Siasat Diksi

31 Juli 2026

Hari yang pendek, sependek anak berusia tiga tahun.

Pagi-pagi sekali sudah ada pesan masuk. Waktu baru menunjukkan pukul tujuh lewat. Seorang mahasiswa mengirim pesan WhatsApp. Ia minta janjian untuk urusan KRS. Saya membalas pesan tersebut. Saya sampaikan bahwa KRS bisa dilayani mulai pukul delapan.

Hari ini yang mengurus KRS cukup beragam. Ada mahasiswa baru yang datang. Ada juga mahasiswa angkatan atas. Kepada para mahasiswa baru, saya memberikan sedikit nasihat. Tujuannya agar mereka lebih siap menghadapi perkuliahan nanti. Namun, perlakuan berbeda saya berikan kepada mahasiswa tingkat akhir. Terutama bagi mereka yang seharusnya sudah lulus. Saya langsung menceramahi mereka. Saya tegaskan agar mereka segera menyelesaikan kuliahnya.

Agenda selanjutnya adalah memeriksa dokumen. Saya mengecek ulang laporan akreditasi. Laporan untuk sekolah di Kecamatan Telen dan Kecamatan Busang. Keduanya berada di wilayah Kutai Timur.

Setelah itu, saya kembali membuka draf artikel jurnal. Saya melanjutkan proses pemangkasan (trimming) naskah. Tujuannya adalah untuk menyiasati sistem deteksi AI writing. Ternyata memang ada cara ampuhnya. Kuncinya ada pada perubahan diksi. Saya berfokus mengubah pilihan kata kerja utamanya. Saya cukup memanfaatkan thesaurus atau kamus sinonim. Trik ini terbukti lumayan efektif. Persentase deteksi tulisan AI bisa diturunkan.

Siang harinya, saya pergi melaksanakan salat Jumat. Ada hal yang menyenangkan hari ini. Ceramah Jumatannya tidak berlangsung lama. Durasinya sangat cepat dan padat. Ini benar-benar tipe khotib idaman.

Menjelang sore, sebuah kabar gembira datang. Buku cetak karya saya akhirnya tiba. Judulnya "Ambition, Failure, and Self-Destruction: A Psychological Reading of Kate Chopin's The Awakening". Buku materinya berasal dari naskah skripsi saya. Ini adalah buah pemikiran masa-masa kuliah S1 dulu.

0 comments:

Post a Comment