Ospek Nyaman

Hari yang sama saja.

Hari ini masih mengurus administrasi. Saya melayani KRS mahasiswa. Prosesnya lewat daring. Mereka sedang sibuk KKN.

Ada hal menarik di kampus. Mahasiswa Sasindo menggelar pra-PKKMB. Pesertanya maba angkatan 2026. Nama kegiatannya "Maestro". Saya lupa kepanjangannya. Detail temanya juga lupa. Intinya tentang ekofeminisme. Ada kaitannya dengan alam dan mother earth.

Kegiatan semacam ini memang harus menyenangkan. Maba harus bahagia masuk Sasindo.

Momen ini memancing memori lama. Ingatan saya mundur ke tahun 2003. Saat itu saya maba Sasing UGM. Kakak panitia selalu mencari masalah.

Ada kejadian kocak saat upacara di lapangan. Terdengar aba-aba hormat pembina upacara. Barisan FIB malah disuruh duduk. Kami dibentak kakak panitia. Kami dilarang ikut hormat. Lucu sekali kalau diingat lagi.

Ospek zaman itu lumayan keras. Makin tua angkatannya, ospeknya makin ganas.

Ospek sekarang sudah berubah. Kegiatannya penuh pertimbangan HAM. Pendekatannya sangat lemah lembut.

Namun, ada ironi yang terlihat. Dulu mental mahasiswa diuji di lapangan. Sekarang, etika mahasiswa di medsos justru hancur. Ucapannya tidak terkontrol. Sangat mudah menemukan hinaan kasar. Contohnya sebutan "prabodoh subiantolol".

Bagi generasi milenial ke atas, ini sangat kurang ajar. Etika makin luntur. Sopan santun seolah hilang tak bersisa.

Realita ini memicu satu pertanyaan. Ospek keras kini hilang. Pendekatannya diganti menjadi serba lembut. Apakah ini justru melahirkan generasi dengan etika bicara yang makin brutal?

0 comments:

Post a Comment