Gap WA

Hari yang enak. Mendung tapi tidak kunjung hujan.

Hari ini rutinitas administrasi berlanjut. Saya mengurus surat disposisi dari Dekan.

Urusan KRS mahasiswa juga belum selesai. Sebagian mahasiswa mengurus secara daring. Mereka sedang berada di lokasi KKN. Namun, ada juga yang datang langsung ke ruangan.

Di sela-sela kesibukan itu, sebuah laporan masuk. Ada sedikit kendala dalam proses pengusulan prodi baru. Syukurlah, masalah ini masih bisa diatasi dengan baik.

Kejadian paling menarik hari ini muncul di layar ponsel. Seorang mahasiswa baru Sastra Inggris angkatan 2026 mengirim pesan. Ia ingin berkonsultasi soal KRS.

Ketikan pesannya menggunakan gaya bahasa anak zaman now. Jurang komunikasi di antara kami terasa sangat jauh. Namun, sebagai generasi milenial, saya berusaha tetap santai. Saya mencoba untuk mulai membiasakan diri.

Hanya saja, momen ini membuat saya sadar satu hal. Bertahun-tahun menjadi dosen Sastra Inggris ternyata tidak banyak membantu. Dulu saya merasa hebat bisa menerjemahkan teks bahasa asing yang rumit. Hari ini, saya malah merasa butuh waktu untuk memahami bahasa mahasiswa saya sendiri.

Ospek Nyaman

Hari yang sama saja.

Hari ini masih mengurus administrasi. Saya melayani KRS mahasiswa. Prosesnya lewat daring. Mereka sedang sibuk KKN.

Ada hal menarik di kampus. Mahasiswa Sasindo menggelar pra-PKKMB. Pesertanya maba angkatan 2026. Nama kegiatannya "Maestro". Saya lupa kepanjangannya. Detail temanya juga lupa. Intinya tentang ekofeminisme. Ada kaitannya dengan alam dan mother earth.

Kegiatan semacam ini memang harus menyenangkan. Maba harus bahagia masuk Sasindo.

Momen ini memancing memori lama. Ingatan saya mundur ke tahun 2003. Saat itu saya maba Sasing UGM. Kakak panitia selalu mencari masalah.

Ada kejadian kocak saat upacara di lapangan. Terdengar aba-aba hormat pembina upacara. Barisan FIB malah disuruh duduk. Kami dibentak kakak panitia. Kami dilarang ikut hormat. Lucu sekali kalau diingat lagi.

Ospek zaman itu lumayan keras. Makin tua angkatannya, ospeknya makin ganas.

Ospek sekarang sudah berubah. Kegiatannya penuh pertimbangan HAM. Pendekatannya sangat lemah lembut.

Namun, ada ironi yang terlihat. Dulu mental mahasiswa diuji di lapangan. Sekarang, via medsos etika berbicara mahasiswa justru kurang. Ucapannya tidak terkontrol. Sangat mudah menemukan hinaan kasar. Contohnya sebutan "prabodoh subiantolol". Ini menular.

Bagi generasi milenial ke atas, ini sangat kurang ajar. Etika makin luntur. Sopan santun seolah hilang tak bersisa.

Realita ini memicu satu pertanyaan. Ospek keras kini hilang. Pendekatannya diganti menjadi serba lembut. Apakah ini justru melahirkan generasi dengan etika bicara yang makin brutal?

Dilema AI Detektor

Hari yang biasa, seperti kemarin dan kemarinnya lagi.

Hari ini ritme di FIB berjalan wajar, diawali dengan rutinitas akademik dan administratif. Beberapa mahasiswa datang untuk urusan KRS, disusul dengan sesi bimbingan skripsi bersama dua mahasiswa—satu berdiskusi intens terkait pengambilan data, sementara satu lagi mematangkan draf proposalnya. Di sela-sela urusan kemahasiswaan tersebut, saya juga merampungkan disposisi surat pimpinan dan menerima undangan untuk kegiatan PKKMB mendatang.

Namun, bagian paling menguras energi sekaligus memancing perenungan hari ini terjadi saat saya harus membereskan draf artikel jurnal.

Masalah bermula ketika naskah jurnal tersebut ternyata terlalu panjang dan melebihi batas kata yang ditentukan (maksimal 7000 kata). Untuk efisiensi waktu, saya memanfaatkan bantuan AI, namanya Paperpal, untuk menyeleksi dan memangkas (trimming) kalimat-kalimat yang bertele-tele agar tulisan menjadi lebih padat dan presisi.

Ironisnya, setelah naskah dirapikan, saya malah dihadapkan pada masalah baru: teks tersebut terdeteksi dengan skor AI writing yang tinggi, menurut Turnitin.

Ini menjadi sebuah dilema dan paradoks dalam penulisan akademik modern. Gagasan, alur pikir, data, dan draf mentahnya seratus persen murni tulisan manusia hasil pemikiran saya sendiri. Namun, hanya karena saya menggunakan tools pemroses bahasa—seperti Grammarly dan Paperpal— untuk mengoreksi tata bahasa (grammar check) dan menyempurnakan struktur sintaksisnya, algoritma detektor langsung menyimpulkan bahwa itu adalah teks buatan mesin seutuhnya. Detektor seolah gagal membedakan mana teks yang digenerasi (diciptakan dari nol oleh AI) dan mana teks manusia yang hanya "dipoles" tata bahasanya.

Alhasil, sisa waktu hari ini terpaksa saya habiskan untuk mengedit manual, mengubah kembali beberapa struktur kalimat, dan mengganti diksi pakai thesaurus demi menurunkan persentase deteksi AI tersebut. Sebuah pekerjaan dua kali, namun menjadi pengingat yang bagus bahwa secerdas apa pun alat bantu digital merapikan grammar, sentuhan dan "ruh" tulisan manusia (human writing) tetap membutuhkan intervensi langsung dari penulisnya.