Hari yang biasa, seperti kemarin dan kemarinnya lagi.
Hari ini ritme di FIB berjalan wajar, diawali dengan rutinitas akademik dan administratif. Beberapa mahasiswa datang untuk urusan KRS, disusul dengan sesi bimbingan skripsi bersama dua mahasiswa—satu berdiskusi intens terkait pengambilan data, sementara satu lagi mematangkan draf proposalnya. Di sela-sela urusan kemahasiswaan tersebut, saya juga merampungkan disposisi surat pimpinan dan menerima undangan untuk kegiatan PKKMB mendatang.
Namun, bagian paling menguras energi sekaligus memancing perenungan hari ini terjadi saat saya harus membereskan draf artikel jurnal.
Masalah bermula ketika naskah jurnal tersebut ternyata terlalu panjang dan melebihi batas kata yang ditentukan (maksimal 7000 kata). Untuk efisiensi waktu, saya memanfaatkan bantuan AI, namanya Paperpal, untuk menyeleksi dan memangkas (trimming) kalimat-kalimat yang bertele-tele agar tulisan menjadi lebih padat dan presisi.
Ironisnya, setelah naskah dirapikan, saya malah dihadapkan pada masalah baru: teks tersebut terdeteksi dengan skor AI writing yang tinggi, menurut Turnitin.
Ini menjadi sebuah dilema dan paradoks dalam penulisan akademik modern. Gagasan, alur pikir, data, dan draf mentahnya seratus persen murni tulisan manusia hasil pemikiran saya sendiri. Namun, hanya karena saya menggunakan tools pemroses bahasa—seperti Grammarly dan Paperpal— untuk mengoreksi tata bahasa (grammar check) dan menyempurnakan struktur sintaksisnya, algoritma detektor langsung menyimpulkan bahwa itu adalah teks buatan mesin seutuhnya. Detektor seolah gagal membedakan mana teks yang digenerasi (diciptakan dari nol oleh AI) dan mana teks manusia yang hanya "dipoles" tata bahasanya.
Alhasil, sisa waktu hari ini terpaksa saya habiskan untuk mengedit manual, mengubah kembali beberapa struktur kalimat, dan mengganti diksi pakai thesaurus demi menurunkan persentase deteksi AI tersebut. Sebuah pekerjaan dua kali, namun menjadi pengingat yang bagus bahwa secerdas apa pun alat bantu digital merapikan grammar, sentuhan dan "ruh" tulisan manusia (human writing) tetap membutuhkan intervensi langsung dari penulisnya.