabag Umum. Setelah itu, saya menghadiri rapat keuangan. Rapat ini khusus membicarakan skema pembiayaan untuk acara Peksiminas. Insya Allah, tim tari dari FIB Unmul akan ikut tampil dalam ajang tersebut.

Sayangnya, hari ini tekanan darah saya mendadak naik menyentuh angka 154. Sehingga, badan saya terasa agak kurang enak. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk beristirahat dan pulang lebih cepat. Saat perjalanan pulang, saya menyempatkan mampir membeli gorengan di dekat flyover Juanda.

Sesampainya di rumah, saya langsung disambut dengan lauk favorit. Menunya masih berupa sajian limpa goreng yang super enak. Selain itu, hari ini juga ada tambahan menu berupa otak goreng.

Lebih mendebarkan mana, memantau naiknya air laut ke Mahakam atau melihat naiknya angka tensi darah ke 154?

Libur Makan Limpa

30 Agustus 2026

Hari ini hujan belum juga turun. Suasananya persis seperti kemarin dan hari-hari sebelumnya. 

Karena kebetulan ini adalah hari libur, saya hanya bersantai di rumah sambil bermain ponsel.

Pagi harinya, saya sarapan dengan lauk limpa goreng. Menurut saya, jeroan sapi yang paling enak adalah limpa. Bahkan saat menyantap Coto Makassar, saya pasti hanya memesan isian limpa atau campuran limpa dan daging. Begitu pula saat hari raya kurban, saya selalu berusaha meminta bagian limpa. Hari ini istri sengaja membeli menu spesial tersebut di Pasar Ijabah. Sebab, stok limpa ini tidak selalu ada dan terkadang harus dipesan terlebih dahulu. Menu sarapan ini semakin lengkap dengan tambahan telur dadar dan sambal bawang. Selain itu, ada juga hidangan sayur pepaya muda bumbu santan kuning. Lalu, istri turut membelikan buah jambu air dan jeruk untuk dibuat minuman.

Siang harinya, saya memutuskan untuk tidur seharian. Menjelang sore, saya beranjak jalan-jalan ke tepian di Teras Samarinda. Saya sempat membeli pentol rebus seharga dua puluh ribu rupiah. Sayangnya, rasa pentol tersebut ternyata kurang memuaskan. Oleh karena itu, saya akhirnya kembali membeli Pizza Candu dan dimsum Sumbuddy.

Setelah waktu Magrib tiba, saya langsung bersiap untuk makan malam. Lauk utamanya tentu saja kembali menyantap limpa goreng. Sayurnya juga masih sama persis seperti hidangan sarapan pagi. Namun, malam ini ada tambahan menu berupa empal goreng.

Lebih mengecewakan mana, kemarau panjang tanpa hujan atau menyantap pentol mahal yang kurang enak?

Gemoy Ngantuk

29 Agustus 2026

Hari ini rasanya sungguh sangat mengantuk. Bahkan, rasanya sengantuk saat jarum jam menunjuk pukul sebelas malam. 

Hari ini saya menghabiskan waktu seharian di rumah. Tidak banyak aktivitas yang saya lakukan.

Pagi harinya, saya menyeduh kopi buatan sendiri. Kemudian, sekitar pukul sepuluh pagi saya sarapan. Menunya adalah sayur bening bayam dan ikan layang. Lalu, ada tambahan lauk telur puyuh serta kulit ayam goreng. Rasanya sungguh enak dan kuah beningnya segar. Selain itu, istri juga merebus kacang tanah untuk camilan. Kacang tersebut dipresto sehingga teksturnya menjadi sangat lembut. Setelah kenyang, saya langsung tertidur seharian hingga sore hari.

Sore harinya, saya berkunjung ke rumah eyang. Di sana ada keponakan saya yang berkuliah di ITS Surabaya. Namanya adalah Naufal Tsaqif dan anaknya gemoy. Saat ini dia sedang menjalani kuliah praktik di Balikpapan. Namun, besok dia harus segera kembali ke Surabaya. Sebab, hari Senin besok dia sudah mulai masuk kuliah.

Dari rumah eyang, saya meluncur ke Teras Samarinda. Tujuannya adalah membeli dimsum Sumbuddy. Sayangnya, varian yang tersisa hanya saus mentai. Padahal, saya jauh lebih menyukai varian saus putih atau brulee. Setelah itu, saya melihat ada penjual pizza bernama Candu. Saya pun iseng mencoba membelinya. Ternyata, rasanya juga sangat enak.

Saat Magrib tiba, saya bergegas pulang ke rumah. Sebab, rencananya malam ini saya masih ingin menyantap sisa sayur bening tadi pagi.

Lebih menggemaskan mana, pipi keponakan yang gemoy atau lembutnya kacang rebus presto buatan istri?

Tahu Kangkung

28 Agustus 2026

Hari ini cuaca sungguh sangat kering. Bahkan, rasanya sekering sungai yang mulai kemasukan air laut.

Agenda hari ini adalah mengikuti kegiatan penguatan program studi. Adapun materi utamanya adalah mendudukkan posisi prodi di dalam rumah besar kementerian. Sementara itu, kudapan paginya berupa kue bolu dan keripik pisang. Selain itu, ada juga camilan asin isi sayuran yang saya lupa namanya. Tentu saja sajian kopi dan teh juga turut tersedia.

Lalu, menu makan siang hari ini terasa sangat enak. Panitia menyajikan mi goreng dengan ukuran mi yang besar-besar. Kemudian, ada ikan bakar berkuah dan ayam masak manis. Selain itu, ada sayur oseng labu siam yang sulit dibedakan dengan pepaya muda. Lalu, hidangan tersebut dilengkapi dengan sajian tongseng sapi yang lezat. Sore harinya, panitia menghidangkan tahu isi sayur. Tentu saja ini adalah gorengan favorit saya. Sehingga, saya sanggup menghabiskan hingga empat buah.

Menjelang sore, saya bergegas pulang. Selesai mandi, saya pergi ke rumah eyang untuk mengisikan token listrik. Saat mampir sebentar, saya malah dibawakan cokelat untuk anak-anak. Selain itu ibuk saya juga membawakan keripik singkong.

Menjelang magribnya, saya makan oseng kangkung buatan istri. Lalu, ada tambahan lauk telur puyuh masak cokelat. Bentuk dan rasanya persis seperti sate sundukan di HIK atau angkringan khas Solo. Sungguh rasanya sangat enak. Sebab, sejauh ini belum ada angkringan di Samarinda yang bisa membuat telur puyuh seenak di Solo.

Lebih sulit mana, membedakan oseng labu siam dengan pepaya muda atau mencari sate telur puyuh asli di Samarinda?

Scopus Bingka

27 Agustus 2026

Hari ini cuaca terasa cukup dingin. Dinginnya persis seperti AC bersuhu enam belas derajat di dalam kamar yang sempit. 

Agenda saya hari ini adalah mengikuti lokakarya strategi menulis artikel ilmiah. Pematerinya adalah pakar yang sangat andal. Beliau adalah Profesor Eri Kurniawan dari UPI.

Sementara itu, konsumsi lokakarya hari ini terbilang standar. Hidangannya bukan sesuatu yang terlalu istimewa. Untuk coffee break pagi, tersedia keripik singkong dan lemper isi ayam. Selain itu, ada juga bingka yang rasanya biasa saja serta sajian kopi. Lalu, menu makan siang disajikan agak komplet. Panitia menghidangkan tomyam, ikan filet, ayam, dan daging. Kemudian, ada juga tambahan sayur brokoli dan mihun goreng. Sedangkan untuk camilan sore, tersedia kacang goreng beserta brownies.

Di sisi lain, materi lokakarya hari ini sungguh berbobot. Prof. Eri sangat menekankan pentingnya mencari knowledge gap. Sebab, tujuh puluh persen artikel gugur akibat sekadar mengganti lokasi penelitian. Oleh karena itu, konteks lokal Indonesia harus dijadikan kekuatan untuk membangun teori baru. Selanjutnya, beliau memaparkan strategi pemetaan jurnal target. Penulis harus mencari jurnal yang memang membutuhkan topik tersebut. Sehingga, kita tidak boleh sekadar asal submit naskah.

Lalu, sesi lokakarya berlanjut ke klinik judul dan abstrak. Judul yang baik maksimal terdiri dari lima belas kata. Sedangkan, abstrak wajib memuat lima rumusan kalimat utama. Kemudian, materi beralih ke penulisan tinjauan pustaka dan metode. Tinjauan pustaka harus berupa sintesis argumen yang solid. Selain itu, bagian diskusi juga wajib menjawab pertanyaan krusial so what?

Sebagai tindak lanjut, seluruh peserta menyusun rencana kerja tiga puluh hari. Tujuannya adalah memastikan draf benar-benar siap dikirim.

Setelah acara selesai, saya bergegas pulang. Saat acara berlangsung, istri mengirim pesan WhatsApp. Ternyata dia membelikan camilan udang dari restoran Mie Gacoan. Sebab, menu mi di tempat tersebut memang kurang cocok di lidah kami.

Lebih sulit mana, menembus publikasi jurnal Scopus Q1 atau mencari bingka dengan rasa yang istimewa?

Kemarau dan Patin

26 Agustus 2026

Hari ini hujan belum juga turun. Setelah musibah kebakaran, layanan PDAM bisa jadi yang bermasalah.

Pagi ini saya mengajar mata kuliah ITS. Perkuliahan ini sudah memasuki minggu ketiga. Pertemuan sebelumnya sudah diisi dengan praktik menerjemahkan. Hari ini saya mengevaluasi hasil tugas tersebut. Selain itu, saya juga membahas berbagai istilah teknis dalam studi penerjemahan. Kemudian, kami mengupas definisi beserta proses dalam penerjemahan. Lalu, saya juga memaparkan kompetensi yang wajib dimiliki oleh seorang penerjemah.

Selesai mengajar, ada disposisi Dekan terkait peminjaman tempat. Urusan itu langsung saya teruskan kepada Kabag Umum. Setelahnya, saya mengadakan rapat singkat bersama WD 1 dan WD 3. Rapat ini khusus membahas koordinasi kegiatan untuk dua hari ke depan.

Siang harinya, saya memutuskan untuk pulang lebih cepat. Sebenarnya badan saya tidak sedang sakit. Namun, rasanya agak greges sehingga saya butuh istirahat. Sesampainya di rumah, istri ternyata sudah menyiapkan ikan patin bakar. Selain itu, ada juga tambahan gorengan dan pindang patin.

Bagi masyarakat Samarinda, ikan patin ini tentu sangat familiar. Tetapi, bagi istri saya yang pendatang dari Solo, ikan ini terasa sangat amis. Sehingga, dia kurang doyan menyantapnya. Padahal, saya sangat menyukai olahan patin, baik itu dibakar maupun dipindang.

Setelah makan, saya langsung tidur untuk beristirahat. Kemudian, saya baru terbangun pada pukul setengah enam sore. Alhamdulillah, sekarang badan saya sudah terasa enak kembali.

Lebih menguji kesabaran mana, menanti hujan atau menyatukan selera makan ikan patin di rumah?

Tahu Taktik

25 Agustus 2026

Hari ini cuaca terlihat sangat cerah. Langit sama sekali tidak mendung, apalagi berujung hujan.

Hari ini adalah hari libur peringatan Maulid Nabi.

Pagi ini, grup komunikasi asesor sudah mulai ramai. Artinya, saya harus segera bersiap untuk tugas akreditasi. Saya pun mulai menyusun laporan pravisitasi. Sebelum visitasi dilakukan, saya memang wajib membaca dokumen unggahan sekolah. Sehingga, saya bisa menyiapkan catatan terkait informasi yang masih perlu digali di lapangan nanti. Selain itu, saya juga terus berkoordinasi dengan rekan pasangan asesor. Tantangan terbesarnya tentu saja menentukan jadwal yang cocok bagi kami berdua. Mengingat, kami sama-sama memiliki agenda yang padat. Rencananya, visitasi ini baru akan dilaksanakan pada bulan September.

Saya mengerjakan laporan tersebut sambil menikmati seduhan kopi V60. Hari ini saya mencoba biji kopi yang sangat unik. Yaitu, varian Liberika Sepaku. Kopi liberika ini memang tergolong cukup jarang. Apalagi, ini adalah kopi asli dari kawasan Sepaku, Kalimantan Timur. Saya malah baru tahu kalau wilayah di sekitar IKN tersebut bisa menghasilkan kopi.

Dalam perjalanan pulang, saya menyempatkan membeli gorengan tahu isi sayur. Tahu ini khusus saya belikan untuk anak saya. Supaya, dia bisa menukarnya dengan kuota menit bermain ponsel. Syaratnya, satu buah tahu isi sayur bernilai dua puluh menit waktu bermain. Taktik ini terbukti sangat efektif untuk memasukkan asupan sayur ke tubuhnya. Sebab, jika tidak diakali seperti ini, dia sama sekali tidak mau menyentuh sayur.

Sesampainya di rumah, istri ternyata sudah membelikan mi ayam Jakarta dari Jalan Siradj Salman. Ini adalah sajian mi ayam yang sangat legendaris. Sebab, saya sudah menyantapnya sejak SD atau sekitar tiga puluh tahun yang lalu. Artinya, eksistensi warung ini sungguh luar biasa karena mampu bertahan selama itu. Meskipun, dulu lokasinya memang sering berpindah-pindah. Beruntungnya, anak-anak saya juga sangat menyukai mi ayam ini.

Selain itu, istri juga membungkuskan nasi campur dengan lauk dada ayam. Tetapi, nasi campur tersebut rencananya baru akan saya makan agak sore nanti.

Lebih menantang mana, menyinkronkan jadwal dua asesor sibuk atau mengakali anak agar mau memakan sayur?

Martabak Belitung

24 Agustus 2026

Hari ini langit mulai mendung. Namun, saya belum juga melihat turunnya hujan. 

Pagi ini, saya menyelesaikan beberapa disposisi dari Dekan. Isinya terkait peminjaman ruang dan permohonan dana kegiatan mahasiswa. Selain itu, saya juga memaraf usulan kenaikan pangkat dosen. Lalu, ada pula berkas paraf untuk dosen yang baru naik jabatan fungsional. Pagi harinya, saya mendapat informasi penting. Katanya, setengah tiga sore nanti akan diadakan rapat pimpinan.

Siang harinya, saya makan mi ayam bakso dengan tambahan tetelan. Rasanya lumayan enak. Meskipun, bumbu ayamnya terasa agak kemanisan.

Sore harinya, saya menghadiri rapat pimpinan yang cukup ramai. Ada banyak sekali agenda yang didiskusikan. Di antaranya adalah persiapan pelatihan penulisan jurnal tanggal 27 dan 28 ini. Kemudian, kami membahas rencana pembentukan task force persiapan operasional S2 Linguistik sekaligus SK-nya. Lalu, kami juga menetapkan pembicara acara serta berkoordinasi dengan Dirjen Promosi Budaya. Selain itu, ada evaluasi terkait Peksiminas serta rotasi koordinator prodi Tari, Etno, dan P2MF. Keluhan operasional juga tidak luput dibahas. Mulai dari urusan perjanjian ruang mahasiswa, perbaikan AC, bantuan biaya konferensi internasional, hingga perbaikan voltase listrik di ruang kelas.

Selesai rapat, saya bergegas menjemput anak kedua. Biasanya istri yang jemput. Rupanya, hari ini ada demonstrasi sopir di Samarinda. Oleh karena itu, istri saya sempat terjebak macet panjang saat menjemput anak pertama. 

Sesampainya di rumah, istri sudah membelikan nasi ayam Banjar. Rasanya sangat lezat karena memakai bumbu habang. Istri juga membawa oleh-oleh gorengan tahu pedas dan tahu bakso.

Lalu, istri ternyata lanjut membeli martabak dan terang bulan Bangka di Juanda. Menurut saya, terang bulan Juanda ini memang belum ada tandingannya. Martabaknya juga sangat lezat. Dulu saya pernah ke Bangka Belitung dan mencoba martabak asli di sana. Rasanya ternyata sama persis dengan yang ada di Samarinda ini. Jadi, bisa dipastikan bahwa martabak Bangka di Juanda ini sangat autentik. 

Rencananya, kami akan makan malam bakso.

Lebih panjang mana, deretan agenda rapat pimpinan hari ini atau antrean macet demonstrasi di Samarinda?

Uang Ular

23 Agustus 2026

Hari ini hujan masih belum juga turun. 

Tadi pagi, saya mengawali hari dengan sarapan mi goreng buatan istri. Lalu, saya menambahkan dua telur ceplok. Sebelum sarapan, saya bersama dua anak pergi ke rumah eyang. Awalnya, saya hanya diminta untuk mengambil uang. Namun, ternyata uang tersebut justru diberikan untuk saya. Jadi, saya merasa bingung sekaligus sangat senang.

Kemudian, saya bersantai menonton The International Dota 2. Saat ini, Yatoro dan Team Spirit berhasil menembus babak final. Mereka bertanding melawan Team Vision. Tadi saat saya tonton, skor sementara tercatat 2-1 untuk keunggulan Team Spirit.

Siang harinya, kami makan ayam goreng tepung Mimi Chicken. Rasanya sangat enak karena ayamnya masih hangat. Saya memilih makan sayap dan menambah kulit ayam. Sedangkan, anak pertama saya lebih suka bagian paha atas. Lalu, anak kedua menghabiskan dua potong dada. Sementara itu, istri saya hanya memakan bagian kulit saja.

Setelah itu, saya dan anak kedua pergi membeli dua buah kelapa muda. Salah satu kelapa tersebut khusus kami berikan untuk istri. Selain itu, anak saya juga minta dibelikan tahu isi sayur. Ternyata, itu adalah siasat supaya dia mendapat kuota tambahan menit untuk bermain ponsel.

Malam harinya, kami makan Sate Ayam Ilham di dekat Polsek Juanda. Saya berhasil menghabiskan tiga belas tusuk sate. Lalu, anak pertama memakan dua belas tusuk. Anak kedua malah menghabiskan hingga lima belas tusuk. Namun, istri saya memilih memakan sisa mi goreng tadi pagi. Sebab, tadi pagi dia memang memasak porsi yang agak banyak.

Saat ini cuaca sungguh sangat kering. Bahkan, kemarin ada ular yang masuk ke teras rumah. Sepertinya, ular-ular mulai keluar dari sarang untuk mencari sumber air.

Lebih mengejutkan mana, mendapat uang kaget dari eyang atau menemukan ular di teras rumah?

Hujan Listrik

22 Agustus 2026

Hari ini saya masih menunggu hujan. 

Hari ini adalah hari Sabtu. Ini adalah hari libur. Pagi ini saya pergi mengantar anak pertama. Tadi malam ada pengumuman bahwa dia lolos ke semifinal. Oleh karena itu, pagi ini dia melanjutkan lomba Euphorbio. Lombanya bertempat di FMIPA Unmul.

Selesai mengantar, saya meluncur untuk ngopi. Sayangnya, menu kopi V60 belum tersedia. Jadi, saya memesan Americano arabika hangat. Rasanya ternyata lumayan juga.

Setelah ngopi, saya menjemput anak kedua. Sekitar pukul sepuluh, dia selesai kegiatan HW di sekolahnya. Namun, saya datang agak terlambat. Katanya, kegiatan tersebut sudah selesai sekitar sepuluh menit yang lalu.

Sesampainya di rumah, saya menyantap masakan istri. Menunya adalah mi goreng dan ati goreng. Selain itu, istri juga memasak sayur lodeh. Tetapi, lodehnya baru akan saya makan nanti malam. Istri saya juga membeli buah cempedak. Rasanya sangat enak dan manis.

Siang harinya, lomba anak pertama akhirnya selesai. Kemudian, dia dijemput oleh istri. Saat pulang, mereka membawa gorengan tahu isi sayur.

Saya juga menyempatkan bersantai menonton YouTube. Saat ini sedang berlangsung turnamen Dota 2. Tepatnya ajang The International 2026 di China. Jagoan saya tentu saja Team Spirit. Di tim itu ada pemain bernama Yatoro yang sangat jago.

Setelahnya, saya mencoba untuk tidur siang. Namun, saya terbangun karena listrik mendadak padam. Kamar langsung terasa sumuk tanpa adanya AC. Kondisi Samarinda sudah kering kerontang tanpa hujan. Lalu, sekarang ditambah pula dengan krisis listrik.

Mana yang lebih menguji kesabaran, menunggu turunnya hujan atau menanti menyalanya listrik?

Samarinda Hujan

21 Agustus 2026

Hari ini adalah hari yang sarat akan penantian. Tepatnya, saya masih terus menunggu turunnya hujan.

Hari ini sebenarnya jadwal WFA atau Work From Anywhere. Namun, saya tetap memilih untuk berangkat ke kantor. Sehabis mengantar anak sekolah, saya langsung meluncur ke kampus. Di sana, saya mengerjakan disposisi dari Dekan. Isinya terkait urusan peminjaman ruang.
Saat di kantor, saya menemukan sebuah tautan di aplikasi Threads. Tautan itu berisi info program student plan Google untuk Gemini. Saya pun iseng mencobanya. Alhamdulillah, saya berhasil mendapatkan akses Google Plus untuk setahun ke depan. Lumayan sekali. Selain itu, saya juga menanyakan status pencairan serdos milik dosen lain. Infonya, berkas tersebut sudah diproses. Jadi, sekarang tinggal menunggu saja.

Siang ini, anak pertama saya mengikuti lomba di FMIPA Unmul. Nama lombanya adalah Euphorbio. Semoga ia bisa mendapatkan hasil yang terbaik.

Sekitar jam sebelas, saya beranjak pulang. Saya mampir membeli gorengan di dekat flyover Juanda. Saya membeli seharga lima belas ribu rupiah dan mendapat sembilan biji. Rinciannya, saya memilih enam tahu isi sayur, satu tempe gembus, dan dua tahu isi mihun. Penjualnya ternyata berbaik hati. Saya diberi bonus tambahan satu tahu isi mihun.
Kali ini, saya memang memilih sendiri jenis gorengannya. Tetapi, saya juga sering membeli gorengan campur. Artinya, pilihan diserahkan kepada penjual. Terkadang, ada satu jenis gorengan yang sangat mendominasi isinya. Kira-kira apa artinya ya? Apakah itu jenis yang paling tidak laku? Ataukah stoknya memang paling banyak? Bisa jadi itu yang keuntungannya paling besar. Atau, jangan-jangan itu yang paling enak menurut selera si penjual? Saya belum tahu pasti jawabannya.

Kasus ini mirip dengan saat membeli buah. Jika kita pasrah meminta dipilihkan yang bagus, rasanya kita malah diberi buah yang hampir busuk. Meskipun, bisa jadi ada penjual yang memang tulus memilihkan yang terbaik. Entahlah.

Sesampainya di rumah, saya langsung memakan gorengan tersebut. Istri saya juga sudah menyiapkan makan siang. Menunya adalah ayam goreng dan oseng tahu tempe. Lalu, ada tambahan udang goreng tepung juga.

Siang harinya, saya menunaikan salat Jumat. Saya salat di Masjid Al Muhajirin. Ini adalah masjid di dekat rumah yang sering saya datangi sejak kecil. Sebelum waktu Jumatan tiba, istri saya pergi mengantar anak pertama lomba. Oleh karena itu, saya standby di rumah untuk menjaga anak kedua.

Lebih misterius mana, niat penjual memilihkan gorengan campur atau kapan turunnya hujan di Samarinda?

Zebra Polos

20 Agustus 2026

Hari ini adalah hari yang menunggu hujan. Rasanya persis bagai penumpang kereta api yang jadwal keberangkatannya sisa 10 menit lagi.

Di kampus, rutinitas tetap berjalan. Saya meneruskan surat disposisi dari Dekan terkait permohonan peminjaman ruang. Lalu saya menyiapkan berkas full paper untuk kegiatan international conference. Saya juga merapikan materi presentasi (PPT). Termasuk menyiapkan bukti transfer pendaftaran sebagai presenter. Kemudian saya mengunggah berkas terkait urusan beasiswa. Tetapi sepertinya saya salah mengunggah file karena tergesa-gesa menekan tombol kirim. Saya sungguh berharap masih ada masa perbaikan data nanti.

Hari ini mahasiswa juga mengumpulkan tugas praktik penerjemahan. Saya mengoreksi tugas mereka sambil mendengarkan Podcast Seminggu. Kebetulan bintang tamu mereka kali ini adalah podcaster Mendoan. Ini pengalaman yang sangat menarik karena saya menyukai keduanya. Sehingga rasanya seperti menonton dua acara sekaligus.

Sambil membaca, ada beberapa hal yang perlu saya diskusikan dari hasil terjemahan mahasiswa. Pertama, terkait frasa inappropriate Zebraic. Konteks ceritanya adalah seekor kucing yang meniru bahasa zebra. Jika diterjemahkan secara literal menjadi "bahasa zebra yang tidak pantas", rasanya kurang pas. Sebab konotasi bahasa yang tidak pantas cenderung mengarah pada makian atau kata kotor.

Kedua, ada frasa idiomatis fits to be tied. Frasa ini secara umum memang bermakna sangat marah. Tetapi jika dimasukkan ke dalam konteks cerita ini, maknanya menjadi kurang nyambung. Ketiga, kata innocent zebra. Jika mahasiswa menerjemahkannya menjadi "zebra polos", kalimatnya terdengar aneh. Karena zebra polos seakan-akan berarti warna kulit zebra tersebut polos tanpa belang. Keempat, penerjemahan the delicate nose. Konteksnya adalah kemampuan penciuman zebra. Kata delicate memang bisa bermakna hidung yang halus. Tetapi jika dikaitkan dengan penciuman, arah maknanya lebih tepat menjadi penciuman yang sensitif atau tajam.

Siang harinya saya jajan pentol. Rasanya ternyata enak juga.

Lalu setibanya di rumah, istri saya sudah memasak. Menunya adalah oseng sayur isian capcai dan ayam goreng. Rasanya enak pol. Menu ini sangat cocok untuk anak saya yang kebetulan baru belajar makan sayur. Tentu saja, proses belajarnya harus menggunakan iming-iming bermain HP.

Apakah kepanikan salah unggah berkas itu lebih aneh dari zebra polos?

Sungai Buaya

19 Agustus 2026

Pagi yang tenang. Setenang sungai yang berisi buaya. 

Hari ini saya sebenarnya terjadwal mengajar. Tetapi ada kegiatan fakultas terkait pelatihan konseling bagi dosen dan tendik. Kemarin sore saya mendapat pesan WA dari staf. Saya diminta mewakili Dekan untuk membuka acara tersebut. Sehingga kelas saya isi dengan tugas praktik penerjemahan. Memang semester ini mata kuliahnya lebih banyak tentang teori. Tetapi mahasiswa tetap perlu berlatih praktik. Semester depan barulah porsi praktik pengaplikasian teori diperbanyak. Cerpen yang diterjemahkan adalah Zebra Storyteller karya Spencer Holst. Cerpen ini menjadi pembuka buku pengantar sastra terbitan Norton. Isinya sangat bagus untuk membantu mendefinisikan sastra.

Lalu saya bergegas membuka kegiatan pelatihan konseling. Saya berdiri di podium mewakili Bapak Dekan. Dalam sambutan, saya menegaskan bahwa aset terbesar fakultas adalah sumber daya manusia. Bukan sekadar fasilitas fisik. Kemudian saya menyampaikan bahwa produktivitas dan kelancaran administrasi bergantung pada kesejahteraan psikologis. Saya juga mengingatkan bahwa beban kerja bisa memicu stres. Sehingga konseling harus hadir sebagai sistem dukungan nyata. Bagi dosen dan tendik, hal ini menjadi modal menciptakan lingkungan kerja yang kondusif. Serta melatih rasa empati dan sikap saling mengayomi.

Lalu saya menitipkan tiga pesan. Pertama, jadikan forum ini sebagai ruang aman untuk berdiskusi. Kedua, kembangkan kemampuan mendengarkan. Sebab solusi masalah birokrasi sering kali dimulai dari kesediaan mendengarkan. Ketiga, peserta harus mengimplementasikan ilmu ini.

Kemudian tibalah waktu makan siang. Menunya adalah kotak nasi berisi bebek goreng. Sambal terasinya sangat enak. Tetapi tidak ada nama warung di kotak kemasannya. Karena rasanya enak, mungkin saya akan mencari tahu dan membelinya lagi kapan-kapan.

Sore harinya saya pulang ke rumah. Menu makanannya adalah oseng buncis dan kecambah panjang. Menu ini kebetulan sesuai dengan permintaan saya. Tadi pagi sekitar jam sepuluh saya sempat melakukan video call dengan istri. Saya memang bilang sedang ingin makan oseng kecambah.

Apakah mempraktikkan pemahaman konseling di kampus itu setenang sungai yang berisi buaya?

Sorak Nusantara

18 Agustus 2026

Hari ini berjalan seperti biasa. Pagi hari, saya berangkat ke kampus. Di sana, saya melihat mahasiswa sedang bersiap. Mereka menyiapkan lomba 17-an di lingkungan FIB.

Pembukaan kegiatan ini dilakukan langsung oleh Dekan. Tema yang diangkat adalah Sorak Nusantara Merdeka. Setelah itu, acara dilanjut dengan pembagian doorprize. Kemudian, barulah perlombaan resmi dimulai.

Berbagai macam lomba ikut diselenggarakan. Tetapi, sepertinya yang paling seru adalah tarik tambang. Biasanya saya ikut bermain. Namun, tahun ini saya memutuskan untuk absen dulu.

Pekerjaan saya hari ini masih didominasi rutinitas. Saya kembali memproses lembar disposisi dari Dekan. Setelah itu, saya menguji satu orang mahasiswa. Mahasiswa tersebut membahas tentang maxim pragmatik di dalam sebuah film.
Kemudian, ada mahasiswa yang datang untuk konsultasi akademik. Ia merasa bingung terkait pemilihan beasiswa. Oleh karena itu, saya menyarankannya untuk berhitung dengan baik. Ia harus menyiapkan diri untuk kemungkinan jika tidak mendapat beasiswa sama sekali. Selain itu, ia juga perlu mempertimbangkan risiko jika sudah menerima beasiswa tertentu, tetapi ternyata ada pilihan lain yang lebih mantap.

Tadi saya juga mengikuti sebuah rapat. Kami membahas rencana kegiatan promosi budaya melalui sarana digital. Oleh sebab itu, kami merasa perlu mengadakan pelatihan dari content creator. Rencananya, kegiatan ini mungkin digelar sekitar bulan Oktober.

Sore harinya, saya tiba di rumah. Di meja makan, sudah tersedia menu soto ayam. Rasanya sungguh segar.

Lebih alot mana, tali lomba tarik tambang hari ini atau kebingungan mahasiswa memilih beasiswa?

Satyalancana dan Sarden

17 Agustus 2026

Hari ini adalah hari yang bersemangat. Semangat menyambut perayaan 17-an. Saya berani perang, tetapi takut kepanasan.

Pagi ini saya mengikuti upacara di GOR. Para pesertanya memakai baju adat Nusantara. Baju saya disiapkan oleh istri. Kata istri, ini adalah baju adat dari Aceh. Namun, sesampainya di lapangan ada yang bilang ini dari Nias. Ada juga yang menyebutnya baju adat Batak.

Upacara ini sekaligus dirangkai dengan penyerahan Satyalancana 10, 20, dan 30 tahun. Saya sudah mengabdi selama 12 tahun 4 bulan. Tetapi, saya belum mendapat Satyalancana 10 tahun. Mungkin saya harus menunggu. Atau mungkin harus mengusulkan sendiri, entahlah.

Pidato Pak Rektor hari ini berlangsung sebentar. Beliau menyampaikan bahwa kemerdekaan harus kuat dalam pikiran. Supaya kita tidak mudah percaya hal-hal negatif atau mudah dihasut. Beliau juga sekilas menyampaikan pesan tentang etika.

Selesai upacara, saya rapat sebentar dengan Dekan dan para Wakil Dekan. Kami membahas beberapa agenda fakultas. Salah satunya adalah kegiatan mahasiswa tari yang mengikuti Peksiminas. Semoga mereka mendapatkan juara yang sesuai harapan.

Pulang dari kampus, saya berkeliling mencari gorengan. Ternyata mencari gorengan di Samarinda pada tanggal merah ini sangat sulit. Penjual gorengan di Juanda dekat flyover tutup. Penjual di belakang Polsek Juanda juga tutup. Saya mencari ke Jalan Cendana dan ternyata tidak ada yang berjualan. Akhirnya saya menuju penjual gorengan di daerah Pasundan. Ini adalah pilihan terakhir daripada tidak mendapat sama sekali. Sayangnya di sini tidak ada tahu isi sayur, yang ada hanya isian bihun. Padahal saya mencari isian sayur supaya anak saya mau memakannya. Tentu dengan iming-iming boleh bermain handphone.

Besok rencananya ada berbagai perlombaan 17-an di fakultas. Semoga semua berpartisipasi agar acara menjadi ramai.

Hari ini istri saya puasa, sedangkan saya tidak. Sore ini ia minta dibelikan es tebu untuk berbuka. Kemudian anak saya ingin makan sarden. Awalnya saya mengira sarden termasuk makanan yang kurang sehat. Setara dengan mi instan, nugget, sosis, dan sejenisnya. Ternyata di media sosial ada pembahasan tentang hal ini. Sarden dikategorikan sebagai makanan yang baik karena bukan ultra-processed food. Sarden termasuk olahan awal dan relatif sehat. Jadi, saya berencana mulai menyetok sarden di rumah.

Apakah Satyalancana saya tertinggal di dalam kaleng sarden?