Satyalancana dan Sarden

17 Agustus 2026

Hari ini adalah hari yang bersemangat. Semangat menyambut perayaan 17-an. Saya berani perang, tetapi takut kepanasan.

Pagi ini saya mengikuti upacara di GOR. Para pesertanya memakai baju adat Nusantara. Baju saya disiapkan oleh istri. Kata istri, ini adalah baju adat dari Aceh. Namun, sesampainya di lapangan ada yang bilang ini dari Nias. Ada juga yang menyebutnya baju adat Batak.

Upacara ini sekaligus dirangkai dengan penyerahan Satyalancana 10, 20, dan 30 tahun. Saya sudah mengabdi selama 12 tahun 4 bulan. Tetapi, saya belum mendapat Satyalancana 10 tahun. Mungkin saya harus menunggu. Atau mungkin harus mengusulkan sendiri, entahlah.

Pidato Pak Rektor hari ini berlangsung sebentar. Beliau menyampaikan bahwa kemerdekaan harus kuat dalam pikiran. Supaya kita tidak mudah percaya hal-hal negatif atau mudah dihasut. Beliau juga sekilas menyampaikan pesan tentang etika.

Selesai upacara, saya rapat sebentar dengan Dekan dan para Wakil Dekan. Kami membahas beberapa agenda fakultas. Salah satunya adalah kegiatan mahasiswa tari yang mengikuti Peksiminas. Semoga mereka mendapatkan juara yang sesuai harapan.

Pulang dari kampus, saya berkeliling mencari gorengan. Ternyata mencari gorengan di Samarinda pada tanggal merah ini sangat sulit. Penjual gorengan di Juanda dekat flyover tutup. Penjual di belakang Polsek Juanda juga tutup. Saya mencari ke Jalan Cendana dan ternyata tidak ada yang berjualan. Akhirnya saya menuju penjual gorengan di daerah Pasundan. Ini adalah pilihan terakhir daripada tidak mendapat sama sekali. Sayangnya di sini tidak ada tahu isi sayur, yang ada hanya isian bihun. Padahal saya mencari isian sayur supaya anak saya mau memakannya. Tentu dengan iming-iming boleh bermain handphone.

Besok rencananya ada berbagai perlombaan 17-an di fakultas. Semoga semua berpartisipasi agar acara menjadi ramai.

Hari ini istri saya puasa, sedangkan saya tidak. Sore ini ia minta dibelikan es tebu untuk berbuka. Kemudian anak saya ingin makan sarden. Awalnya saya mengira sarden termasuk makanan yang kurang sehat. Setara dengan mi instan, nugget, sosis, dan sejenisnya. Ternyata di media sosial ada pembahasan tentang hal ini. Sarden dikategorikan sebagai makanan yang baik karena bukan ultra-processed food. Sarden termasuk olahan awal dan relatif sehat. Jadi, saya berencana mulai menyetok sarden di rumah.

Apakah Satyalancana saya tertinggal di dalam kaleng sarden?

Hujan Samarinda

16 Agustus 2026

H-1 17-an. Hari yang hangat. Sehangat air mendidih yang disiram air biasa.

Hari ini adalah hari tanpa rencana. Pagi-pagi, saya meminum kopi cold brew. Seduhan ini menggunakan biji kopi Puntang. Rasanya sangat segar. Enak, khas kopi mahal.

Dari masjid, terdengar pengumuman lomba 17-an. Hari ini ada lomba mewarnai untuk anak-anak. Kemudian, acaranya dilanjut dengan cerdas cermat dan futsal. Semalam sebenarnya ada lomba tenis meja. Namun, melihat foto di grup RT, peminatnyasedikit.

Hari ini saya libur mengedit jurnal. Saya tinggal berdoa dan pasrah. Semoga artikel tersebut bisa segera publish. Aamiin.

Pagi ini saya sarapan gorengan dari Mpok Siti. Warung Mpok Siti ini sangat terkenal pecelnya. Kadang pembelinya sampai antre panjang. Namun, saya kapok membeli pecel di sana. Antreannya kacau dan tidak sesuai urutan. Jika ada tetangganya yang mendadak datang, ia pasti dilayani duluan. Penjualnya tidak memedulikan orang yang sudah antre lebih awal. Prioritas juga diberikan untuk pelanggan yang makan di tempat.

Jadi, jika kamu membungkus bawa pulang dan bukan tetangganya, kamu adalah prioritas terakhir. Artinya, kamu akan menyaksikan orang yang datang belakangan justru dilayani terlebih dahulu. Saya tentu tidak mau lagi. Prinsip saya adalah "cukup sekali". Jika sudah mendapat pengalaman tidak enak, tidak perlu diulangi. Tetapi, kalau hanya membeli gorengan, prosesnya memang bisa cepat tanpa antre.

Siang harinya, saya menyantap makan siang. Menunya adalah telur dadar dengan daun bawang. Sayurnya berupa oseng kacang panjang dan jamur.

Akhir-akhir ini, anak kedua saya mulai mau makan sayur. Saya memberikannya waktu main HP jika ia menghabiskan sayurnya. Dia mau makan sayur asalkan diberi kuota waktu tersebut.

Sementara itu, istri saya sedang menyiapkan baju adat Nusantara. Baju ini akan dipakai untuk upacara besok.

Saat ini, Samarinda sudah lama tidak diguyur hujan. Beberapa anak sungai mulai mengering dan daratannya kelihatan. Efek lanjutannya bisa memicu bencana kebakaran. Selain itu, aliran air PDAM juga pasti mulai tersendat. Lalu, kondisi ini biasanya disambut oleh kabut nyamuk yang merajalela. Semoga hujan segera turun.

Apakah antrean awan hujan di Samarinda ini juga sedang diserobot seperti antrean pecel Mpok Siti?

Menanti SKASE

15 Agustus 2026

Hari ini cuaca masih sangat cerah. Bahkan, suasananya terasa secerah pantai.

Pagi ini, saya kembali menyeduh kopi. Saya meminum seduhan V60. Biji kopinya masih sama persis dengan kemarin.

Kemudian, hari ini saya men-submit artikel. Naskah tersebut dikirim ke jurnal SKASE. Semoga saja artikel ini bisa lolos.

Sementara itu, menu makan hari ini cukup sederhana. Hidangannya adalah oseng kangkung dan jamur. Selain itu, saya juga menyantap camilan. Camilannya adalah pencok bengkuang.

Apakah nasib naskah SKASE ini kelak akan semendung cuaca yang diharap?

Cerah Ber-AC

14 Agustus 2026

Hari yang hangat, membuat ingin mandi es teh manis.

Hari ini cuaca sangat cerah. Oleh karena itu, suasana ini membuat saya lebih cocok berdiam di ruang ber-AC.

Aktivitas saya hari ini tidak terlalu banyak. Saya hanya fokus mencari target jurnal yang cocok. Akhirnya, saya menemukan sebuah jurnal dari Slovakia. Nama jurnal tersebut adalah SKASE. Namun, saya baru berencana menyesuaikan formatnya besok.

Saya mencari jurnal tersebut sambil ngopi. Saya meminum seduhan kopi V60. Sayangnya, stok biji kopi tinggal satu jenis. Sehingga, saya tidak bisa memilih. Minum kopi yang ada saja.
Setelah itu, saya menyantap hidangan makan. Menunya adalah nasi dengan lauk ayam rica. Bumbunya terasa agak pedas. Masakan ini terasa enak.

Kira-kira lebih pedas mana, bumbu ayam rica ini atau proses submit jurnal Slovakia besok?

Baju Nusantara

13 Agustus 2026

Hari yang terjaga, seperti ketika kancilen.

Pagi ini, saya mengantar anak ke sekolah. Setelah itu, saya mampir untuk ngopi. Saya membeli Americano di Alfamart. Harganya murah, hanya lima belas ribu rupiah. Namun, rasanya lumayan sedap.
Hari ini ada kegiatan literasi. Acaranya berlangsung seharian penuh. Di sela kegiatan, saya sempat menikmati kopi V60. Biji kopinya menggunakan Gunung Halu. Ini adalah kopi favorit saya. Sayangnya, rasa seduhan kali ini agak kurang. Meskipun begitu, rasanya tetap segar karena disajikan dingin.

Siang harinya, saya menyantap makan siang. Menunya adalah ikan patin bakar. Rasanya sungguh enak.

Kemudian, ada pengumuman masuk di grup kantor. Isinya terkait upacara tanggal 17 Agustus. Lokasi upacaranya berada di GOR. Kami diwajibkan memakai pakaian budaya Nusantara.

Malam harinya, saya kembali makan enak. Kali ini menunya adalah bakso. Bakso sapi ini terasa sangat lezat.

Siang makan patin, kalau malam makan bakso, masih muatkah perut ini saat dibalut pakaian budaya Nusantara nanti?

Kejar Realisasi

12 Agustus 2026

Hari yang ternyata padat, sepadat tidak BAB beberapa hari.

Pagi ini berjalan persis seperti kemarin. Saya berangkat mengantar anak. Setelah itu, saya mengisi presensi melalui aplikasi.

Hari ini saya kembali mengajar mata kuliah ITS. Materinya sama seperti kemarin. Namun, pesertanya dari kelas yang berbeda. Ini merupakan pertemuan perdana. Oleh karena itu, kami lebih banyak membahas kesepakatan kelas. Selain itu, kami membicarakan rencana pertemuan ke depan. Kelas ini juga diampu secara bertim.

Di kelas, kami membahas aturan keterlambatan dan konsep penilaian. Kemudian, kami membicarakan penugasan dan rencana materi. Saya juga menanyakan harapan mahasiswa untuk kelas ini. Seingat saya, beberapa mahasiswa menginginkan suasana kelas yang fun.

Selesai mengajar, saya meneruskan lembar disposisi dari Dekan. Isinya memuat beberapa hal operasional. Misalnya seperti urusan peminjaman barang.

Selanjutnya, Dekan meminta saya pergi ke rektorat. Saya bertugas mengecek beberapa dokumen. Di antaranya adalah masalah SK dan status dosen di PDDikti serta SISTER. Oleh sebab itu, saya menemui beberapa pihak. Saya bertemu dengan bagian HTL, Kabag, dan juga Wakil Rektor 2.

Setelah dari rektorat, saya rapat bersama staf keuangan. Kami membahas urusan perencanaan keuangan. Kami mengecek angka realisasi anggaran. Sebab, sekarang sudah masuk bulan Agustus. Anggaran yang sekiranya sulit terserap tentu memerlukan perhatian khusus.

Kemudian, agenda berlanjut dengan menemui Wakil Rektor 4. Kami membahas tindak lanjut perencanaan anggaran. Setelah semua itu, saya ternyata masih harus menyelesaikan beberapa urusan administrasi.

Saat Magrib, saya akhirnya tiba di rumah. Istri saya ternyata menggiling bakso isi keju. Rasanya sungguh sangat enak. Selanjutnya, saya langsung menyantap makan malam. Menunya adalah ikan patin kuah kuning. Masakan ini diolah memakai campuran belimbing wuluh. Rasanya benar-benar luar biasa nikmat.

Mengapa anggaran ada yang sulit diserap daripada segarnya ikan patin kuah kuning ini?

Kampus Sepi

11 Agustus 2026

Pagi yang kepagian, laksana manusia yang tidur cepat malam sebelumnya.

Pagi hari, saya pergi ke kantor. Saya ada janji dengan dua orang dosen. Kami perlu berdiskusi. Topiknya adalah pengembangan SDM di FIB Unmul. Setelah itu, saya lanjut berdiskusi berdua dengan Dekan. Kami membicarakan banyak hal. Topiknya sangat bermacam-macam.

Kemudian, saya lanjut mengajar. Ini adalah pertemuan perdana untuk semester ganjil. Mata kuliahnya adalah Introduction to Translation Studies (ITS). Kelas ini diampu secara bertim. Hari ini, saya belum memberikan materi penuh. Namun, kelas saya isi dengan penjelasan lesson plan untuk enam belas pertemuan ke depan. Saya juga membagikan handout. Tujuannya agar mahasiswa bisa memfotokopinya untuk membuat catatan pelengkap PPT. Selain itu, kami membahas kesepakatan kelas, aturan keterlambatan, dan sistem penilaian. Seperti biasa, saya meminta mahasiswa menuliskan ekspektasi mereka. Lalu, saya membaca catatan tersebut satu per satu.

Selesai mengajar, saya menyalakan komputer. Niatnya, saya ingin mengedit artikel ketiga. Artikel itu bersiap untuk di-submit. Tetapi, rasa malas tiba-tiba datang. Oleh karena itu, saya malah menyetel Spotify.

Lalu, hari ini ada dosen yang berulang tahun. Kami pun makan Bakso Bintang Malang. Alhamdulillah.

Sore harinya, saya mengobrol dengan beberapa dosen. Bulan ini, ada tiga orang dosen yang akan berangkat studi S3. Alhasil, suasana kampus pasti akan menjadi lebih sepi.

Setelah itu, saya pulang ke rumah. Istri saya ternyata membeli buah cempedak. Kualitasnya sangat super. Buahnya besar-besar. Dagingnya tebal, manis, dan enak. Lalu, saya merebus bijinya untuk dimakan. Rasanya memang enak, tetapi teksturnya sangat bergetah. Sepertinya, biji itu harus dicuci terlebih dahulu sebelum direbus.

Malam harinya, saya menyantap makan malam. Menunya adalah tongkol bumbu habang. Lalu, ada tambahan bayam rebus dan kerupuk. Rasanya luar biasa nikmat.

Mengapa rasa malas mengedit artikel ini justru terasa lebih lengket daripada getah biji cempedak rebus tambah garam?

Harmoni Kolega

10 Agustus 2026

Hari yang awal. Seawal murid rebutan MBG.

Hari ini adalah awal perkuliahan. Tepatnya, hari pertama untuk semester ganjil tahun 2026. Pagi hari, saya menyiapkan materi kuliah. Semester ini, saya mengajar dua mata kuliah. Pertama adalah Introduction to Translation Studies. Kedua adalah Research Methodology in Literature. Rencananya, saya akan mencetak handout perkuliahan. Tujuannya agar mahasiswa bisa membuat catatan secara langsung. Sebab, jika hanya menggunakan salinan PPT, mereka menjadi sulit untuk mencatat.

Siang harinya, ada acara makan bersama. Acara ini merupakan syukuran untuk sebelas PNS baru di FIB. Alhamdulillah, suasananya sangat menyenangkan. Menunya ada sop dan ayam goreng. Kemudian, ada balado kentang, mihun, serta ikan dori goreng tepung.

Momen ini membuat saya sedikit merenung. Hubungan sesama rekan kerja PNS itu bisa sangat panjang. Bahkan, kebersamaan ini bisa mencapai tiga puluh tahun ke depan hingga masa pensiun. Oleh karena itu, jangan sampai masalah yang sepele justru berubah menjadi pertengkaran.

Secara umum, hari ini tidak ada jadwal rapat khusus. Namun, saya sempat berdiskusi dengan Dekan. Kami membahas beberapa hal terkait pengelolaan SDM fakultas.

Di sisi lain, ternyata masih ada mahasiswa yang sibuk mengurus KRS. Padahal, perkuliahan semester ganjil jelas-jelas sudah resmi dimulai hari ini. Kemudian, ada beberapa lembar disposisi masuk dari Dekan. Berkas-berkas tersebut langsung saya teruskan ke Kabag Umum untuk diproses.

Sore harinya, saya beranjak pulang ke rumah. Menu masakan di rumah hari ini adalah oseng-oseng dan ayam goreng tepung. Selain itu, ternyata ada menu mihun juga untuk sajian makan malam.

Siang makan mihun, dan malam pun makan mihun lagi. Tetapi, wujudnya berbeda. Siang tadi mihun putih. Buatan istri adalah mihun kecap cokelat.

Kurs Bakso

9 Agustus 2026

Hari ini hari Minggu. Waktunya libur. Suasana hari ini sangat tenang. Setenang haiku karya Basho. Tepatnya, puisi tentang kodok di kolam tua.

Setelah itu, saya lanjut ngopi. Saya memesan seduhan V60. Biji kopinya Aceh Gayo. 

Sambil ngopi, saya mengedit artikel. Naskah ini untuk jurnal Scopus yang lain. Targetnya adalah jurnal 3L dari Malaysia. Biaya publikasinya sekitar 300 dolar AS. Semoga saja artikel ini bisa lolos.

Sesampainya di rumah, saya langsung pergi jajan. Saya pergi bersama istri. Kami makan Bakso Gresik. Ini adalah bakso terenak di Samarinda. Harga seporsinya 45 ribu rupiah. Isinya ada lima pentol besar. Namun, istri saya hanya sanggup makan tiga buah. Oleh karena itu, dua pentol sisanya saya yang makan. Perut rasanya sangat kenyang. Apalagi, es jeruk di sini juga paling enak. Rasanya sungguh segar.
Meskipun begitu, bakso ini tetap masih kalah. Rasanya kalah oleh Bakso Mas Roy di Surabaya. Dulu, saya mampir ke sana saat adik menikah di Malang. Selesai acara, saya harus mengejar pesawat pagi. Penerbangannya dari Bandara Juanda. Oleh sebab itu, saya menginap semalam di Surabaya.
Dari Malang, saya naik Cititrans menuju Surabaya. Saya turun di pool yang terdekat dengan bandara. Waktu itu, saya ingin makan yang berkuah. Misalnya seperti bakso. Lalu, saya mengecek lewat Google. Warung bakso terdekat adalah Bakso Mas Roy. Saat pertama kali dicoba, rasanya langsung luar biasa. Itu adalah bakso terenak yang pernah ada. Bahkan, jauh lebih lezat daripada Bakso Gresik di Samarinda.

Jika biaya publikasi satu jurnal Scopus mencapai 300 dolar, kira-kira uang itu bisa ditukar dengan berapa bakso?

Kopi Scopus

8 Agustus 2026

Hari yang bingung. Sebingung memilih kopi yang hendak diminum

Hari ini libur. Sekarang hari Sabtu. Pagi hari, saya mengantar anak. Dia ada kegiatan ekskul Creative English.

Setelah mengantar, saya tidak langsung pulang. Tetapi, saya mampir ke tempat ngopi. Saya memesan kopi arabika V60. Biji kopinya jenis Pangalengan Honey. Selain itu, saya juga memesan air mineral dan es batu. Sambil ngopi, saya mengedit artikel jurnal. Lalu, saya mencari jurnal Scopus yang cocok. Setelah formatnya disesuaikan, saya langsung men-submit artikel tersebut. Di tempat ngopi itu, saya bertemu teman sejawat. Dia adalah dosen dari kampus lain. Kemudian, kami mengobrol tentang jurnal. Ternyata, kami sama-sama sedang perlu submit artikel.
Awalnya, saya tidak mengecek biaya publikasi. Namun, teman saya mengingatkan. Akhirnya, saya mengeceknya. Biayanya ternyata sekitar 11 jutaan. Jurnal ini masuk kategori Quartile 3 (Q3). Semoga saja artikel saya lolos.

Dari tempat kopi, saya pergi ke toko komputer. Saya membeli mouse merek Logitech. Tipenya adalah seri M350 berwarna hitam. Harganya 350 ribu rupiah. Saya memang perlu mouse baru untuk laptop yang sering dibawa keluar.

Setelah dari toko komputer, saya mampir di jalan. Saya membeli gorengan tahu isi sayur.

Akhirnya, saya sampai di rumah. Istri saya ternyata sudah membelikan makanan. Saya pun langsung menyantap gado-gado pedas tersebut.

Sanggupkah pedasnya gado-gado ini mengalahkan pedasnya tagihan publikasi 11 juta rupiah?

Jumat Santai

7 Agustus 2026

Hari yang enak. Seenak masakan santan pedas.

Hari Jumat ini dosen sebenarnya memiliki opsi untuk WFH. Namun, saya tetap memilih untuk datang ke kantor. Pekerjaan hari ini tidak terlalu banyak. Meskipun begitu, tetap ada disposisi terkait usulan perencanaan anggaran. Selain itu, saya juga menandatangani beberapa berkas.

Kemudian, saya fokus menyelesaikan laporan administrasi, yang ternyata belum selesai. Laporan ini mencakup kegiatan PKM dan penelitian untuk tahun ini.

Selebihnya, waktu saya cukup luang. Oleh karena itu, saya menghabiskan waktu dengan mengobrol santai bersama beberapa rekan dosen.

Siang harinya, saya bersiap melaksanakan salat Jumat. Sebelum Jumatan dimulai, saya menyempatkan diri untuk jajan. Saya membeli pentol di dekat Masjid Al-Fatihah.

Setelah pulang, hidangan luar biasa sudah menanti di rumah. Menunya adalah mangut lele. Masakan ini mutlak masuk ke dalam lima besar makanan favorit saya.

Apakah mangut lele ini hadiah khusus karena saya tidak WFH?

Korsa FIB

6 Agustus 2026

Pagi yang panas. Sepanas hoax bercampur tuduhan tanpa bukti.

Hari ini adalah hari kedua pelaksanaan PKKMB di fakultas. Pagi hari sempat terjadi sedikit gangguan. Namun, secara keseluruhan acaranya berjalan dengan lancar.

Di saat maba PKKMB, saya melayani mahasiswa lama yang mengurus KRS. Ada mahasiswa yang kini tinggal mengambil mata kuliah skripsi saja. Selain itu, saya juga melayani bimbingan skripsi secara daring. Ada dua orang mahasiswa yang bimbingan hari ini. Satu orang sedang bersiap untuk sempro. Sedangkan, satu orang lagi sedang berproses menuju pengerjaan bab 4.

Fakultas juga mulai melakukan persiapan lomba 17 Agustus. Seluruh warga FIB diminta untuk ikut menyumbang hadiah. Hal ini dilakukan demi memupuk rasa kebersamaan.

Kemudian, proses penyelesaian administrasi PKM juga masih berlanjut hari ini.

Siang harinya, saya mengikuti rapat bersama Wakil Rektor 4. Kami membahas program akselerasi dosen untuk studi lanjut S3. Nantinya, akan ada rencana intervensi dari pihak kampus. Dukungan ini akan mencakup bantuan pendanaan dan fasilitas lainnya. Snack rapat kali ini terasa sangat enak. Ada sajian kacang goreng, pisang rebus dan salad buah.

Setelah itu, agenda bersambung ke rapat pimpinan. Kami membahas berbagai rencana kegiatan FIB ke depan. Ada rencana pelatihan konseling dan pelatihan penulisan jurnal internasional bagi para dosen. Selanjutnya, kami juga merencanakan pelatihan kesehatan mental untuk mahasiswa, serta penyelenggaraan kuliah umum.

Setelah rapat, Bapak Dekan mentraktir kami. Menunya adalah kue pare berendam, lapis cokelat, dan risoles. Semuanya terasa sangat enak.

Menjelang magrib, saya pulang ke rumah dan makan enak. Hidangannya sangat lengkap hari ini. Ada lele goreng, oseng kerang, dan sayur bobor bayam. Ditambah lagi, ada tahu dan tempe bacem.

Setelah seharian rapat akeselerasi S3 hingga isu kesehatan mental, bukankah sepiring lele goreng dan bobor bayam di meja makan adalah bentuk terapi penyembuhan mental yang sampai?

Filosofis Asap

5 Agustus 2026

Hari yang gasik.

Hari ini adalah acara pembukaan PKKMB FIB Unmul. Acara ini mengusung tema "Ngasapi Lawas". Tema tersebut ditafsirkan sebagai upaya menyingkap budaya tersembunyi. Selain itu, ini juga bermakna menghidupkan kembali tradisi.

Secara harfiah, "ngasapi" adalah tindakan membakar sesuatu agar menghasilkan asap. Praktik semacam ini bisa ditemukan pada Suku Kutai di daerah Kedang Ipil. Ritual tersebut merupakan bentuk rasa syukur menjelang masa panen. Sementara itu, "lawas" bermakna kuno atau tradisi lama. Oleh karena itu, maknanya menjadi sangat dalam jika digabungkan.

Setelah acara pembukaan, saya kembali ke ruangan. Saya melanjutkan rutinitas disposisi surat. Isinya masih seputar peminjaman sarana prasarana. Kemudian, ada juga urusan persetujuan konsumsi.
Selanjutnya, saya memaraf beberapa surat. Surat-surat ini nantinya akan ditandatangani oleh Dekan. Beberapa di antaranya adalah permohonan perpanjangan tugas belajar. Ada pula surat rekomendasi untuk lanjut studi. Sebenarnya ada beberapa surat lain, tetapi saya sudah tidak ingat detailnya.

Siang harinya, saya makan dengan menu Bebek Carok. Bumbu hitamnya sangat gurih. Ditambah lagi, paduan sambal mangganya juga luar biasa enak.

Kemudian, ada kabar yang cukup melegakan di kampus. Para dosen akhirnya sudah merampungkan urusan administrasi mereka. Tepatnya, kelengkapan berkas terkait pelaksanaan penelitian dan PKM.

Menjelang sore, saya pulang. Orang rumah menitipkan sebuah pesanan. Saya diminta membelikan pentol keju di Jalan Pramuka. Anak-anak saya memang sangat menyukai pentol tersebut.

Akhirnya, saya tiba di rumah. Saya langsung menyantap makan. Menunya bukan sederhana, yaitu sayur asem, sambal, dan lele goreng. Alhamdulillah, rasanya sangat nikmat.

Setelah pagi hari sibuk meresapi filosofi kepulan asap "Ngasapi Lawas", adakah kepulan asap yang lebih nikmat selain dari mangkuk sayur asem di meja makan rumah?

Inflasi IPK

4 Agustus 2026

Hari yang cerah, untuk orang-orang yang ingin mendung.

Hari ini saya kembali melayani urusan KRS. Mahasiswa baru dan mahasiswa lama datang bergantian. Bagi mahasiswa dengan IPK di atas 3,5, prosesnya saya anggap lancar. Namun, bagi mereka yang IPK-nya 3,0 lebih sedikit, saya ajak mengobrol sedikit. Kami berdiskusi tentang bagaimana mengatur prioritas kuliah.

Momen ini membuat saya sedikit bernostalgia. Zaman saya kuliah dulu, angka IPK 3,0 lebih itu sudah bagus. Akan tetapi, zaman memang sudah berubah. Saat ini, IPK segitu justru tergolong kurang. Sepertinya, dosen zaman sekarang jauh lebih enteng dalam nilai.

Setelah itu, saya beralih mengurus administrasi fakultas. Saya menyelesaikan tumpukan disposisi dari dekan. Topiknya berkisar pada urusan peminjaman sarana prasarana. Selain itu, ada juga urusan persetujuan usulan pembiayaan.

Siang harinya, saya makan siang dengan menu pentol. Rasanya ternyata lumayan enak. Apalagi, varian isiannya cukup beragam. Ada pentol isi jamur, isi keju, dan juga isi telur.

Selesai makan, saya kembali fokus pada urusan akreditasi. Saya mengirimkan catatan validasi kepada sejawat asesor. Di dalamnya, ada catatan tentang beberapa butir yang terlewat diisi. Selain itu, ada dokumen pakta integritas yang tertukar dan belum diunggah. Meskipun begitu, masalah ini bisa jadi akibat error pada sistem. Selanjutnya, saya juga memberikan saran terkait penggunaan diksi untuk menyusun rasional penilaian akreditasi sekolah.

Di sela-sela kesibukan itu, ada sebuah diskusi singkat. Kami membahas pembiayaan kegiatan PKM para dosen.

Sore harinya, saya akhirnya pulang ke rumah. Saya mencoba makan pisang susu yang direbus. Ide ini murni muncul gara-gara saya melihat konten di TikTok. Biasanya, hanya pisang kepok yang lumrah direbus. Tetapi, ternyata rasa pisang susu rebus ini enak juga.

Melihat rentetan kejadian hari ini, saya jadi menyadari satu hal. Ternyata, bukan cuma standar nilai IPK mahasiswa saja yang kini gampang lunak. Prinsip ngemil saya rupanya juga ikut-ikutan gampang lunak hanya karena racun dari TikTok.

Orasi dan Layang

3 Agustus 2026

Pagi yang tergesa. Paginya orang kebelet ke toilet.

Hari ini adalah acara PKKMB tingkat universitas. Namun, acara tersebut sempat terhenti. Momen ini terjadi saat rektor sedang memberikan sambutan. Tiba-tiba, beberapa mahasiswa masuk. Kemudian, mereka memotong acara untuk berorasi sebentar. Setelah itu, acara kembali dilanjutkan. Meskipun begitu, acaranya tidak berlangsung lama. Sebelum pukul 10 pagi, peserta sudah bubar.

Selanjutnya, saya kembali ke fakultas. Jalanan dari arah GOR ternyata sangat macet. Oleh karena itu, saya harus memutar lewat jalan Gelatik. Sesampainya di ruangan, saya melanjutkan pekerjaan. Saya mengecek validasi hasil akreditasi sekolah dari asesor lain. Namun, saya baru sekadar membacanya. Saya belum mulai mengisi format penilaiannya.

Di sela-sela waktu, saya mendapat kabar baik. Usulan prodi baru akhirnya mendapat rekomendasi. Selanjutnya, kami hanya tinggal mengejar syarat akreditasi minimal. Oleh sebab itu, fakultas kini mulai bersiap. Kami harus bersiap menjalankan prodi baru tersebut.

Akhirnya, saya pulang ke rumah. Sesampainya di sana, saya menikmati hidangan rumahan. Menunya adalah sayur bening bayam. Selain itu, ada tambahan lauk ikan layang goreng. Pilihan lauk yang tidak sederhana dan sangat nikmat.

Hari Jajan

2 Agustus 2026

Hari Minggu ini terasa tenang.

Pagi hari, saya keluar mencari sarapan. Saya pergi ke warung Gudeg Bu Susi, tetapi ternyata tutup. Lalu, saya beralih mencari mihun enak. Lokasinya dari Sirat Salman belok kanan ke arah Pasundan. Warungnya ada di kiri jalan, tetapi mihunnya sudah habis. Kemudian, saya berburu gorengan tahu isi sayur. Posisinya di Jalan Juanda. Dari arah Polsek Juanda masuk gang sedikit, dan warungnya ada di sebelah kiri.

Siangnya, kami pergi ke Big Mall. Saya ingin makan di Dimsum Sumbuddy. Ternyata gerainya sudah tutup, dan mereka tidak buka lagi di sana. Akhirnya, kami makan di Bakso Lapangan Tembak. Saya memesan kwetiau siram.

Setelah makan, kami mampir ke Hypermart. Saya membeli pastry keju.

Lalu, kami mencari camilan manis. Anak perempuan pertama saya memilih Rotiboy. Anak kedua lebih memilih cake red velvet yang ada di Mako. Sedangkan saya, saya memilih Thai milk bun di gerai Willies.

Malam harinya, kami makan malam santai di rumah. Menu hari ini adalah opor dan telur dadar.

Namun, pikiran saya mulai tertuju pada hari esok. Besok adalah acara PKKMB tingkat universitas. Ada rumor kurang enak yang beredar. Katanya, ada potensi acaranya menjadi kacau. Entahlah, saya juga tidak tahu pasti kebenarannya. Tetapi, satu hal yang paling penting. Keselamatan maba harus tetap menjadi prioritas nomor satu.

Sabtu Keluarga

1 Agustus 2026

Hari ini hari Sabtu. Saya libur dan tidak pergi ke kantor. Waktu luang ini saya habiskan bersama keluarga.

Pagi hari saya bertugas mengantar anak pertama. Dia mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Creative English. Setelah selesai, saya kembali untuk menjemputnya. Sementara itu, istri saya pergi bersama anak kedua. Mereka pergi ke bioskop CGV. Bareng teman sekolahnya menonton film berjudul Children of Heaven.

Hari ini juga merupakan momen yang sangat spesial. Anak pertama saya merayakan ulang tahun. Usianya kini genap 14 tahun. Saya memanjatkan doa terbaik untuknya. Semoga ia selalu diberikan kesehatan. Semoga ia tumbuh menjadi anak yang salihah.

Lebih lanjut, saya pergi ke ATM. Saya mentransfer uang pensiun ibu.

Malam nanti saya ingin merelaksasi tubuh. Saya merencanakan untuk melakukan bekam.

Siasat Diksi

31 Juli 2026

Hari yang pendek, sependek anak berusia tiga tahun.

Pagi-pagi sekali sudah ada pesan masuk. Waktu baru menunjukkan pukul tujuh lewat. Seorang mahasiswa mengirim pesan WhatsApp. Ia minta janjian untuk urusan KRS. Saya membalas pesan tersebut. Saya sampaikan bahwa KRS bisa dilayani mulai pukul delapan.

Hari ini yang mengurus KRS cukup beragam. Ada mahasiswa baru yang datang. Ada juga mahasiswa angkatan atas. Kepada para mahasiswa baru, saya memberikan sedikit nasihat. Tujuannya agar mereka lebih siap menghadapi perkuliahan nanti. Namun, perlakuan berbeda saya berikan kepada mahasiswa tingkat akhir. Terutama bagi mereka yang seharusnya sudah lulus. Saya langsung menceramahi mereka. Saya tegaskan agar mereka segera menyelesaikan kuliahnya.

Agenda selanjutnya adalah memeriksa dokumen. Saya mengecek ulang laporan akreditasi. Laporan untuk sekolah di Kecamatan Telen dan Kecamatan Busang. Keduanya berada di wilayah Kutai Timur.

Setelah itu, saya kembali membuka draf artikel jurnal. Saya melanjutkan proses pemangkasan (trimming) naskah. Tujuannya adalah untuk menyiasati sistem deteksi AI writing. Ternyata memang ada cara ampuhnya. Kuncinya ada pada perubahan diksi. Saya berfokus mengubah pilihan kata kerja utamanya. Saya cukup memanfaatkan thesaurus atau kamus sinonim. Trik ini terbukti lumayan efektif. Persentase deteksi tulisan AI bisa diturunkan.

Siang harinya, saya pergi melaksanakan salat Jumat. Ada hal yang menyenangkan hari ini. Ceramah Jumatannya tidak berlangsung lama. Durasinya sangat cepat dan padat. Ini benar-benar tipe khotib idaman.

Menjelang sore, sebuah kabar gembira datang. Buku cetak karya saya akhirnya tiba. Judulnya "Ambition, Failure, and Self-Destruction: A Psychological Reading of Kate Chopin's The Awakening". Buku materinya berasal dari naskah skripsi saya. Ini adalah buah pemikiran masa-masa kuliah S1 dulu.

Sewindu FIB

30 Juli 2026

Hari yang cerah.

Hari ini masih masa pengisian KRS. Sebagian mahasiswa bimbingan secara daring. Ada juga yang datang langsung menemui saya. Mahasiswa baru (maba) ternyata juga sudah mulai mengurus KRS. Di sela rutinitas ini, saya sempat mengobrol dengan beberapa rekan dosen. Kami membahas rencana tubel mereka ke depan.

Fokus hari ini tertuju pada perayaan Dies Natalis ke-8 FIB. Acaranya berlangsung sederhana. Kami sengaja tidak mengundang orang luar. Namun, suasananya tetap hangat. Ada penampilan istimewa dari Mas Whidas. Beliau menyanyikan lagu seriosa. Suaranya bagus sekali.

Menu makanan hari ini sangat beragam. Fakultas menyediakan hidangan utama. Rangkaian acara diwarnai dengan prosesi potong tumpeng. Ada juga sajian menu khas ikan harian. Setiap prodi juga ikut urunan. Ada yang sukarela membawa kue dan bihun.

Setelah perayaan, agenda berlanjut ke rapat persiapan PKKMB. Kami mematangkan rencana penyambutan maba. Ada sesi materi dari tingkat rektorat dan fakultas. Setelah itu, akan disusul pengenalan di prodi masing-masing.
Nantinya, maba FIB akan melakukan parade. Mereka akan berjalan dari depan gedung MPK menuju GOR untuk upacara pembukaan. Mereka harus sudah berangkat jam 6 pagi. Rangkaian acaranya cukup padat. Oleh karena itu, fakultas harus memprioritaskan kesehatan dan keselamatan maba.

Agak sore, saya lanjut mengikuti rapat pimpinan. Kami membahas beberapa ide strategis pengembangan fakultas. Salah satunya adalah rencana pembukaan prodi baru. Kami juga mendiskusikan rencana pembangunan gedung baru FIB.

Sore harinya, suasana kampus masih hidup. Saya melihat para maba sedang latihan yel-yel di lapangan FIB. Suara mereka terdengar kompak. Melihat semangat mereka, saya jadi berpikir. Mungkin latihan yel-yel semacam ini memang diperlukan. Apakah ini cara yang tepat untuk membentuk jiwa korsa mereka?

Gap WA

Hari yang enak. Mendung tapi tidak kunjung hujan.

Hari ini rutinitas administrasi berlanjut. Saya mengurus surat disposisi dari Dekan.

Urusan KRS mahasiswa juga belum selesai. Sebagian mahasiswa mengurus secara daring. Mereka sedang berada di lokasi KKN. Namun, ada juga yang datang langsung ke ruangan.

Di sela-sela kesibukan itu, sebuah laporan masuk. Ada sedikit kendala dalam proses pengusulan prodi baru. Syukurlah, masalah ini masih bisa diatasi dengan baik.

Kejadian paling menarik hari ini muncul di layar ponsel. Seorang mahasiswa baru Sastra Inggris angkatan 2026 mengirim pesan. Ia ingin berkonsultasi soal KRS.

Ketikan pesannya menggunakan gaya bahasa anak zaman now. Jurang komunikasi di antara kami terasa sangat jauh. Namun, sebagai generasi milenial, saya berusaha tetap santai. Saya mencoba untuk mulai membiasakan diri.

Hanya saja, momen ini membuat saya sadar satu hal. Bertahun-tahun menjadi dosen Sastra Inggris ternyata tidak banyak membantu. Dulu saya merasa hebat bisa menerjemahkan teks bahasa asing yang rumit. Hari ini, saya malah merasa butuh waktu untuk memahami bahasa mahasiswa saya sendiri.

Ospek Nyaman

Hari yang sama saja.

Hari ini masih mengurus administrasi. Saya melayani KRS mahasiswa. Prosesnya lewat daring. Mereka sedang sibuk KKN.

Ada hal menarik di kampus. Mahasiswa Sasindo menggelar pra-PKKMB. Pesertanya maba angkatan 2026. Nama kegiatannya "Maestro". Saya lupa kepanjangannya. Detail temanya juga lupa. Intinya tentang ekofeminisme. Ada kaitannya dengan alam dan mother earth.

Kegiatan semacam ini memang harus menyenangkan. Maba harus bahagia masuk Sasindo.

Momen ini memancing memori lama. Ingatan saya mundur ke tahun 2003. Saat itu saya maba Sasing UGM. Kakak panitia selalu mencari masalah.

Ada kejadian kocak saat upacara di lapangan. Terdengar aba-aba hormat pembina upacara. Barisan FIB malah disuruh duduk. Kami dibentak kakak panitia. Kami dilarang ikut hormat. Lucu sekali kalau diingat lagi.

Ospek zaman itu lumayan keras. Makin tua angkatannya, ospeknya makin ganas.

Ospek sekarang sudah berubah. Kegiatannya penuh pertimbangan HAM. Pendekatannya sangat lemah lembut.

Namun, ada ironi yang terlihat. Dulu mental mahasiswa diuji di lapangan. Sekarang, via medsos etika berbicara mahasiswa justru kurang. Ucapannya tidak terkontrol. Sangat mudah menemukan hinaan kasar. Contohnya sebutan "prabodoh subiantolol". Ini menular.

Bagi generasi milenial ke atas, ini sangat kurang ajar. Etika makin luntur. Sopan santun seolah hilang tak bersisa.

Realita ini memicu satu pertanyaan. Ospek keras kini hilang. Pendekatannya diganti menjadi serba lembut. Apakah ini justru melahirkan generasi dengan etika bicara yang makin brutal?

Dilema AI Detektor

Hari yang biasa, seperti kemarin dan kemarinnya lagi.

Hari ini ritme di FIB berjalan wajar, diawali dengan rutinitas akademik dan administratif. Beberapa mahasiswa datang untuk urusan KRS, disusul dengan sesi bimbingan skripsi bersama dua mahasiswa—satu berdiskusi intens terkait pengambilan data, sementara satu lagi mematangkan draf proposalnya. Di sela-sela urusan kemahasiswaan tersebut, saya juga merampungkan disposisi surat pimpinan dan menerima undangan untuk kegiatan PKKMB mendatang.

Namun, bagian paling menguras energi sekaligus memancing perenungan hari ini terjadi saat saya harus membereskan draf artikel jurnal.

Masalah bermula ketika naskah jurnal tersebut ternyata terlalu panjang dan melebihi batas kata yang ditentukan (maksimal 7000 kata). Untuk efisiensi waktu, saya memanfaatkan bantuan AI, namanya Paperpal, untuk menyeleksi dan memangkas (trimming) kalimat-kalimat yang bertele-tele agar tulisan menjadi lebih padat dan presisi.

Ironisnya, setelah naskah dirapikan, saya malah dihadapkan pada masalah baru: teks tersebut terdeteksi dengan skor AI writing yang tinggi, menurut Turnitin.

Ini menjadi sebuah dilema dan paradoks dalam penulisan akademik modern. Gagasan, alur pikir, data, dan draf mentahnya seratus persen murni tulisan manusia hasil pemikiran saya sendiri. Namun, hanya karena saya menggunakan tools pemroses bahasa—seperti Grammarly dan Paperpal— untuk mengoreksi tata bahasa (grammar check) dan menyempurnakan struktur sintaksisnya, algoritma detektor langsung menyimpulkan bahwa itu adalah teks buatan mesin seutuhnya. Detektor seolah gagal membedakan mana teks yang digenerasi (diciptakan dari nol oleh AI) dan mana teks manusia yang hanya "dipoles" tata bahasanya.

Alhasil, sisa waktu hari ini terpaksa saya habiskan untuk mengedit manual, mengubah kembali beberapa struktur kalimat, dan mengganti diksi pakai thesaurus demi menurunkan persentase deteksi AI tersebut. Sebuah pekerjaan dua kali, namun menjadi pengingat yang bagus bahwa secerdas apa pun alat bantu digital merapikan grammar, sentuhan dan "ruh" tulisan manusia (human writing) tetap membutuhkan intervensi langsung dari penulisnya.