Korsa FIB

6 Agustus 2026

Pagi yang panas. Sepanas hoax bercampur tuduhan tanpa bukti.

Hari ini adalah hari kedua pelaksanaan PKKMB di fakultas. Pagi hari sempat terjadi sedikit gangguan. Namun, secara keseluruhan acaranya berjalan dengan lancar.

Di saat maba PKKMB, saya melayani mahasiswa lama yang mengurus KRS. Ada mahasiswa yang kini tinggal mengambil mata kuliah skripsi saja. Selain itu, saya juga melayani bimbingan skripsi secara daring. Ada dua orang mahasiswa yang bimbingan hari ini. Satu orang sedang bersiap untuk sempro. Sedangkan, satu orang lagi sedang berproses menuju pengerjaan bab 4.

Fakultas juga mulai melakukan persiapan lomba 17 Agustus. Seluruh warga FIB diminta untuk ikut menyumbang hadiah. Hal ini dilakukan demi memupuk rasa kebersamaan.

Kemudian, proses penyelesaian administrasi PKM juga masih berlanjut hari ini.

Siang harinya, saya mengikuti rapat bersama Wakil Rektor 4. Kami membahas program akselerasi dosen untuk studi lanjut S3. Nantinya, akan ada rencana intervensi dari pihak kampus. Dukungan ini akan mencakup bantuan pendanaan dan fasilitas lainnya. Snack rapat kali ini terasa sangat enak. Ada sajian kacang goreng, pisang rebus dan salad buah.

Setelah itu, agenda bersambung ke rapat pimpinan. Kami membahas berbagai rencana kegiatan FIB ke depan. Ada rencana pelatihan konseling dan pelatihan penulisan jurnal internasional bagi para dosen. Selanjutnya, kami juga merencanakan pelatihan kesehatan mental untuk mahasiswa, serta penyelenggaraan kuliah umum.

Setelah rapat, Bapak Dekan mentraktir kami. Menunya adalah kue pare berendam, lapis cokelat, dan risoles. Semuanya terasa sangat enak.

Menjelang magrib, saya pulang ke rumah dan makan enak. Hidangannya sangat lengkap hari ini. Ada lele goreng, oseng kerang, dan sayur bobor bayam. Ditambah lagi, ada tahu dan tempe bacem.

Setelah seharian rapat akeselerasi S3 hingga isu kesehatan mental, bukankah sepiring lele goreng dan bobor bayam di meja makan adalah bentuk terapi penyembuhan mental yang sampai?

Filosofis Asap

5 Agustus 2026

Hari yang gasik.

Hari ini adalah acara pembukaan PKKMB FIB Unmul. Acara ini mengusung tema "Ngasapi Lawas". Tema tersebut ditafsirkan sebagai upaya menyingkap budaya tersembunyi. Selain itu, ini juga bermakna menghidupkan kembali tradisi.

Secara harfiah, "ngasapi" adalah tindakan membakar sesuatu agar menghasilkan asap. Praktik semacam ini bisa ditemukan pada Suku Kutai di daerah Kedang Ipil. Ritual tersebut merupakan bentuk rasa syukur menjelang masa panen. Sementara itu, "lawas" bermakna kuno atau tradisi lama. Oleh karena itu, maknanya menjadi sangat dalam jika digabungkan.

Setelah acara pembukaan, saya kembali ke ruangan. Saya melanjutkan rutinitas disposisi surat. Isinya masih seputar peminjaman sarana prasarana. Kemudian, ada juga urusan persetujuan konsumsi.
Selanjutnya, saya memaraf beberapa surat. Surat-surat ini nantinya akan ditandatangani oleh Dekan. Beberapa di antaranya adalah permohonan perpanjangan tugas belajar. Ada pula surat rekomendasi untuk lanjut studi. Sebenarnya ada beberapa surat lain, tetapi saya sudah tidak ingat detailnya.

Siang harinya, saya makan dengan menu Bebek Carok. Bumbu hitamnya sangat gurih. Ditambah lagi, paduan sambal mangganya juga luar biasa enak.

Kemudian, ada kabar yang cukup melegakan di kampus. Para dosen akhirnya sudah merampungkan urusan administrasi mereka. Tepatnya, kelengkapan berkas terkait pelaksanaan penelitian dan PKM.

Menjelang sore, saya pulang. Orang rumah menitipkan sebuah pesanan. Saya diminta membelikan pentol keju di Jalan Pramuka. Anak-anak saya memang sangat menyukai pentol tersebut.

Akhirnya, saya tiba di rumah. Saya langsung menyantap makan. Menunya bukan sederhana, yaitu sayur asem, sambal, dan lele goreng. Alhamdulillah, rasanya sangat nikmat.

Setelah pagi hari sibuk meresapi filosofi kepulan asap "Ngasapi Lawas", adakah kepulan asap yang lebih nikmat selain dari mangkuk sayur asem di meja makan rumah?

Inflasi IPK

4 Agustus 2026

Hari yang cerah, untuk orang-orang yang ingin mendung.

Hari ini saya kembali melayani urusan KRS. Mahasiswa baru dan mahasiswa lama datang bergantian. Bagi mahasiswa dengan IPK di atas 3,5, prosesnya saya anggap lancar. Namun, bagi mereka yang IPK-nya 3,0 lebih sedikit, saya ajak mengobrol sedikit. Kami berdiskusi tentang bagaimana mengatur prioritas kuliah.

Momen ini membuat saya sedikit bernostalgia. Zaman saya kuliah dulu, angka IPK 3,0 lebih itu sudah bagus. Akan tetapi, zaman memang sudah berubah. Saat ini, IPK segitu justru tergolong kurang. Sepertinya, dosen zaman sekarang jauh lebih enteng dalam nilai.

Setelah itu, saya beralih mengurus administrasi fakultas. Saya menyelesaikan tumpukan disposisi dari dekan. Topiknya berkisar pada urusan peminjaman sarana prasarana. Selain itu, ada juga urusan persetujuan usulan pembiayaan.

Siang harinya, saya makan siang dengan menu pentol. Rasanya ternyata lumayan enak. Apalagi, varian isiannya cukup beragam. Ada pentol isi jamur, isi keju, dan juga isi telur.

Selesai makan, saya kembali fokus pada urusan akreditasi. Saya mengirimkan catatan validasi kepada sejawat asesor. Di dalamnya, ada catatan tentang beberapa butir yang terlewat diisi. Selain itu, ada dokumen pakta integritas yang tertukar dan belum diunggah. Meskipun begitu, masalah ini bisa jadi akibat error pada sistem. Selanjutnya, saya juga memberikan saran terkait penggunaan diksi untuk menyusun rasional penilaian akreditasi sekolah.

Di sela-sela kesibukan itu, ada sebuah diskusi singkat. Kami membahas pembiayaan kegiatan PKM para dosen.

Sore harinya, saya akhirnya pulang ke rumah. Saya mencoba makan pisang susu yang direbus. Ide ini murni muncul gara-gara saya melihat konten di TikTok. Biasanya, hanya pisang kepok yang lumrah direbus. Tetapi, ternyata rasa pisang susu rebus ini enak juga.

Melihat rentetan kejadian hari ini, saya jadi menyadari satu hal. Ternyata, bukan cuma standar nilai IPK mahasiswa saja yang kini gampang lunak. Prinsip ngemil saya rupanya juga ikut-ikutan gampang lunak hanya karena racun dari TikTok.