Setop Kaldu Jamur

10 Oktober 2026

​Hari ini adalah hari Sabtu. Seharusnya ini menjadi hari libur. 

Awalnya, saya berencana untuk mengopi di kafe. Namun, rencana tersebut akhirnya batal. Pagi ini saya justru harus mengerjakan validasi akreditasi. Ada data yang telat muncul di sistem. Oleh karena itu, berkasnya baru bisa dicek dan divalidasi hari ini.

​Sekitar jam sepuluh, saya sarapan. Saya meminta istri untuk membuatkan pecel. Kebetulan, saya sedang sangat ingin makan rebusan pare. Kemudian, istri menambahkan kembang turi dan bayam. Selain itu, istri juga menggorengkan ayam. Selesai makan, saya langsung tidur siang. Saat saya terbangun, istri ternyata sudah membelikan gorengan tahu isi sayur.

​Sementara itu, anak pertama saya ada kegiatan di sekolah. Ia harus praktik menyembelih ayam sekaligus memasaknya. Ia baru tiba di rumah pada jam enam sore.

​Sehabis magrib, saya menggoreng telur dadar. Telur ini dimasak untuk lauk tambahan pecel. Mulai minggu ini, saya berencana menyetop penggunaan kaldu jamur. Sebab, informasi di media sosial menyebutkan kandungan natriumnya sangat tinggi. Jadi, bumbu telur kali ini diganti dengan garam, micin, dan kecap asin. Ternyata, rasanya tetap enak.

​Malam harinya, anak-anak minta dibelikan kebab. Istri juga menitip pesan untuk dibelikan sarabba. Sedangkan saya sendiri memilih untuk membeli martabak telur. Alhamdulillah, semua makanannya enak dan perut pun kenyang.

​Kaldu jamur boleh disetop demi kesehatan, tetapi martabak telur tetap jalan terus.

0 comments:

Post a Comment