Kurs Bakso

9 Agustus 2026

Hari ini hari Minggu. Waktunya libur. Suasana hari ini sangat tenang. Setenang haiku karya Basho. Tepatnya, puisi tentang kodok di kolam tua.

Setelah itu, saya lanjut ngopi. Saya memesan seduhan V60. Biji kopinya Aceh Gayo. 

Sambil ngopi, saya mengedit artikel. Naskah ini untuk jurnal Scopus yang lain. Targetnya adalah jurnal 3L dari Malaysia. Biaya publikasinya sekitar 300 dolar AS. Semoga saja artikel ini bisa lolos.

Sesampainya di rumah, saya langsung pergi jajan. Saya pergi bersama istri. Kami makan Bakso Gresik. Ini adalah bakso terenak di Samarinda. Harga seporsinya 45 ribu rupiah. Isinya ada lima pentol besar. Namun, istri saya hanya sanggup makan tiga buah. Oleh karena itu, dua pentol sisanya saya yang makan. Perut rasanya sangat kenyang. Apalagi, es jeruk di sini juga paling enak. Rasanya sungguh segar.
Meskipun begitu, bakso ini tetap masih kalah. Rasanya kalah oleh Bakso Mas Roy di Surabaya. Dulu, saya mampir ke sana saat adik menikah di Malang. Selesai acara, saya harus mengejar pesawat pagi. Penerbangannya dari Bandara Juanda. Oleh sebab itu, saya menginap semalam di Surabaya.
Dari Malang, saya naik Cititrans menuju Surabaya. Saya turun di pool yang terdekat dengan bandara. Waktu itu, saya ingin makan yang berkuah. Misalnya seperti bakso. Lalu, saya mengecek lewat Google. Warung bakso terdekat adalah Bakso Mas Roy. Saat pertama kali dicoba, rasanya langsung luar biasa. Itu adalah bakso terenak yang pernah ada. Bahkan, jauh lebih lezat daripada Bakso Gresik di Samarinda.

Jika biaya publikasi satu jurnal Scopus mencapai 300 dolar, kira-kira uang itu bisa ditukar dengan berapa bakso?

0 comments:

Post a Comment