Kemarau dan Patin

27 Agustus 2026

Hari ini hujan belum juga turun. Setelah musibah kebakaran, layanan PDAM bisa jadi yang bermasalah.

Pagi ini saya mengajar mata kuliah ITS. Perkuliahan ini sudah memasuki minggu ketiga. Pertemuan sebelumnya sudah diisi dengan praktik menerjemahkan. Hari ini saya mengevaluasi hasil tugas tersebut. Selain itu, saya juga membahas berbagai istilah teknis dalam studi penerjemahan. Kemudian, kami mengupas definisi beserta proses dalam penerjemahan. Lalu, saya juga memaparkan kompetensi yang wajib dimiliki oleh seorang penerjemah.

Selesai mengajar, ada disposisi Dekan terkait peminjaman tempat. Urusan itu langsung saya teruskan kepada Kabag Umum. Setelahnya, saya mengadakan rapat singkat bersama WD 1 dan WD 3. Rapat ini khusus membahas koordinasi kegiatan untuk dua hari ke depan.

Siang harinya, saya memutuskan untuk pulang lebih cepat. Sebenarnya badan saya tidak sedang sakit. Namun, rasanya agak greges sehingga saya butuh istirahat. Sesampainya di rumah, istri ternyata sudah menyiapkan ikan patin bakar. Selain itu, ada juga tambahan gorengan dan pindang patin.

Bagi masyarakat Samarinda, ikan patin ini tentu sangat familiar. Tetapi, bagi istri saya yang pendatang dari Solo, ikan ini terasa sangat amis. Sehingga, dia kurang doyan menyantapnya. Padahal, saya sangat menyukai olahan patin, baik itu dibakar maupun dipindang.

Setelah makan, saya langsung tidur untuk beristirahat. Kemudian, saya baru terbangun pada pukul setengah enam sore. Alhamdulillah, sekarang badan saya sudah terasa enak kembali.

Lebih menguji kesabaran mana, menanti hujan atau menyatukan selera makan ikan patin di rumah?

0 comments:

Post a Comment