Hujan Timbil

4 September 2026

Alhamdulillah, kabarnya kawasan Loa Janan di Samarinda sudah diguyur hujan. Semoga saja kabut asap segera berkurang. Selain itu, air Sungai Mahakam juga bisa kembali terisi. Kadang saya berpikir, jangan-jangan Samarinda ini terkena kutukan akibat masifnya penebangan pohon. Kota ini punya Sungai Mahakam yang sangat besar. Namun, kalau tidak turun hujan, kita malah kekeringan. Lalu, begitu musim kemarau panjang, kebakaran hutan merajalela. Padahal, katanya kota ini masih dikelilingi banyak hutan. Tetapi, hujan sedikit saja bisa langsung memicu banjir. Kondisi ini memang terasa aneh dan sangat membingungkan.

Kegiatan pagi ini lumayan padat. Padahal, hari Jumat ini jadwalnya WFA atau bekerja dari mana saja. Pagi ini saya harus mengajar kelas pengganti. Sebab, kemarin jadwalnya sempat libur dan minggu depan saya berencana pergi ke Kutai Timur. Tentu saja, kelas pengganti ini sebenarnya tidak nyaman. Saya harus repot mencari waktu kosong lagi untuk mengajar. Mahasiswa pun juga merasakan hal yang sama. Mereka harus meluangkan waktu yang seharusnya bisa dipakai untuk kegiatan lain. Namun, saya tetap mengadakan kelas ini. Karena, materi untuk ujian tengah semester harus tuntas tersampaikan. Sebetulnya, mahasiswa ini pasti sangat senang jika kelas dibiarkan kosong. Bahkan, rasanya mereka mau-mau saja kalau sekadar mengisi presensi tanpa ada perkuliahan.

Saat sedang mengajar, saya tiba-tiba dipanggil untuk rapat. Tetapi, saya menyelesaikan kelas terlebih dahulu. Setelah itu, saya baru bergabung dalam rapat pimpinan terbatas. Kami membahas beberapa agenda rencana kegiatan fakultas terdekat. Salah satunya adalah keikutsertaan mahasiswa tari FIB Unmul untuk ajang Peksiminas. Waktu pelaksanaannya tinggal menghitung hari. Selain itu, hari ini juga ada informasi penting yang ditunggu-tunggu. Pemilihan Rektor atau Pilrek Unmul akhirnya akan segera dilaksanakan setelah mengalami beberapa kali penundaan.

Siang harinya, saya melaksanakan salat Jumat di masjid kampus. Khatib hari ini menyinggung masalah pelayanan masyarakat. Beliau berpesan agar kita tidak mempersulit urusan orang lain. Isi ceramah ini terasa sangat cocok dan pas sasaran. Sebab, jemaahnya banyak yang berprofesi sebagai dosen dan tenaga kependidikan Unmul. Sebelum jadwal mengajar tadi, saya juga sempat membimbing dua orang mahasiswa. 

Saat ini, penggunaan AI memang menjadi tantangan baru. Padahal, artificial intelligence ini harus bisa dimanfaatkan oleh original intelligence alias otak manusia. Jangan sampai kita malah yang dimanfaatkan oleh AI. 

Setelah semua urusan kampus selesai, saya mulai menyiapkan berbagai keperluan untuk tugas ke Kutim.

Sore harinya, saya tiba di rumah saat waktu hampir Magrib. Istri saya ternyata sudah membelikan dan menyiapkan makanan. Menunya adalah nasi bebek dengan bumbu hitam yang terasa sangat enak.

Sudah tiga hari ini mata saya timbilan. Oleh karena itu, malam ini saya mau mencari salep mata di apotek. Dulu ada kenalan pegawai apotek yang pernah merekomendasikan satu obat andalan. Namanya adalah salep mata Erlamycetin.

Samarinda yang dikelilingi air tetapi bisa kekeringan ini memang seaneh otak manusia yang perlahan rela dikendalikan oleh kecerdasan buatan.

0 comments:

Post a Comment