23 Oktober 2026
Hari ini hari Jumat. Cuacanya terasa hangat, sehangat asap yang menyapu kulit wajah.
Pagi ini saya ada janji bimbingan dengan dua orang mahasiswa. Saya sudah menginformasikan di grup WA bahwa saya ada rapat pukul 08.30, sehingga waktu bimbingan hanya tersedia sebelum itu. Kejadian setelahnya cukup unik. Pukul 08.26, salah satu mahasiswa baru membalas WA dan menyatakan berhalangan hadir. Satu mahasiswa lagi sama sekali tidak ada konfirmasi, sampai saya masuk rapat pun saya tidak tahu apakah dia jadi bimbingan atau tidak.
Selesai rapat, waktu sudah mendekati salat Jumat. Ternyata, mahasiswa yang satu lagi itu dari tadi menunggu saya di tempat duduk bagian luar, bukan di ruang tunggu utama. Padahal kalau di ruang tunggu, pasti ada staf yang melihat dan menanyakan keperluannya. Dua kejadian pagi ini sungguh langka. Baru kali ini ada mahasiswa yang membatalkan janji bimbingan di menit akhir; biasanya saya yang melakukannya jika ada urusan mendadak. Untuk mahasiswa yang menunggu tadi, padahal solusinya sangat mudah: tinggal WA saya. Tapi sudahlah, sepertinya saya memang harus beradaptasi dengan dinamika mahasiswa zaman sekarang. Bimbingan akhirnya tetap berjalan, meski agak tergesa-gesa karena azan Jumat sudah mau berkumandang.
Sebelum ke masjid, saya menyempatkan diri membeli pentol. Selesai salat Jumat, saya membungkus ayam kecap di daerah Jalan Perjuangan. Saya pesan lauk ayam dan hati, harganya hanya Rp 16.000.
Ayam kecap itu saya makan di kantor. Rasanya enak. Selesai makan, saya dipanggil oleh Dekan untuk mengobrol sebentar.
Sore harinya saya pulang. Sampai di rumah, istri sudah menyiapkan sayur bayam, kepala ayam goreng, dan lele goreng. Karena perut masih kenyang efek ayam kecap tadi siang, saya memutuskan untuk tidak langsung makan. Rencananya, malam ini baru saya akan mengeksekusi masakan istri tersebut.
Dinamika Bimbingan Ayam Kecap.
0 comments:
Post a Comment